Apa yang membuat manusia berbeda? Manusia adalah manusia. Lelaki dan perempuan. Suku, agama, ras, dan golongan tidak pernah bisa mengingkari kemanusiaan ini. Tapi, kenapa manusia tak acap duduk satu meja atas nama manusia. Kenapa masih ada manusia yang tidak mencintai anak manusia atas nama manusia.

Masih perlukah kita bicara saya katholik, kamu muslim, engkau budha, dikau hindu. Masih perlukah masyarakat memicingkan mata saat memandang manusia lain yang pada dompetnya tertera tidak satu agama.

Apakah agama itu menyatukan manusia? Omong kosong. Religiusitaslah yang menyatukan. Menyesatkan air liur para ulama dan pendeta yang otak dan hatinya dangkal seperti selokan.

menatap bulan, katamu, beda dengan menatap bintang
tapi kita menengadah ke atas mendongakkan kepala
membiarkan urat darah menggumpal
pada nadi di leher kepala

aku membaca mantra
kamu menyemat dupa
masih perlukah lagi kata-kata
saat air liurku berbusa menawarkan racun
pada tulang sendimu yang patah

lihatlah anak kecil di tetek ibunya
dia tidak pernah memilih menjadi anak siapa
baginya kehidupan adalah paripurna
murni seperti susu ibu yang mengalirkan nirmala

aku khawatir kita sedang berdusta
menunggu ibu hawa tidak mengulang dosa

Iklan