Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” katanya sebelum dia melemparkan dirinya ke laut.
“Tolonglah. Aku tidak ingin membawa bekas bibirnya di bibirku ke dasar laut. Tolonglah hapus.”

“Lakukan! Lakukan!” kata mereka.

Aku menghampiri wanita yang telanjang itu. Orang-orang di pintu geladak berlari ke arah kami. Mereka menutup kami dengan selimut. Di dalam selimut kucari daun telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas yang lain darinya di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Hamsad Rangkuti. “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?”. Baru setengah aku membaca, mataku sudah lelah. Pk 23.30 WIB. Aku ingin tidur. Aku sudah pernah membaca cerita ini beberapa tahun lalu. Aku membacanya lagi setelah belum lama ini beruntung mendapat kumpulan cerpen Rangkuti dalam sebuah bursa buku murah Gramedia.

Cerita yang liar. Idenya didapat Rangkuti di atas geladak kapal feri Merak-Bakahuni. Tidak tampak orang lain di atas geladak itu kecuali seorang wanita cantik, kata Rangkuti. Wanita itu memandang laut sementara Rangkuti memandanginya. Imajinasinya melihat wanita itu membuang segala yang dia miliki, padahal ia tidak membuang apa-apa; sampai akhirnya Rangkuti melihat wanita itu tidak mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.

***

“Aku tidak bisa menghapus bekas bibir lain di bibirnya,” gadis itu berkata padaku dari ujung telepon. Suaranya murung. Dia menelponku lewat tengah malam.
“Aku telah memutuskan juga bukan dia yang akan menghapus bekas bibir lain di bibirku,” katanya. lagi.Aku tidak punya kata-kata. Jam dinding di rumahku berdentang dua kali. Kami kemudian larut dalam diam. Desah napasnya tidak teratur. Gadis itu menangis. Aku mendengar gerimis jatuh di atas genting. Malam yang sunyi.

“Hidup macam apakah yang aku jalani ini,” dia berkesah dalam isak.
“Ketulusan yang tumbuh dalam hatiku selalu dikoyak-koyak. Apakah cinta masih punya makna, Mbonk?”
“Mmmmm…..Aku gak tahu,”jawabku. “Mungkin cinta sedang tumbuh di tempat yang salah.” Sejujurnya aku tidak tahu apa itu cinta. Aku merasa awam dalam urusan yang satu ini.

Sekelebat bayangan gadis lain melintas dalam benakku. Aku terkenang pengalamanku sendiri. Sepenggal kisah tentang harapan yang hanya menjadi sejarah. Harapan! Seperti kuncup melati dia tumbuh di pagi yang basah oleh embun. Tapi, tak ada kesegaran. Pagi yang dingin seperti malam, membawa kekosongan yang panjang. Harapan yang tak pernah kau semi terus tumbuh seperti rumput liar di luar pagarmu.

Aku mencatat cerita lalu itu sebagai sejarah, karena sejak awal aku tahu semua hanya akan menjadi sejarah. Tak terbayang kelak saat kau buka lembaran-lembaran yang menguning dari laci almarimu, engkau pernah menjalani masa-masa seperti ini. Sebuah masa dimana harapan hanya jadi sebuah catatan, tanpa pernah kau mengecapnya. Lucunya, kau menjalaninya dengan kesadaran.

“Aku gak boleh begini,” tiba-tiba dia memecah kesunyian. Suaranya bergetar. Ada sesuatu yang dipaksakan dalam hatinya.
“Mbonk, tolong ingatkan aku bahwa hidup ini terlalu indah untuk ditangisi.”
“Bukankah aku sudah mengatakan itu padamu saat pertama kamu menangis kemarin?”
“Iya, tapi aku kerap lupa. Tolong ingatkan lagi setiap kali kamu melihat aku menangis.”

Aku pernah mengatakan padanya bahwa kesedihan hanya salah satu sudut dari taman kehidupan. Kesedihan hanya membutakan matamu dari rekah bunga matahari dan kepak sayap angsa di kolam taman. Air mata adalah sesuatu yang pantas disyukuri karena dengan itu kita masih menjadi manusia. Maka, menangislah jika kamu ingin menangis hari ini.

Tapi, air mata tidak boleh jatuh terus. Hanya dibutuhkan sedikit niat untuk menghapus air matamu tidak jatuh lagi esok hari, untuk melihat bahwa kamu berdiri di sudut taman yang lembab. Di depanmu ada taman bunga dan burung-burung dara berebut remah roti di tengah plasa. Dan, hanya dibutuhkan sedikit niat untuk melangkahkan kakimu pergi dari sudut taman yang lembab itu.

“Aku ngantuk, Mbonk, mau tidur. Doakan semoga besok aku sudah bisa menghapus airmataku. Terimakasih mau mendengarkan aku malam-malam begini,” gadis itu menutup telepon.

***

Di dalam kamar, rasa kantukku hilang. Buku kumpulan cerpen Rangkuti tergeletak di atas meja. Aku meneruskan cerita yang belum habis aku baca tadi.

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?

Aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus di dalam kabut yang basah. Tidak tampak sesuatu pun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling di atas rumput dalam kepompong kabut.

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat di dalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, Sayang,” bisiknya.

———————-**************——————–

*Belum lagi aku tuntaskan cerita itu, aku ketiduran. Dalam tidurku aku bermimpi: melihat gadis itu terbang di atas awan-awan. Ia mengenakan gaun putih panjang. Ujung-ujung gaunnya melambai-lambai ditiup angin. Ia berkata berulang-ulang, seperti mengucap mantra, “Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku. Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku. Aku tidak bisa menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku.”……….

Iklan