Sebuah sms masuk di HP-ku, “Jangan ketawa ya..imelku tomatto_chayang@…..com” Hahahahaha…. Siapa yang bisa nahan ketawa mbaca imel seganjen itu?! Seketika, tergambar di benakku sosok gadis itu. Pipinya tembem bersemu merah karena panas matahari.

Aku bertanya tentang imelnya karena berjanji mengirim sesuatu yang dia minta. Ketika dia menelponku beberapa hari lalu, dia urung memberikan alamat imelnya karena menurutnya aku pasti tertawa. Aku tak mampu meyakinkannya bahwa aku tidak akan tertawa.

“Semua orang selalu tertawa. Aku nggak yakin kamu gak akan ketawa. Udah ah, ntar aku sms-in aja,” katanya.
“Kalopun nanti kamu tertawa, yang penting aku gak denger,” tandas dia.

“Hahahaha……,” aku tak kuasa menahan tawa mendengar nada suaranya yang seperti menyimpan kecemasan.
“Tuh, kan, belum dikasih unjuk aja udah ketawa.”
“Ya, kalo gak mau diketawain, ganti donk imelnya,” kataku.
“Nama itu bersejarah tau!”

Kemarin malam, di teras rumahnya yang asri, Si Tomat bercerita tentang sejarah nama itu. Ketika dia berjuang menyelesaikan skripsinya di Universitas Diponegoro Semarang, ibunya khawatir akan kondisi kesehatannya.
“Waktu itu, ibu menemani aku di kost. Dia khawatir banget sama anaknya yang hampir tiap hari cuma tidur 2-3 jam. Kadang aku ketiduran di meja gambar lho,” tuturnya.

Melihat betapa keras putri sulungnya berjuang, Si Ibu membelikan tomat. Maksudnya, supaya ada suplemen tambahan buat sang putri tercinta. Tapi, dasar anaknya gak doyan makan buah, tomat-tomat itu tetap tersimpan di kulkas.
“Setiap hari ibu ngingetin aku untuk makan tomat. Tapi, karena sibuk dan emang dasarnya aku gak suka makan buah, aku selalu lupa,” kata dia.

Suatu pagi, saat Si Tomat masih tidur, si Ibu pergi keluar untuk suatu keperluan. Namun, ia tak lupa untuk mengingatkan anaknya tentang tomat yang belum tersentuh itu. Caranya: dia menulis besar-besar “TOMAT” di pintu kamar anaknya.

Terang saja tulisan itu mengundang sejuta tanya dari teman-teman se-kost, what the maksud? Kebetulan, pagi itu, cowok Si Tomat dateng ke kost. Dia juga bingung melihat tulisan dengan spidol merah di pintu kamar kekasihnya itu. Diketuknya pintu kamar Si Tomat. Saat Si Tomat keluar dengan wajah kusut bangun tidur, serentak teman-teman sekostnya berteriak “TOMAAATTTTT…..”

“Trus, abis itu cowokku bilang, mulai sekarang aku panggil kamu Tomat ya….,” katanya sambil tersenyum.

Kisahnya belum usai.
“Aku membaca Anand Khrisna, Anthony de Mello, Khrisnamurti, Tuesdaylobsangrampa, James Redfield. Aku pernah bergabung dengan Komunitas Subut. Namun aku menemukan apa yang kucari di Karmel,” ujar dia.

Malam semakin larut, meski satu hari belum tutup. Bab lain dari kisahnya yang panjang masih tersimpan untuk esok hari. Angin yang dingin berdesir lembut. Aku pamit pulang. Gemericik air dari pancuran kayu di taman depan rumahnya yang mungil lamat terdengar saat aku menjauh meninggalkan rumahnya di pojok Selatan Jakarta.

Iklan