Seperti dongeng, kisahmu ingin kutulis pada catatan buram dinding kamar yang muram. Tapi tak usai kau tuturkan gurindam, sejuta kata tersekat di kerongkonganmu, diam.

Aku mendengar suara lonceng. Senja yang panas. Ada sepi yang getas. Aku merasakan gelisahmu dalam cemas

“Aku menanti lelaki berkuda putih,”
“Datanglah, kan kuberikan kuntum selasih untukmu kekasih,”
kamu berkata lirih

Aku melihat seorang rahib berdiri di ujung menara biara yang sunyi. Tengah malam, jalanan sepi, selaksa gerimis berdenting melantunkan doa menembus getsemani.

Iklan