“Mungkin aku gak bisa merasakan motor barumu, karena aku nanti sudah akan naik mobil…..,” ujar Dien. Matanya nakal mengerling mengejekku…

Hahahahahhaha……senang sekali mendengarnya. Aku berdoa untuk kamu Dien. Meskipun pasti akan ada yang hilang, tapi aku berdoa supaya kamu selekasnya bisa naik mobil. Andai aku bisa menentukan pilihan itu, sekarang juga akan kuubah garis tanganmu.

*** Itu sepenggal cerita setahun lalu. Di sudut lobby di sebuah hotel di Jakarta kami saling bertutur tentang mimpi.***

“Aku tak pernah mau bicara tentang berandai-andai. Itu hanya akan membawa rasa sakit,” Dien berujar pelan. Matanya menerawang. Aku tahu, dia mempersempit aliran harapan yang berdesakan di dadanya. Dien takut kecewa. Gadis kecil itu seperti tidak pernah memberi tempat pada mimpi. Baginya kehidupan seperti roda bola api yang melayukan daun-daun. Tak ada ruang bagi tumbuhnya harapan. Yang ada cuma kepasrahan yang lunglai di sudut jalan menunggu datangnya keajaiban

***Tapi keajaiban itu datang. Dien sekarang bekerja di tempat yang dia impikan itu. Ia tidak lagi berpanas-panas dan berhujan-hujan mbonceng motorku. Tapi ia masih sempat merasakan motor baruku selama beberapa bulan.***

Keajaiban. Ia belum datang menghampiriku. Pernahkah kamu berada pada sebuah garis demarkasi yang tidak bisa kamu langkahi. Garis itu adalah batas antara titik maksimal perjuangan dan mimpimu. Pada batas itu yang bisa kamu lakukan cuma menunggu. Ya, menunggu. Cuma menunggu. Karena sepertinya hidup ini adalah paduan antara perjuangan dan keajaiban itu tadi. Sekeras apapun kamu berjuang tapi kalau keajaiban itu sedang tidak bersahabat dengan kamu, kamu tidak bisa berjabat tangan dengan mimpi di seberang garis demarkasi yang tidak bisa kamu langkahi itu.

***Sebatang rokok. Secangkir kopi. Malam yang dingin saat aku terkenang Dien.***

Iklan