Dituntaskannya potongan roti bakar terakhir, setangkup roti coklat keju. Aku tidak lapar dan hanya memesan teh poci.

“Aku orang yang terlalu mengagungkan cinta. Mungkin buatmu irasional, tapi aku rela bersakit-sakit demi cinta.”

Busyet!

“Suatu saat kamu akan belajar bahwa kesakitan adalah bagian dari keindahan. Itulah cinta.”
“Wah, bagian itu aku belum tahu, belum sempat mengambil SKS-nya,” aku menjawab asal.

Gadis itu memandang ke arahku. Dia tersenyum, namun urung mengatakan sesuatu. Matanya kemudian memandang jauh. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Teh poci yang kupesan mulai dingin. Gula batu yang besar di dalam gelas membuat rasa manis yang berlebihan.

“Pernahkah kamu mempertimbangkan bahwa dirimu adalah seorang pengecut?” Gadis itu bertanya. Matanya tajam menatapku.
“Yah, mungkin aku seorang pengecut. Tapi, aku lebih senang memilih untuk tidak menyakiti diriku sendiri dan orang lain.”
“Aku tahu bahwa aku menyakiti diri sendiri dan orang lain. Tapi, apakah aku salah? Perasaan ini datang begitu saja. Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku mencintainya.”
“Ya, kalau begitu nikmati keindahan cintamu itu.”

Kami terdiam. Pandanganku tertuju pada seorang lelaki pengamen berperawakan ceking di warung kopi tidak jauh dari tempat kami duduk di pelataran taman itu. Aku mendengar teriakan melengking pengamen itu melantunkan lagu Ebiet. Aku penyuka Ebiet, jadi aku hafal liriknya.

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnalah kekejamanmu

Bagiku jatuh cinta itu soal pilihan. Kita bisa memilih untuk jatuh cinta atau tidak jatuh cinta. Ini cuma masalah kejujuran pada diri sendiri. Banyak orang terlalu angkuh untuk mau bercengkerama dengan batinnya sendiri.* Mereka selalu berdalih, “Cinta itu datang dan pergi seperti angin. Kita tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba saja ia mengoyak hati kita.”

Ya, kalian memang tidak tahu kapan datangnya. Tapi, kalian sebenarnya tahu bahwa pintu rumah kalian masih terbuka.

“Apakah kamu menutup diri terhadap cinta?” gadis itu menyentak lamunanku seolah membaca pikiranku.

“Aku tidak menutup diri, cuma kebetulan saja selama ini aku tahu kapan harus membuka dan menutup pintu. Angin yang datang menghampiriku selalu membawa derajat panas yang tinggi. Aku belum berniat untuk mengambil SKS-nya.”

“Kamu pengecut yang sombong!”

“Hahahaha….betul sekali. Aku pengecut yang sombong. Eh, kalimatmu itu bagus sekali. Aku suka mendengarnya. Sumpah. Hahahaha…tepat sekali kata-katamu. Aku adalah seorang pengecut yang sombong.”

Pengamen ceking itu tiba-tiba ada di depan kami.

“Permisiiii….”

**Masih sanggup untuk kutahankan
Meski telah kau lumatkan hati ini
Kau sayat luka baru di atas duka lama
Coba bayangkan betapa sakitnya

Hanya Tuhanlah yang tahu pasti
Apa gerangan yang bakal terjadi lagi
Begitu buruk telah kau perlakukan aku
Ibu menangislah demi anakmu

Sementara aku tengah bangganya
Mampu tetap setia meski banyak cobaan
Begitu tulusnya ku buka tanganku
Langit mendung, gelap malam untukku

Ternyata mengagungkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
Tetapi akan tetap kuhayati
Hikmah sakit hati ini
Telah sempurnalah kekejamanmu

Petir menyambar, hujanpun turun
Di tengah jalan aku sempat merenung
Masih adakah cinta yang disebutkan cinta
Bila kasih sayang kehilangan makna

___________________________________
*Aku bersahabat baik dengan diriku sendiri, dengan kesunyian malam, secangkir kopi, dan starmildku. Tapi, bagian ini, aku berpendapat, bukan pilihanku, melainkan fait acompli yang disodorkan Tuhan dalam hidupku. Mahluk yang bernama Tuhan itu memang seringkali kurang ajar, bersikap seenak jidat-Nya sendiri. Setiap kali aku bertanya pada-Nya, dia selalu menjawab (juga seenak jidat-Nya), “Ah, nanti kamu kamu juga dapat berkahnya.” (Aku dan Dia bersahabat baik. Hanya orang yang bersahabat baiklah yang bisa saling mengucapkan kata-kata kasar tanpa merasa sakit hati…hahhaha…)

** Seberkas Cinta yang Sirna, dari Album Camelia IV, 1980 Jackson Records

Iklan