Temanku bercerita bahwa anjingnya baru saja melahirkan anak tujuh ekor. Enam diantaranya ia berikan kepada teman dan sanak saudara. Hanya satu yang ia rawat sendiri. Ia menamai anjing kecilnya itu Brownie.
“Iiiihhh…lutu banget deh mbonk. Kulitnya coklat semua. Matanya belo,” kata dia menceritakan anjing kecilnya dengan mata berbinar.

Aku sebenarnya sulit membayangkan kelucuan seekor anjing. Pengalaman masa laluku membentuk citra yang negatif atas diri hewan yang kerap disebut mahluk paling setia terhadap tuannya itu. Selucu apapun orang bercerita tentang seekor anjing, bagiku hewan itu menakutkan. Aku lebih senang memakannya daripada mengelusnya. (sadis!).

Temanku melanjutkan ceritanya. Suatu hari pacarnya datang. Namanya Dani, lelaki sederhana dan baik hati. Mereka bercengkerama di ruang tamu. Sambil ngobrol, temanku membawa Brownie dalam pelukannya dan mengelus-ngelusnya dengan kasih. Entah karena merasa diabaikan atau entah karena apa, Dani yang biasanya lembut itu berbicara ketus kepada temanku ini.
“Kok, aku gak pernah dielus-elus semesra itu sih?” Matanya tajam menatap mata Brownie yang sudah kiyep-kiyep mengantuk. Sepertinya Brownie merasakan tatapan tidak bersahabat itu. Matanya membesar dan ia menggonggong.
“Aduh, kamu kenapa sih?” kata temanku kepada kekasihnya itu. “Kamu kan terlalu gede untuk aku gendong-gendong dan aku elus-elus begini.”

Kemudian, dalam kesempatan wakuncar berikutnya, mengetahui bahwa menyertakan Brownie dalam kencan mereka hanya membawa suasana yang tidak mengenakkan, temanku membiarkan Brownie bermain di luar sementara mereka bercengkerama di dalam rumah.

Entah mereka sedang melakukan apa –temanku tidak bersedia menceritakan bagian detailnya meski sudah sedemikian keras aku merayunya—tiba-tiba Si Brownie lari ke dalam rumah sambil menggonggong keras-keras. Ia menggigit sambil menarik-narik ujung celana Dani. Dengan gigitan di ujung celana itu, Dani digiring ke luar rumah. Setelah Dani berhasil di giring ke luar rumah, Brownie berlari ke arah temanku dan dengan sigap melompak ke pangkuannya. Dengan manja ia menggesek-gesekan kepalanya ke dada temanku. Temanku tertawa sementara Dani memandang mereka dengan muka masam dari depan pintu rumah.

“Sekarang gue bingung nih, Mbonk, perselisihan di antara mereka sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan,” ujar temanku. “Bayangkan, mereka saling membuang muka setiap kali berpapasan.”

“What should I do?” she asked me seriously.

“Begini Bel,” terlintas sebuah ide cemerlang di benakku.
“Mendingan kita potong aja si Brownie. Enak tuh, masih muda, dagingnya empuk.”

PLETAAAKK!!!! Sebuah jitakan mendarat di kepalaku.

____________________________________
*sampai detik ini aku masih tidak habis pikir kenapa ideku itu masih dianggap tidak cemerlang…..*

Iklan