You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2003.

Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” katanya sebelum dia melemparkan dirinya ke laut.
“Tolonglah. Aku tidak ingin membawa bekas bibirnya di bibirku ke dasar laut. Tolonglah hapus.”

“Lakukan! Lakukan!” kata mereka.

Aku menghampiri wanita yang telanjang itu. Orang-orang di pintu geladak berlari ke arah kami. Mereka menutup kami dengan selimut. Di dalam selimut kucari daun telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas yang lain darinya di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Hamsad Rangkuti. “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”. Baru setengah aku membaca, mataku sudah lelah. Pk 23.30 WIB. Aku ingin tidur. Aku sudah pernah membaca cerita ini beberapa tahun lalu. Aku membacanya lagi setelah belum lama ini beruntung mendapat kumpulan cerpen Rangkuti dalam sebuah bursa buku murah Gramedia.

Cerita yang liar. Idenya didapat Rangkuti di atas geladak kapal feri Merak-Bakahuni. Tidak tampak orang lain di atas geladak itu kecuali seorang wanita cantik, kata Rangkuti. Wanita itu memandang laut sementara Rangkuti memandanginya. Imajinasinya melihat wanita itu membuang segala yang dia miliki, padahal ia tidak membuang apa-apa; sampai akhirnya Rangkuti melihat wanita itu tidak mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.

***

“Aku tidak bisa menghapus bekas bibir lain di bibirnya,” gadis itu berkata padaku dari ujung telepon. Suaranya murung. Dia menelponku lewat tengah malam.
“Aku telah memutuskan juga bukan dia yang akan menghapus bekas bibir lain di bibirku,” katanya. lagi.Aku tidak punya kata-kata. Jam dinding di rumahku berdentang dua kali. Kami kemudian larut dalam diam. Desah napasnya tidak teratur. Gadis itu menangis. Aku mendengar gerimis jatuh di atas genting. Malam yang sunyi.

“Hidup macam apakah yang aku jalani ini,” dia berkesah dalam isak.
“Ketulusan yang tumbuh dalam hatiku selalu dikoyak-koyak. Apakah cinta masih punya makna, Mbonk?”
“Mmmmm…..Aku gak tahu,”jawabku. “Mungkin cinta sedang tumbuh di tempat yang salah.” Sejujurnya aku tidak tahu apa itu cinta. Aku merasa awam dalam urusan yang satu ini.

Sekelebat bayangan gadis lain melintas dalam benakku. Aku terkenang pengalamanku sendiri. Sepenggal kisah tentang harapan yang hanya menjadi sejarah. Harapan! Seperti kuncup melati dia tumbuh di pagi yang basah oleh embun. Tapi, tak ada kesegaran. Pagi yang dingin seperti malam, membawa kekosongan yang panjang. Harapan yang tak pernah kau semi terus tumbuh seperti rumput liar di luar pagarmu.

Aku mencatat cerita lalu itu sebagai sejarah, karena sejak awal aku tahu semua hanya akan menjadi sejarah. Tak terbayang kelak saat kau buka lembaran-lembaran yang menguning dari laci almarimu, engkau pernah menjalani masa-masa seperti ini. Sebuah masa dimana harapan hanya jadi sebuah catatan, tanpa pernah kau mengecapnya. Lucunya, kau menjalaninya dengan kesadaran.

“Aku gak boleh begini,” tiba-tiba dia memecah kesunyian. Suaranya bergetar. Ada sesuatu yang dipaksakan dalam hatinya.
“Mbonk, tolong ingatkan aku bahwa hidup ini terlalu indah untuk ditangisi.”
“Bukankah aku sudah mengatakan itu padamu saat pertama kamu menangis kemarin?”
“Iya, tapi aku kerap lupa. Tolong ingatkan lagi setiap kali kamu melihat aku menangis.”

Aku pernah mengatakan padanya bahwa kesedihan hanya salah satu sudut dari taman kehidupan. Kesedihan hanya membutakan matamu dari rekah bunga matahari dan kepak sayap angsa di kolam taman. Air mata adalah sesuatu yang pantas disyukuri karena dengan itu kita masih menjadi manusia. Maka, menangislah jika kamu ingin menangis hari ini.

Tapi, air mata tidak boleh jatuh terus. Hanya dibutuhkan sedikit niat untuk menghapus air matamu tidak jatuh lagi esok hari, untuk melihat bahwa kamu berdiri di sudut taman yang lembab. Di depanmu ada taman bunga dan burung-burung dara berebut remah roti di tengah plasa. Dan, hanya dibutuhkan sedikit niat untuk melangkahkan kakimu pergi dari sudut taman yang lembab itu.

“Aku ngantuk, Mbonk, mau tidur. Doakan semoga besok aku sudah bisa menghapus airmataku. Terimakasih mau mendengarkan aku malam-malam begini,” gadis itu menutup telepon.

***

Di dalam kamar, rasa kantukku hilang. Buku kumpulan cerpen Rangkuti tergeletak di atas meja. Aku meneruskan cerita yang belum habis aku baca tadi.

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?

Aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus di dalam kabut yang basah. Tidak tampak sesuatu pun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling di atas rumput dalam kepompong kabut.

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat di dalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, Sayang,” bisiknya.

———————-**************——————–

*Belum lagi aku tuntaskan cerita itu, aku ketiduran. Dalam tidurku aku bermimpi: melihat gadis itu terbang di atas awan-awan. Ia mengenakan gaun putih panjang. Ujung-ujung gaunnya melambai-lambai ditiup angin. Ia berkata berulang-ulang, seperti mengucap mantra, “Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku. Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku. Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku.”……….

Iklan

Dituntaskannya potongan roti bakar terakhir, setangkup roti coklat keju. Aku tidak lapar dan hanya memesan teh poci.

“Aku orang yang terlalu mengagungkan cinta. Mungkin buatmu irasional, tapi aku rela bersakit-sakit demi cinta.”

Busyet!

“Suatu saat kamu akan belajar bahwa kesakitan adalah bagian dari keindahan. Itulah cinta.”
“Wah, bagian itu aku belum tahu, belum sempat mengambil SKS-nya,” aku menjawab asal.

Gadis itu memandang ke arahku. Dia tersenyum, namun urung mengatakan sesuatu. Matanya kemudian memandang jauh. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Teh poci yang kupesan mulai dingin. Gula batu yang besar di dalam gelas membuat rasa manis yang berlebihan.

“Pernahkah kamu mempertimbangkan bahwa dirimu adalah seorang pengecut?” Gadis itu bertanya. Matanya tajam menatapku.
“Yah, mungkin aku seorang pengecut. Tapi, aku lebih senang memilih untuk tidak menyakiti diriku sendiri dan orang lain.”
“Aku tahu bahwa aku menyakiti diri sendiri dan orang lain. Tapi, apakah aku salah? Perasaan ini datang begitu saja. Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku mencintainya.”
“Ya, kalau begitu nikmati keindahan cintamu itu.”

Kami terdiam. Pandanganku tertuju pada seorang lelaki pengamen berperawakan ceking di warung kopi tidak jauh dari tempat kami duduk di pelataran taman itu. Aku mendengar teriakan melengking pengamen itu melantunkan lagu Ebiet. Aku penyuka Ebiet, jadi aku hafal liriknya.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnalah kekejamanmu

Bagiku jatuh cinta itu soal pilihan. Kita bisa memilih untuk jatuh cinta atau tidak jatuh cinta. Ini cuma masalah kejujuran pada diri sendiri. Banyak orang terlalu angkuh untuk mau bercengkerama dengan batinnya sendiri.* Mereka selalu berdalih, “Cinta itu datang dan pergi seperti angin. Kita tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba saja ia mengoyak hati kita.”

Ya, kalian memang tidak tahu kapan datangnya. Tapi, kalian sebenarnya tahu bahwa pintu rumah kalian masih terbuka.

“Apakah kamu menutup diri terhadap cinta?” gadis itu menyentak lamunanku seolah membaca pikiranku.

“Aku tidak menutup diri, cuma kebetulan saja selama ini aku tahu kapan harus membuka dan menutup pintu. Angin yang datang menghampiriku selalu membawa derajat panas yang tinggi. Aku belum berniat untuk mengambil SKS-nya.”

“Kamu pengecut yang sombong!”

“Hahahaha….betul sekali. Aku pengecut yang sombong. Eh, kalimatmu itu bagus sekali. Aku suka mendengarnya. Sumpah. Hahahaha…tepat sekali kata-katamu. Aku adalah seorang pengecut yang sombong.”

Pengamen ceking itu tiba-tiba ada di depan kami.

“Permisiiii….”

**Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas duka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu

Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak cobaan
Begitu tulusnya ku buka tanganku
Langit mendung, gelap malam untukku

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnalah kekejamanmu

Petir menyambar, hujanpun turun
Di tengah jalan aku sempat merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna

___________________________________
*Aku bersahabat baik dengan diriku sendiri, dengan kesunyian malam, secangkir kopi, dan starmildku. Tapi, bagian ini, aku berpendapat, bukan pilihanku, melainkan fait acompli yang disodorkan Tuhan dalam hidupku. Mahluk yang bernama Tuhan itu memang seringkali kurang ajar, bersikap seenak jidat-Nya sendiri. Setiap kali aku bertanya pada-Nya, dia selalu menjawab (juga seenak jidat-Nya), “Ah, nanti kamu kamu juga dapat berkahnya.” (Aku dan Dia bersahabat baik. Hanya orang yang bersahabat baiklah yang bisa saling mengucapkan kata-kata kasar tanpa merasa sakit hati…hahhaha…)

** Seberkas Cinta yang Sirna, dari Album Camelia IV, 1980 Jackson Records

Seperti dongeng, kisahmu ingin kutulis pada catatan buram dinding kamar yang muram. Tapi tak usai kau tuturkan gurindam, sejuta kata tersekat di kerongkonganmu, diam.

Aku mendengar suara lonceng. Senja yang panas. Ada sepi yang getas. Aku merasakan gelisahmu dalam cemas

“Aku menanti lelaki berkuda putih,”
“Datanglah, kan kuberikan kuntum selasih untukmu kekasih,”
kamu berkata lirih

Aku melihat seorang rahib berdiri di ujung menara biara yang sunyi. Tengah malam, jalanan sepi, selaksa gerimis berdenting melantunkan doa menembus getsemani.

Aku tidak sedang menghakimi kamu, Sas. Apakah kesan subjektif yang ditangkap orang dan tersimpan di hatinya harus disebut sebagai sebuah penghakiman. Kamu ingat, Sas, satu malam kamu pernah berkata padaku, “Orang itu terlalu gelap buatku.” Ada kalimat yang tak usai kau katakan. Apakah kamu bermaksud menghakimi orang itu?

Aku juga tidak sedang memusuhi kamu. Tidak ada alasan, Sas. Juga tidak ada rasa sakit sehingga kamu harus minta maaf siang kemarin.

Sejumlah orang memandangnya sinis. Mereka menasihati aku untuk menjauhinya. Mereka khawatir aku hanya akan disakitinya. Ah, teman-temanku baik sekali.

“Percaya deh, tidak ada rasa sakit barang secuil pun,” kataku pada mereka.
“Rasa sakit adalah ketika kamu naik terlalu tinggi dan jatuh terhempas ke tanah. Aku belum naik barang sejengkal pun sampai aku memutuskan untuk tidak jadi naik ke pohon itu.”

Apakah ini juga penghakiman menurut kamu, Sas: memutuskan untuk tidak lagi menyusuri lorong kecil menuju rumahmu? Bukankah juga begitu, saat kamu mengatakan pada dirimu sendiri, “Bukan bandar itu tempatku akan bersandar.” Dan, tentu kamu punya alasan kenapa tidak memilih bandar itu.

Haruskah kamu selalu membicarakan alasanmu itu pada pemilik bandar? Mungkin alasan itu salah. Tapi apa yang harus dibicarakan lagi ketika kamu tahu tidak ada lagi bara yang meletik di hati kamu.

Maka, Sas, ini hanya persoalan bahwa kamu tahu benakku dan aku tidak tahu benakmu. Ini juga hanya persoalan bahwa aku lebih dulu menentukan pilihan.

Hapus airmata kamu, Sas. Aku berharap bisa tertawa bareng lagi melihat rambut kamu yang dicukur lucu itu…

Siapa mencari cinta?
Dewi Amor sedang pergi
menitip gelisah
pada seorang gadis
di sudut kamar.
Airmatanya jatuh,
membayang sepi yang jauh.

Kau melihat butiran-butiran air
menetes dari atas genting.
Terbayang di benakmu
lelaki tua menarik pedati
di jalan desa yang tandus.

Siapa mencari cinta?
Liang lahat menunggumu menabur mawar
dan air melati basah di ujung kepalamu…