You are currently browsing the monthly archive for November 2003.

Senja Gunung Salak. Aku memandangnya sore kemarin dari sebuah kafe di kawasan Paledang, Bogor. Sepertinya aku tidak menyukai senja, meski Seno* selalu bicara seperti mengagungkan senja.

Bagiku senja seperti seorang pencuri. Ada sesuatu yang hilang dari diriku tiap kali memandang semburat jingga itu di atas mega-mega. Ada rasa miris yang sulit dilukis. Sunyi yang mencekam, menggigit jantungku.

Matahari bersembunyi di balik bukit seperti menyembunyikan sesuatu. Sinarnya yang jingga seperti ejekan sebelum dia lenyap dan hari menjadi gelap. Malam tanpa bulan dan bintang. Gerimis jatuh membawa angin dingin. Senja berubah menjadi ngilu merayap pada tulang sendiku.

————————-
Seno Gumira Ajidarma banyak menulis cerita tentang senja. Dia mendeskripsikan senja dengan teliti. Pada sebuah ceritanya dia menggambarkan senja dengan bias matahari yang menerobos dedaunan seperti jalinan benang-benang tipis.

Iklan

several days ago, my phone “nutnut” for received two massages.

mbonk, ini k***a! gue tau
lo bukan orang yang religius.
tapi, gue mo minta tolong bisa gak?
tolong beritahu temen-temen lo
yang religius untuk novena
3x salam maria selama 9 hari berturut-turut jam 6

sender: 0811881***

intensinya: untuk nyokap gue.
dia kena kanker stadium lanjut
usus besar, paru2+hati.
dokter udah angkat tangan.
I’m trying to believe miracle here.
please help, tengkyu

sender : 0811881***

k***a, gue gak ingin ngibulin elo dengan bilang
gue bakalan bisa novena jam 6. but, I’ll do it
at 00.00. be strong man

send to: 0811881***

thank’s mbonk! I appreciate it a lot.
lucu deh…
tiap orang yang mereply sms gue tadi
SEMUANYA mengakhiri sms dengan
“be strong man”. seakan-akan mereka semua
1 orang dengan 1 otak. aneh.

then, I forwarded those massages to my friend

bantuin doa ya…
gue baru dapet sms ini dari temen sma gue.
bokapnya meninggal beberapa tahun lalu
karena kecelakaan.
sekarang nyokapnya lagi kritis

send to : 0815887****

dengan sepenuh hati. nama mamanya siapa?
biar aku doain di kelompok doaku.

sender: 0815887****

k***a, temen gue tanya, siapa nama ibu lo?
mo didoain di kelompok doanya

send to : 0811881***

Antonia Maria Yatnti Samtomo
tengkyu banget, mbonk, tengkyu

sender : 0811881***

for those who believe in God whatever He is called….

for those who believe that no border between religions

for those who believe that reliousity and conscience unify us as human being

let us pray for mama Antonia Maria Yatnati Samtomo and her family

……….
……….
……….

amen.

“Aku merasa dekat denganmu, tapi selalu hanya merasa meraba bayang-bayangmu. Ada sesuatu dari dirimu yang tidak dapat aku masuki. Kamu seperti menyimpan sebuah kotak pandora dalam hatimu,” begitu suatu hari sahabatku berkata kepadaku. Aku merasa dia seperti sedang mencoba masuk menelisiki hatiku.

Aku hanya tersenyum.
“Kamu bukan orang pertama yang berkata begitu,” kataku.
“Aku tidak ingin menyangkal bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah kuijinkan disentuh oleh orang lain. Sesuatu yang berat, pekat, sekaligus gersang. Aku kerap dibuat sulit bernapas karenanya.”

“Aku sahabatmu, kenapa kamu tidak mencoba membaginya denganku?” dia bertanya.
“Apakah kamu yakin kamu bakal sanggup memanggul sebagian isi kotak pandoraku?”
“Aku kira aku sanggup. Bukankah akan menjadi lebih ringan jika sebuah beban ditanggung oleh dua orang?”
“Mungkin kamu sanggup, tapi aku tidak. Beban itu akan menjadi lebih berat ketika aku mulai membukanya dan mengeluarkan isinya.”
“Bagaimana kamu bisa berkata begitu. Kamu belum mencobanya untuk berbagi denganku.”
“Kamu pasti tidak akan membuktikan bahwa kamu akan mati kalau terjun dari lantai 46,” aku menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berat di dadaku yang ingin aku lepaskan.

Kamu sahabatku, kataku dalam hati, justru karena kamu sahabatku aku tidak bisa berbagi tentang isi kotak itu. Ada bagian-bagian yang perannya tidak bisa dimainkan oleh seorang sahabat. Pada setiap hal selalu ada garis demarkasi.

Aku teringat perkataan seorang Rabbi. “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan dinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Aku tidak mengatakan bagian ini padanya. Aku khawatir dia salah mengerti.

Kepekatan itu, dia semakin berat menggantung di langit-langit kamarku, seperti kelembaban yang menghambat tarikan napasku. Aku berusaha tidak mempersoalkan hal ini pada diriku sendiri. Aku menerimanya sebagai bagian dari hidupku, seperti seorang pengembara yang menerima langit sebagai atap rumahnya dan rumput sebagai alas tidurnya.

Temanku bercerita bahwa anjingnya baru saja melahirkan anak tujuh ekor. Enam diantaranya ia berikan kepada teman dan sanak saudara. Hanya satu yang ia rawat sendiri. Ia menamai anjing kecilnya itu Brownie.
“Iiiihhh…lutu banget deh mbonk. Kulitnya coklat semua. Matanya belo,” kata dia menceritakan anjing kecilnya dengan mata berbinar.

Aku sebenarnya sulit membayangkan kelucuan seekor anjing. Pengalaman masa laluku membentuk citra yang negatif atas diri hewan yang kerap disebut mahluk paling setia terhadap tuannya itu. Selucu apapun orang bercerita tentang seekor anjing, bagiku hewan itu menakutkan. Aku lebih senang memakannya daripada mengelusnya. (sadis!).

Temanku melanjutkan ceritanya. Suatu hari pacarnya datang. Namanya Dani, lelaki sederhana dan baik hati. Mereka bercengkerama di ruang tamu. Sambil ngobrol, temanku membawa Brownie dalam pelukannya dan mengelus-ngelusnya dengan kasih. Entah karena merasa diabaikan atau entah karena apa, Dani yang biasanya lembut itu berbicara ketus kepada temanku ini.
“Kok, aku gak pernah dielus-elus semesra itu sih?” Matanya tajam menatap mata Brownie yang sudah kiyep-kiyep mengantuk. Sepertinya Brownie merasakan tatapan tidak bersahabat itu. Matanya membesar dan ia menggonggong.
“Aduh, kamu kenapa sih?” kata temanku kepada kekasihnya itu. “Kamu kan terlalu gede untuk aku gendong-gendong dan aku elus-elus begini.”

Kemudian, dalam kesempatan wakuncar berikutnya, mengetahui bahwa menyertakan Brownie dalam kencan mereka hanya membawa suasana yang tidak mengenakkan, temanku membiarkan Brownie bermain di luar sementara mereka bercengkerama di dalam rumah.

Entah mereka sedang melakukan apa –temanku tidak bersedia menceritakan bagian detailnya meski sudah sedemikian keras aku merayunya—tiba-tiba Si Brownie lari ke dalam rumah sambil menggonggong keras-keras. Ia menggigit sambil menarik-narik ujung celana Dani. Dengan gigitan di ujung celana itu, Dani digiring ke luar rumah. Setelah Dani berhasil di giring ke luar rumah, Brownie berlari ke arah temanku dan dengan sigap melompak ke pangkuannya. Dengan manja ia menggesek-gesekan kepalanya ke dada temanku. Temanku tertawa sementara Dani memandang mereka dengan muka masam dari depan pintu rumah.

“Sekarang gue bingung nih, Mbonk, perselisihan di antara mereka sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan,” ujar temanku. “Bayangkan, mereka saling membuang muka setiap kali berpapasan.”

“What should I do?” she asked me seriously.

“Begini Bel,” terlintas sebuah ide cemerlang di benakku.
“Mendingan kita potong aja si Brownie. Enak tuh, masih muda, dagingnya empuk.”

PLETAAAKK!!!! Sebuah jitakan mendarat di kepalaku.

____________________________________
*sampai detik ini aku masih tidak habis pikir kenapa ideku itu masih dianggap tidak cemerlang…..*

H I D U P K U penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan itu akan bisa hilang karena tertinggal jauh di belakang, tapi itu tidak pernah terjadi. Ada segaris luka dalam hatiku yang telah mendorong aku pergi jauh dari kampung halamanku dan sampai sekarang belum pernah kembali.

Mungkin aku tidak akan pernah kembali meskipun kesedihanku suatu hari akan hilang. Aku sudah telanjur tidak pernah merasa punya rumah, dan tidak pernah merasa harus pulang ke mana pun dan aku menyukainya. Barangkali kesedihanku tidak akan pernah hilang. Tapi, sudahlah. Aku tidak ingin memanjakan perasaan. Aku sudah selalu membiasakan diriku hidup bersama dengan kesedihan. Apa salahnya dengan kesedihan? Apa salahnya dengan duka? Apa salahnya dengan luka?

Setelah mengembara bertahun-tahun lamanya, aku belajar hidup bersama dengan kesedihan, kesepian, dan keterasingan. Semua itu tidaklah mudah. Tapi, apalah yang bisa dibuat oleh seorang perantauan? …..

[Seno Gumira Ajidarma, “Negeri Senja”, Kepustakaan Populer Gramedia, Agustus 2003, hal 3]