You are currently browsing the monthly archive for Desember 2003.

but sometimes we can’t see…

“Aku capek harus sendiri lagi Mbonk, dan tampaknya harus begitu…”

Ini bukan kali pertama dia mengeluh seperti itu. Pikiranku buntu, kenapa kesendirian begitu menakutkan baginya. Aku berpikir barangkali bukan kesendiriannya yang ditakutkan, tapi rasa kehilangannya itu. Menurutku, wajar saja bukan bahwa orang akan limbung ketika bertemu dengan pengalaman kehilangan itu.

“Apa artinya kata-kata cinta yang pernah dia katakan padaku. Dia bilang aku begitu berarti baginya. Dia juga bilang bahwa dia tidak pernah merasakan cinta seperti yang dia alami bersamaku.”

Lepas dari apakah kata-kata cinta itu suatu ungkapan tulus atau rayuan gombal belaka, aku belajar bahwa cinta bukan segala-galanya. Pada akhirnya orang juga menempatkan rasio sebagai variabel utama lain, selain cinta, dalam pilihan yang mereka ambil tentang siapa yang bakal mereka pilih menjadi pasangan hidup mereka. Ketika seseorang akhirnya memilih salah satu dari dua pilihan yang ada di hadapannya, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai orang yang tidak dipilihnya itu.

Terlintas tiba-tiba di benakku sebuah ungkapan yang aku baca dari sebuah majalah remaja saat aku SMA: cinta sejati adalah cinta pertama, karena cinta berikutnya memakai logika. Aku tertawa sendiri sekarang, teringat cinta pertamaku yang memang tanpa logika itu….hahhahaha….

“Dia lelaki berkuda putih yang aku impikan sejak masa kecilku. He is my some one out there that I am waiting for….”

Oooo….romantis sekali. Adakah orang yang tidak menjadi romantis sekaligus melankolis saat ia jatuh cinta? Temanku tidak habis pikir bagaimana ia pernah bisa menulis puisi sedemikian indahnya. Ia tertegun saat membuka-buka kembali buku hariannya kala SMA. Ia tak pernah lagi menulis puisi sejak memilih hidup membiara selepas SMA. Novita, gadis manis adik kelas, itu jawabnya.

“Rasanya mau mati saja…Jangan kamu bicara tentang harapan, Mbonk, aku sudah gak punya tenaga….aku letih…”

Hari-hari pertama, minggu-minggu pertama, juga bulan-bulan pertama dadamu pasti terasa sesak. Letih dan pedih itu manusiawi. Tapi, berpikir bahwa kepedihan dan keletihan karena kehilangan adalah akhir dari segalanya, dan karena itu hidup ini harus diakhiri, menurutku, itu ketololan yang paling sempurna.

Gak peduli apakah kamu hanya akan melihat langit biru sebagai awam hitam, hidup akan terus berjalan. Apakah kamu ingin mengerangkeng dirimu dalam kepedihan? Apakah bagimu persoalan pasangan hidup cuma satu hal yang bisa memberi warna pada hidupmu? Apakah orang setalent dan secerdas kamu cuma berpikir segera menikah dan punya anak? Omaigat. Life is richer than it.

Kasihan sekali dimensi kehidupan kamu yang lain: bakat-bakat kamu, hobi-hobi kamu, teman-teman kamu, keluarga kamu. Mereka ternyata gak lebih dari sekedar sampah di pojok ruang hatimu. Kalau mereka memang gak lebih dari sekadar onggokan busuk yang gak bisa menggoreskan sedikitpun warna pada hidupmu, ambil saja Baygon dan katakan selamat tinggal pada kehidupan yang ternyata telah salah memilih kamu untuk memelihara dan mengembangkanya. Tapi, sebaiknya jangan Baygon. Temanku punya ide lebih cemerlang. Cari orang untuk kamu ajak bercinta, mintalah kepadanya untuk mencekik kamu saat kamu orgasme.

“Kamu gak mengerti Mbonk. Kamu gak mengerti apa yang aku rasakan. Sama seperti yang lain, kamu selalu menganggap bahwa aku akan kuat menghadapi ini….”

Kamu selalu berpikir bahwa kamu harus mendapatkan apa yang kamu inginkan. Untuk itulah kamu menghabiskan seluruh energimu pada hasrat keharusan itu. Persoalannya, kita acapkali tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Hidup sering tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita itu. Ada kenyataan-kenyataan yang tidak bisa kita ubah. Bagian itu memang bukan wilayah kita. Selalu ada garis demarkasi atas kemanusiaan kita. Saat kita bertemu dengan situasi dimana kita tidak bisa mengubah kenyataan itu, satu hal yang bisa kita lakukan adalah mengubah harapan kita.

“Aku sudah katakan kalau aku tidak lagi punya harapan. Apa lagi yang harus aku ubah?”

Bulshit! Kamu masih mematok ekspektasi kamu setinggi langit. Kamu tidak rela menurunkannya barang seinci. Kamu menutup ruang keikhlasan di hatimu. Untuk keduakalinya kamu membohongi diri kamu sendiri.

………
………
………
………

la vita e bela,
but sometimes we can’t see…

Lima belas jam hari kemarin saya berkutat dengan tumpukan kertas, buku-buku, dan tuts komputer. Delapan jam saya duduk di depan komputer dan hanya menghasilkan tiga paragrap yang tidak bermutu. Proses yang panjang untuk sekedar menghasilkan empat lembar tulisan catatan akhir tahun.

Ide menulis baru muncul jam delapan malam setelah saya tidur, mandi, dan nonton tv. Proses yang mudah untuk menyelesaikannya kemudian meski diselingin nonton siaran misteri di televisi.

Tapi saya belum bisa lega, masih ada satu tulisan catatan akhir tahun lain yang harus selesai hari Sabtu ini. Sial, saya belum melakukan riset sedikit pun. Selain itu saya masih harus menyelesaikan tiga tulisan lain lagi. Yang terakhir ini lebih mudah ketimbang dua tulisan catatan akhir tahun yang membutuhkan riset seabrek itu. Pffuiiihhh…baru kali ini saya eneg melihat deretan abjad berserakan di depan mata saya.

Saya betul-betul ingin libur!!!

Ing,…
kucurikan untukmu
sinar bulan
tadi malam

jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Ing,…
ingin kubuatkan
rumah untukmu
di tepi telaga
seperti sering
engkau bercerita

Juga, ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan, kita menikmati senja
dari beranda rumah itu

Temanku yang satu ini luar biasa. Sampai sekarang aku gak habis pikir darimana dia mendapatkan energi sebesar itu. Semangatnya tak pernah pupus menyulut bara-bara perlawanan pada tiap komunitas yang ditemuinya.

“Lo sadar gak sih, Mbonk. Situasinya genting lho. Militer dan Orba sekarang ada dimana-mana. Gua kemarin ditelpon temen gua. Dia sekarang jadi operator Cendana. Dia minta bantuin gua untuk Tutut masuk ke korban gusuran. Gila! Dia pikir gua udah gak waras apa?” dia bicara berapi-api seperti biasanya.

“Sekarang coba lo pikir,” dia melanjutkan, “Kekuatan mana yang betul-betul reformis sekarang ini. Siapa yang betul-betul melanjutkan perjuangan kita kemarin. Kita mahasiswa memang betul-betul bodoh. Kita seharusnya tidak ragu melakukan revolusi saat itu. Sekarang, kalau kita gak segera bergerak, semuanya akan terlambat. Gerakan restorasi yang mereka lakukan sungguh sempurna. Mereka menjelma seperti siluman dan ada dimana-mana,” abu rokoknya yang panjang pada batang Marlboro di sela jarinya jatuh di celananya yang kumal. Dia mengibaskannya asal.

“Kita harus segera melakukan konsolidasi,” dia belum berhenti. Disulutnya lagi sebatang rokok. “Dan, menyiapkan agenda aksi perlawanan. Situasinya sudah sangat genting. Mereka menyusup sedemikian rupa dan kita telah tercerai berai. Partainya Hartono itu mesin cuci uang,” dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Bagaimana pendapat lo?,” tanyanya.
“Blis, apa sih kekhawatiran real dari kembalinya mereka, militer dan orba?” aku balik bertanya.
“Represifitas dan otoritarianisme!”
“Lo yakin bahwa masyarakat bodoh dan struktur demokrasi yang ada sekarang tidak bisa menjadi kontrol atas kekhawatiran itu?”
“Kita pantas khawatir karena tak ada respon secuil pun tentang kemunculan Hartono dan Tutut. Megawati tidak memuaskan. Kebijakan-kebijakan tidak ada yang berpihak pada masyarakat. Rakyat kecewa. Kerinduan akan masa lalu pelan-pelan tumbuh subur. Ini titik kritis!”
“Apa yang rakyat pahami tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme? Bukankah yang penting bagi mereka bisa beli beras murah, ongkos gak naik, lapangan pekerjaan banyak, gak ada gusuran….”
“Itu, Mbonk…itu! Kita harus membumikan gagasan-gagasan kita tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita harus menterjemahkan itu semua dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Gerakan kita harus kita bangun dari sana.”
“Dari mana kita memulainya?”
“Kita kumpulin lagi kawan-kawan 98.”
“Trus?”
“Kita omong-omong aja dulu, brainstorming.”
“Trus?”
“Kita lihat, apa yang bisa kita lakukan dari sana.”

Aku menuangkan teh poci yang cukup lama aku diamkan. Teh poci. Ya, teh poci. Dengan siapapun aku nongkrong di tempat itu, aku selalu pesan minuman beraroma ini. Lumayan masih hangat. Aku sempat khawatir obrolan kami membuat teh ini menjadi dingin. Aku menyukai teh yang jenis ini. Teh celup bagiku terasa hambar. Meski produsen sebuah perusahaan teh mati-matian mencitrakan produknya sebagai simbol kebersamaan, bagiku ini soal rasa, bukan citra yang dikesankan.

“Lo gak pengen cari kerjaan yang lebih baik, Blis?” sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutku.
“Maksud lo pindah ke perusahaan yang lebih kapitalis?” dia tertawa sesaat untuk kemudian tersenyum kecut.
“Cukuplah 1,2 juta ini buat gua,” sambungnya. “Gua gak ingin dibeli terlalu jauh oleh kaum kapitalis.”
“Tapi kan suatu saat nanti lo akan menikah, mikirin rumah, punya anak, biaya susu, sekolah, dan lain-lain.”
“Mbonk,” dia menggeser tubuhnya dan menatapku tajam. “Gua miskin sejak gua kecil. Gua pernah dipenjara. Kehidupan ini telah merampas semuanya dari gua, tapi gak ada yang bisa merampas hati dan semangat gua. Kalau kemudian gua menggadaikan idealisme ini, apa lagi yang gua punya?”

Aku terdiam. Tahun 1995 temanku, Iblis –demikan kami memanggilnya–, ditahan lima hari oleh tentara. Tuduhannya menghina kepala negara. Di ruang interogasi, orang-orang berperawakan kekar berambut cepak menuntut penjelasan atas foto-foto yang mereka buat pada kamar mandinya. Pada dinding kamar mandinya ia memasang foto Soeharto. Di bawah foto itu, ia merangkai huruf-huruf yang diambilnya dari potongan-potongan surat kabar: “orang tua ini hanya pantas berada di ruangan ini”. Bagian yang paling pribadi dalam hidupnya dirampas. Tahun 1996, ia kembali ditahan empat bulan. Tuduhannya: dalang kerusuhan 27 Juli.

Here I am…

…Will You send me an angel

Here I am…

…or Jibril I need you to come

take me to the stars