Temanku yang satu ini luar biasa. Sampai sekarang aku gak habis pikir darimana dia mendapatkan energi sebesar itu. Semangatnya tak pernah pupus menyulut bara-bara perlawanan pada tiap komunitas yang ditemuinya.

“Lo sadar gak sih, Mbonk. Situasinya genting lho. Militer dan Orba sekarang ada dimana-mana. Gua kemarin ditelpon temen gua. Dia sekarang jadi operator Cendana. Dia minta bantuin gua untuk Tutut masuk ke korban gusuran. Gila! Dia pikir gua udah gak waras apa?” dia bicara berapi-api seperti biasanya.

“Sekarang coba lo pikir,” dia melanjutkan, “Kekuatan mana yang betul-betul reformis sekarang ini. Siapa yang betul-betul melanjutkan perjuangan kita kemarin. Kita mahasiswa memang betul-betul bodoh. Kita seharusnya tidak ragu melakukan revolusi saat itu. Sekarang, kalau kita gak segera bergerak, semuanya akan terlambat. Gerakan restorasi yang mereka lakukan sungguh sempurna. Mereka menjelma seperti siluman dan ada dimana-mana,” abu rokoknya yang panjang pada batang Marlboro di sela jarinya jatuh di celananya yang kumal. Dia mengibaskannya asal.

“Kita harus segera melakukan konsolidasi,” dia belum berhenti. Disulutnya lagi sebatang rokok. “Dan, menyiapkan agenda aksi perlawanan. Situasinya sudah sangat genting. Mereka menyusup sedemikian rupa dan kita telah tercerai berai. Partainya Hartono itu mesin cuci uang,” dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Bagaimana pendapat lo?,” tanyanya.
“Blis, apa sih kekhawatiran real dari kembalinya mereka, militer dan orba?” aku balik bertanya.
“Represifitas dan otoritarianisme!”
“Lo yakin bahwa masyarakat bodoh dan struktur demokrasi yang ada sekarang tidak bisa menjadi kontrol atas kekhawatiran itu?”
“Kita pantas khawatir karena tak ada respon secuil pun tentang kemunculan Hartono dan Tutut. Megawati tidak memuaskan. Kebijakan-kebijakan tidak ada yang berpihak pada masyarakat. Rakyat kecewa. Kerinduan akan masa lalu pelan-pelan tumbuh subur. Ini titik kritis!”
“Apa yang rakyat pahami tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme? Bukankah yang penting bagi mereka bisa beli beras murah, ongkos gak naik, lapangan pekerjaan banyak, gak ada gusuran….”
“Itu, Mbonk…itu! Kita harus membumikan gagasan-gagasan kita tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita harus menterjemahkan itu semua dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Gerakan kita harus kita bangun dari sana.”
“Dari mana kita memulainya?”
“Kita kumpulin lagi kawan-kawan 98.”
“Trus?”
“Kita omong-omong aja dulu, brainstorming.”
“Trus?”
“Kita lihat, apa yang bisa kita lakukan dari sana.”

Aku menuangkan teh poci yang cukup lama aku diamkan. Teh poci. Ya, teh poci. Dengan siapapun aku nongkrong di tempat itu, aku selalu pesan minuman beraroma ini. Lumayan masih hangat. Aku sempat khawatir obrolan kami membuat teh ini menjadi dingin. Aku menyukai teh yang jenis ini. Teh celup bagiku terasa hambar. Meski produsen sebuah perusahaan teh mati-matian mencitrakan produknya sebagai simbol kebersamaan, bagiku ini soal rasa, bukan citra yang dikesankan.

“Lo gak pengen cari kerjaan yang lebih baik, Blis?” sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutku.
“Maksud lo pindah ke perusahaan yang lebih kapitalis?” dia tertawa sesaat untuk kemudian tersenyum kecut.
“Cukuplah 1,2 juta ini buat gua,” sambungnya. “Gua gak ingin dibeli terlalu jauh oleh kaum kapitalis.”
“Tapi kan suatu saat nanti lo akan menikah, mikirin rumah, punya anak, biaya susu, sekolah, dan lain-lain.”
“Mbonk,” dia menggeser tubuhnya dan menatapku tajam. “Gua miskin sejak gua kecil. Gua pernah dipenjara. Kehidupan ini telah merampas semuanya dari gua, tapi gak ada yang bisa merampas hati dan semangat gua. Kalau kemudian gua menggadaikan idealisme ini, apa lagi yang gua punya?”

Aku terdiam. Tahun 1995 temanku, Iblis –demikan kami memanggilnya–, ditahan lima hari oleh tentara. Tuduhannya menghina kepala negara. Di ruang interogasi, orang-orang berperawakan kekar berambut cepak menuntut penjelasan atas foto-foto yang mereka buat pada kamar mandinya. Pada dinding kamar mandinya ia memasang foto Soeharto. Di bawah foto itu, ia merangkai huruf-huruf yang diambilnya dari potongan-potongan surat kabar: “orang tua ini hanya pantas berada di ruangan ini”. Bagian yang paling pribadi dalam hidupnya dirampas. Tahun 1996, ia kembali ditahan empat bulan. Tuduhannya: dalang kerusuhan 27 Juli.

Iklan