Aku tidak sedang menghakimi kamu, Sas. Apakah kesan subjektif yang ditangkap orang dan tersimpan di hatinya harus disebut sebagai sebuah penghakiman. Kamu ingat, Sas, satu malam kamu pernah berkata padaku, “Orang itu terlalu gelap buatku.” Ada kalimat yang tak usai kau katakan. Apakah kamu bermaksud menghakimi orang itu?

Aku juga tidak sedang memusuhi kamu. Tidak ada alasan, Sas. Juga tidak ada rasa sakit sehingga kamu harus minta maaf siang kemarin.

Sejumlah orang memandangnya sinis. Mereka menasihati aku untuk menjauhinya. Mereka khawatir aku hanya akan disakitinya. Ah, teman-temanku baik sekali.

“Percaya deh, tidak ada rasa sakit barang secuil pun,” kataku pada mereka.
“Rasa sakit adalah ketika kamu naik terlalu tinggi dan jatuh terhempas ke tanah. Aku belum naik barang sejengkal pun sampai aku memutuskan untuk tidak jadi naik ke pohon itu.”

Apakah ini juga penghakiman menurut kamu, Sas: memutuskan untuk tidak lagi menyusuri lorong kecil menuju rumahmu? Bukankah juga begitu, saat kamu mengatakan pada dirimu sendiri, “Bukan bandar itu tempatku akan bersandar.” Dan, tentu kamu punya alasan kenapa tidak memilih bandar itu.

Haruskah kamu selalu membicarakan alasanmu itu pada pemilik bandar? Mungkin alasan itu salah. Tapi apa yang harus dibicarakan lagi ketika kamu tahu tidak ada lagi bara yang meletik di hati kamu.

Maka, Sas, ini hanya persoalan bahwa kamu tahu benakku dan aku tidak tahu benakmu. Ini juga hanya persoalan bahwa aku lebih dulu menentukan pilihan.

Hapus airmata kamu, Sas. Aku berharap bisa tertawa bareng lagi melihat rambut kamu yang dicukur lucu itu…

Iklan