Seperti apakah rasanya bahagia? Adakah manusia yang bertemu dengan mimpinya kala ia bangun dari tidur. Mimpi seperti sketsa yang kau ukir pada dinding bulan.Bilur-bilur garisnya akan hilang waktu pagi menjelang. Mimpi itu seperti bayang-bayang. Kau bisa menciptakannya, namun, kau tak pernah sanggup memegangnya.

Terlukis dibenakmu, gadis mungil berbaju putih. Seperti merpati, malu-malu di dahan pohon jambu. Padanya kau berkata betapa pedihnya kejujuran yang kau simpan.
“Aku tak percaya ada orang yang mampu menghargai kejujuranku,” kataku.
“Karena itukah kau berikan kejujuranmu hanya padaku?” tanya dia lugu.
“Aku percaya, kau mau menyimpannya.”

Begitulah, aku berikan kejujuran itu padanya. Ketika kamu mencintai seseorang, hanya yang terbaiklah yang akan kau berikan pada orang itu. Setelah aku menimbang cukup lama, sesuatu yang terbaik yang aku miliki adalah kejujuranku.

Tapi toh, itu tak mampu membeli mimpiku malam ini. Hari pagi selalu datang. Mimpiku hilang di balik awan. Kudengar kicau burung Murbai. Mereka nampak girang. Aku curiga mereka mencuri mimpiku setiap malam. Aku ambil senapan anginku. Biar mereka tahu, bagaimana rasanya menjadi teman sarapan pagiku.

Iklan