Senja Gunung Salak. Aku memandangnya sore kemarin dari sebuah kafe di kawasan Paledang, Bogor. Sepertinya aku tidak menyukai senja, meski Seno* selalu bicara seperti mengagungkan senja.

Bagiku senja seperti seorang pencuri. Ada sesuatu yang hilang dari diriku tiap kali memandang semburat jingga itu di atas mega-mega. Ada rasa miris yang sulit dilukis. Sunyi yang mencekam, menggigit jantungku.

Matahari bersembunyi di balik bukit seperti menyembunyikan sesuatu. Sinarnya yang jingga seperti ejekan sebelum dia lenyap dan hari menjadi gelap. Malam tanpa bulan dan bintang. Gerimis jatuh membawa angin dingin. Senja berubah menjadi ngilu merayap pada tulang sendiku.

————————-
Seno Gumira Ajidarma banyak menulis cerita tentang senja. Dia mendeskripsikan senja dengan teliti. Pada sebuah ceritanya dia menggambarkan senja dengan bias matahari yang menerobos dedaunan seperti jalinan benang-benang tipis.

Iklan