You are currently browsing the monthly archive for September 2003.

Wanita itu, dia menelponku lagi pagi tadi dan malam ini. Aku sudah mengatakan pada diriku sendiri untuk tidak mengingatnya lagi. Keputusan ini sudah lama aku bulatkan, ketika aku tahu dunianya begitu bising oleh derap langkah kaki sejumlah lelaki yang datang mengetuk pintu kamarnya. Aku terlalu sombong utuk menjadi bagian dari mereka. Aku menilai, dia memelihara lelaki-lelaki itu agar dirinya tetap menjadi ratu untuk kemudian dijatuhkannya undi atas mereka. Maaf, Sas, saya terlalu mahal untuk sebuah undian; Saya terlalu sombong untuk jatuh iba pada airmatamu….;Saya terlalu berharga untuk ikut serta dalam permainanmu.

Iklan

Sebuah sms masuk di HP-ku, “Jangan ketawa ya..imelku tomatto_chayang@…..com” Hahahahaha…. Siapa yang bisa nahan ketawa mbaca imel seganjen itu?! Seketika, tergambar di benakku sosok gadis itu. Pipinya tembem bersemu merah karena panas matahari.

Aku bertanya tentang imelnya karena berjanji mengirim sesuatu yang dia minta. Ketika dia menelponku beberapa hari lalu, dia urung memberikan alamat imelnya karena menurutnya aku pasti tertawa. Aku tak mampu meyakinkannya bahwa aku tidak akan tertawa.

“Semua orang selalu tertawa. Aku nggak yakin kamu gak akan ketawa. Udah ah, ntar aku sms-in aja,” katanya.
“Kalopun nanti kamu tertawa, yang penting aku gak denger,” tandas dia.

“Hahahaha……,” aku tak kuasa menahan tawa mendengar nada suaranya yang seperti menyimpan kecemasan.
“Tuh, kan, belum dikasih unjuk aja udah ketawa.”
“Ya, kalo gak mau diketawain, ganti donk imelnya,” kataku.
“Nama itu bersejarah tau!”

Kemarin malam, di teras rumahnya yang asri, Si Tomat bercerita tentang sejarah nama itu. Ketika dia berjuang menyelesaikan skripsinya di Universitas Diponegoro Semarang, ibunya khawatir akan kondisi kesehatannya.
“Waktu itu, ibu menemani aku di kost. Dia khawatir banget sama anaknya yang hampir tiap hari cuma tidur 2-3 jam. Kadang aku ketiduran di meja gambar lho,” tuturnya.

Melihat betapa keras putri sulungnya berjuang, Si Ibu membelikan tomat. Maksudnya, supaya ada suplemen tambahan buat sang putri tercinta. Tapi, dasar anaknya gak doyan makan buah, tomat-tomat itu tetap tersimpan di kulkas.
“Setiap hari ibu ngingetin aku untuk makan tomat. Tapi, karena sibuk dan emang dasarnya aku gak suka makan buah, aku selalu lupa,” kata dia.

Suatu pagi, saat Si Tomat masih tidur, si Ibu pergi keluar untuk suatu keperluan. Namun, ia tak lupa untuk mengingatkan anaknya tentang tomat yang belum tersentuh itu. Caranya: dia menulis besar-besar “TOMAT” di pintu kamar anaknya.

Terang saja tulisan itu mengundang sejuta tanya dari teman-teman se-kost, what the maksud? Kebetulan, pagi itu, cowok Si Tomat dateng ke kost. Dia juga bingung melihat tulisan dengan spidol merah di pintu kamar kekasihnya itu. Diketuknya pintu kamar Si Tomat. Saat Si Tomat keluar dengan wajah kusut bangun tidur, serentak teman-teman sekostnya berteriak “TOMAAATTTTT…..”

“Trus, abis itu cowokku bilang, mulai sekarang aku panggil kamu Tomat ya….,” katanya sambil tersenyum.

Kisahnya belum usai.
“Aku membaca Anand Khrisna, Anthony de Mello, Khrisnamurti, Tuesdaylobsangrampa, James Redfield. Aku pernah bergabung dengan Komunitas Subut. Namun aku menemukan apa yang kucari di Karmel,” ujar dia.

Malam semakin larut, meski satu hari belum tutup. Bab lain dari kisahnya yang panjang masih tersimpan untuk esok hari. Angin yang dingin berdesir lembut. Aku pamit pulang. Gemericik air dari pancuran kayu di taman depan rumahnya yang mungil lamat terdengar saat aku menjauh meninggalkan rumahnya di pojok Selatan Jakarta.

Berth called me last night. As usual, she told me about Jim angrily. She said that she hated him. Jim is not actually her boyfriend. They have become friends for some time but they have no commitment for a more serious relationship.

“I hate him. He makes me very angry from time to time. I swear, I will never call him anymore. It is over,” she remarked, emotionally.

You know, it was not the first time she said that. Usually, she would call me again one week later and said,” I miss him.” Then, they reconciled.

The strange thing is they often make fuss about something unimportant. Their last debate, which was incited by a message, exemplified it well.

Berth sent a sms to Jim, reading “Hi honey, what are you doing now?” Her message was not replied in 30 minutes. Impatient, she sent another one: “Are you too busy to reply my message?”

He replied her last message immediately. “We both are grown up. I don’t think you have to send me a message like that. I am not a child, do I make myself clear?”

Berth got angry and sent a message to him: “I will not send you a message for whatever the reason is and I will not call you anymore.”

Having sent the message, she set her cellular phone off.

“What is wrong with my message? I love him very much. I care about him. I can’t ignore this feeling. I missed him that day and wanted to know what he was doing. Am I wrong?,” she cried.

Is love always meant to hurt each other?

Berth knows how bad Jim is as a man. He often makes love with a prostitute. Jim tells her about it.

One night, he even called Berth only to say, “I am in a hotel and having sex with a prostitute. Don’t be angry. I am doing it because you have never allowed me to have sex with you.”

Berth could say nothing. She called me and cried, bitterly. “Do you think I should give my virginity to him?”

I told her, “Give it to him and you will be a garbage. Berth, leave him. Open your heart, open your mind, open your eyes, the world is not as small as you think.”

I don’t know whether Berth leaves Jim away this time. I am not sure. I am still waiting for her next call. I guess, she would say, “Mbonk, I miss him”, as usual.

“Mungkin aku gak bisa merasakan motor barumu, karena aku nanti sudah akan naik mobil…..,” ujar Dien. Matanya nakal mengerling mengejekku…

Hahahahahhaha……senang sekali mendengarnya. Aku berdoa untuk kamu Dien. Meskipun pasti akan ada yang hilang, tapi aku berdoa supaya kamu selekasnya bisa naik mobil. Andai aku bisa menentukan pilihan itu, sekarang juga akan kuubah garis tanganmu.

*** Itu sepenggal cerita setahun lalu. Di sudut lobby di sebuah hotel di Jakarta kami saling bertutur tentang mimpi.***

“Aku tak pernah mau bicara tentang berandai-andai. Itu hanya akan membawa rasa sakit,” Dien berujar pelan. Matanya menerawang. Aku tahu, dia mempersempit aliran harapan yang berdesakan di dadanya. Dien takut kecewa. Gadis kecil itu seperti tidak pernah memberi tempat pada mimpi. Baginya kehidupan seperti roda bola api yang melayukan daun-daun. Tak ada ruang bagi tumbuhnya harapan. Yang ada cuma kepasrahan yang lunglai di sudut jalan menunggu datangnya keajaiban

***Tapi keajaiban itu datang. Dien sekarang bekerja di tempat yang dia impikan itu. Ia tidak lagi berpanas-panas dan berhujan-hujan mbonceng motorku. Tapi ia masih sempat merasakan motor baruku selama beberapa bulan.***

Keajaiban. Ia belum datang menghampiriku. Pernahkah kamu berada pada sebuah garis demarkasi yang tidak bisa kamu langkahi. Garis itu adalah batas antara titik maksimal perjuangan dan mimpimu. Pada batas itu yang bisa kamu lakukan cuma menunggu. Ya, menunggu. Cuma menunggu. Karena sepertinya hidup ini adalah paduan antara perjuangan dan keajaiban itu tadi. Sekeras apapun kamu berjuang tapi kalau keajaiban itu sedang tidak bersahabat dengan kamu, kamu tidak bisa berjabat tangan dengan mimpi di seberang garis demarkasi yang tidak bisa kamu langkahi itu.

***Sebatang rokok. Secangkir kopi. Malam yang dingin saat aku terkenang Dien.***

tak lagi kuingat
ada mangkuk teratai
di pinggir perigi
jarum-jarum jam di menara kota
mematuk-matuk pantat
menghembuskan energi yang melilit
ah, cuma cinta semusim pikirku
lihat: burung walet pun pergi dengan tak acuh

Today is my father’s birthday. He turns 63 years old. I has bought him a watch. His seiko, which he had bought at Rp 10,000 in 1970,has broken.

“Happy Birthday, Sir?”

“What is it Son?” he asks, curiously, when i am handing over a gray box to him this morning.

“Open it Sir. I hope you will like it.”

“Hahaha….I am curious to know…”

I have never given any gift to him before, even in his B’day. Actually, celebrating birthday is not our family’s tradition.

This morning, I want the old man feels special in his special day….

He opens the box slowly..

“Wow…” His eyes open wide.

“You know Son, my Seiko has broken two years ago…”

“I know sir. That is why I bought it for you to change your Seiko.”

He stays silent and says nothing for a moment. His tears are falling down as he hugs me warmly….

Happy Birthday Dad…

Apa yang kau harapkan dari sepenggal kehidupan yang tak memberimu kepastian? Rasa sakitkah? Di sini. Dalam. Menancap, sesak! Seperti menjepit setiap tarikan napasmu.

Ada padamu separuh kisah yang tak sempat kau tulis. Baunya wangi seperti kuntum bunga matahari. Kau merajutnya dalam tiap tarikan napasmu sepanjang hari. Membaui mimpi di kucir rambutnya yang hitam, kau melihat peluh di dahinya. Jantungmu berdetak meninggalkan kebekuan pada jarimu yang tak sanggup menyentuhnya.

Dimanakah letaknya harapan? Di sini, di kedalaman hati yang menyimpan ketakutan. Seperti burung migran, hatimu tak ubahnya sebuah musim. Ada penantian yang kau tak tahu kapan datangnya. Kau tak bisa mendusta pada kejujuran. Kedamaian dan kesunyian demikianlah adanya.

Tapi musim kemarau terlalu panjang, melayukan daun-daun di pinggir jalan. Cuma ada sisa ranting kering yang patah diinjak orang. Kapankah pergantian musim akan datang?…

Doaku tak mampu menjawabnya…..

Apa yang membuat manusia berbeda? Manusia adalah manusia. Lelaki dan perempuan. Suku, agama, ras, dan golongan tidak pernah bisa mengingkari kemanusiaan ini. Tapi, kenapa manusia tak acap duduk satu meja atas nama manusia. Kenapa masih ada manusia yang tidak mencintai anak manusia atas nama manusia.

Masih perlukah kita bicara saya katholik, kamu muslim, engkau budha, dikau hindu. Masih perlukah masyarakat memicingkan mata saat memandang manusia lain yang pada dompetnya tertera tidak satu agama.

Apakah agama itu menyatukan manusia? Omong kosong. Religiusitaslah yang menyatukan. Menyesatkan air liur para ulama dan pendeta yang otak dan hatinya dangkal seperti selokan.

menatap bulan, katamu, beda dengan menatap bintang
tapi kita menengadah ke atas mendongakkan kepala
membiarkan urat darah menggumpal
pada nadi di leher kepala

aku membaca mantra
kamu menyemat dupa
masih perlukah lagi kata-kata
saat air liurku berbusa menawarkan racun
pada tulang sendimu yang patah

lihatlah anak kecil di tetek ibunya
dia tidak pernah memilih menjadi anak siapa
baginya kehidupan adalah paripurna
murni seperti susu ibu yang mengalirkan nirmala

aku khawatir kita sedang berdusta
menunggu ibu hawa tidak mengulang dosa

Lembayung tua di ujung Barat
wajahnya pucat
menanti dupa kau semat
di mezbah doamu

Tuhan tidak menunggumu
dengan takdir tergores
di telapak tangannya
Dia menunggumu berlari
menggores takdirmu sendiri
dengan belati di atas bumi

Jangan bermimpi
bunga mawar tumbuh di belakang rumahmu
Ambilah rabuk
Lemparkan ke atas langit
Angin dan bintang-bintang tahu
kepada siapa harus
memberi restu

My friend, Ron, told me about a new business he wanted to do: to be a fresh tea distributor. I said to him, it was not an easy business. He had to go around Jakarta to find a stall that would take his fresh tea. More than that, it was a small change business.

“I know,” he said. “But, I have no choice. I must do something. I need money. I can’t stay at home all day without doing anything. Do you have another choice for me to earn money?”

I could not answer that question.

Ron was my old friend. We had live together at the dormitory for one year in senior high school. We had not met for many years and got close just only in the last of two years. He taught me to appreciate my life.

***

Ron father died when he was child. His mother had worked hard to support her three children. Ron had grown up as a naughty boy. He was a king of absence and had repeated class in junior and senior high school. I had never heard about him after passed senior high school.

***

In the year 2000, we met again. Ron changed. He looked calmer and come of age.
“I work at a telecommunication company while taking evening classes,” he told me.

It was surprising that Ron used to hate academy was taking evening classes.

***

Ron finished his program.

***

One night, Ron told me that he had a problem in his relationship with his girlfriend, Win. His would-be parents-in-law had demanded that he had a house of his own before marrying their daughter.

The good news was they had given help to buy a house on hire purchase. They had advanced the money for deposit of the house. So, Ron and Win had just to pay for the loan every month.

The bad news was that the house which had been taken by Win’s parents was too expensive. They had taken a type 72 house. Ron and Win had to spent Rp 1,4 million a month for the credit. Win did not work yet. She has been specializing as a dentist.

So, for the sake of love, Ron spent Rp 1,2 million while his salary only Rp 1,6 million a month and Win bore the rest. For the sake of love, Ron had to struggle with Rp 400 thousands a month.

***

One night, Ron told me some good news. He got a new job at high salary as an assistant manager in a chemistry company. For that job, he got Rp 6 million a month.
“Congratulation Buddy,” I said.

***

One night, holding a bottle of Tequila in his hand he told me sadly, ”I am fired.”

It was only three months ago when I said to him “Congratulation Buddy” and that night I saw him drunk.
“I didn’t pass the probation period,” his voice became soft and deep.

His boss thought, he was not the right man for the position.

***

One week later, Ron sent me a message to my cellular phone.
“I am starting a fresh tea business. I am trying to be a distributor.”

I tried not to imagine his would be parents-in-law, his girlfriend Win, and their type 72 house.