You are currently browsing the monthly archive for Februari 2004.

Pada apakah kamu mendedikasikan hidup kamu yang cuma sekali ini? Atau begini, hidup macam apa sih yang ingin kamu jalani? Menjadi terkenal? Populer? Kaya? Bahagia?…..

Bahagia?! Seperti apakah kamu mendefinisikan kebahagiaan? Pernahkah kamu membayangkan suatu saat nanti, ketika kamu mati, kamu mati dengan tersenyum, dengan perasaan damai karena hidup yang kamu tinggalkan tidak menyisakan kebohongan. Kehidupan yang tulus. Kebaikan dari hati yang bersih tanpa pamrih. Ya, kebaikan tanpa pamrih surga dan neraka. Kebaikan yang tidak berpretensi pada iming-iming sebuah konsep absurd tentang surga.

Apakah pahala? Menjilati pantatnya TUHAN? Nampaknya kita harus menggagas ulang tentang konsep surga dan neraka. Aku sudah menghapus jauh-jauh hari gagasan tentang siksa api dan dayang-dayang peri.

Iklan

“Hi, saya Mbonk. Sorry, telat.”
“Gak papa,” dia tersenyum sambil mengulurkan tangan.

Alamak! Saya tersihir. Dua puluh delapan kilometer. Itu angka yang tertera pada speedometer motor saya. Saya berjuang meyakinkan diri untuk tidak memikirkan apapun. Yang terjadi, terjadilah. Seperti daun kering yang ditiup angin. Seperti air yang mengalir. Tidak tahu hari esok. Juga tidak berharap apapun tentang hari esok. No mind. No hope. And, no words.

Valentine’s day. Duh, hingar bingar deh. Orang-orang bicara tentang cinta. Lagu-lagu di radio jadi melankolis. Film-film di tv menawarkan kisah-kisah penguras air mata. Mal-mal menyulap dandanannya dengan nuansa merah muda. Tak lupa, bunga mawar merah dan ornamen sebentuk hati bertebaran di mana-mana. Café-café gak mau kalah. Sejumlah sajian khusus ditawarkan untuk pesta satu malam hari ini. Ayo-ayo, mari merayakan cinta.

Tidak begitu penting mengusut asal-asal pesta hari ini. 14 Februari telah menjadi artefak sejarah dalam perjalanan panjang modernisme. Ia adalah produk kultural, gaya hidup, sebuah simbol dari gagasan abstrak tentang cinta dan kasih sayang.

Hari ini seperti sebuah keniscayaan ketika ritual konsumerisme selalu membutuhkan kejadian, momentum. Valentine adalah kejadian atau momentum untuk menyelenggarakan ritual itu. Kapitalisme mencitrakannya sebagai komoditas yang harus kita beli. Dan, masyarakat modern memang tidak lagi mengkonsumsi sesuatu berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi fungsi utilitas, tapi berkaitan dengan unsur simbolik untuk menandai kelas, status, atau simbol tertentu. Hari ini kita tidak sedang mengkonsumsi cinta dan kasih sayang. Kita tengah mengkonsumsi simbol dan makna-makna sosial di balik tanggal 14 Februari.

Met valentine ya…

Gila! Hari ini capek sekali. Akbar Tandjung bebas dan saya tidak punya kata-kata. Poster. Speaker. Retorika. Dan, keletihan tersisa. Semoga, yang tertinggal hanyalah hati nurani dan kelapangan hati agar mendung kali ini betul-betul punya arti.

Ada banyak hal yang tidak ideal dalam hidup ini. Kehidupan selalu satu paket: senang-susah, menangis-tertawa, baik-buruk, cantik-jelek, enak-tidak enak, dan seterusnya. Kita tidak bisa memilih hanya menjalani satu bagian dari paket-paket kehidupan itu.

Ada banyak hal yang tidak ideal dalam hidup ini. Siapakah kita ini sehingga bisa mengatur jalannya kehidupan. Kita cuma setitik debu di jagad raya. Kita hanyalah bagian kecil dari sebuah dentuman besar, begitu dikatakan dalam Dunia Sophie. Tapi, kita adalah bintang kecil yang hidup. Bintang kecil yang diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari ketidakterhinggaan jagad ini. Kita boleh berkarya, berpikir, berencana, bekerja, dan menancapkan cita-cita sebagai manusia.

Ada banyak hal yang tidak ideal dalam hidup ini. Melengkapi yang satu berarti kekurangan untuk hal yang lain. Memaksakan semuanya kerapkali malah memperpanjang daftar keruwetan. Tapi, apakah artinya menancapkan cita-cita kala semua hal menjadi mudah tanpa masalah? Apakah ada yang disebut kebanggaan kala semua yang kita inginkan cukup didapatkan hanya dengan mengedipkan mata?

Syukurlah bahwa ada banyak hal yang tidak ideal dalam hidup ini. Sebab, dengannya kita boleh bercita-cita. Dengan bercita-cita kita boleh belajar tentang perjuangan. Dengan perjuangan kita boleh memberi arti pada kehidupan. Dan, ketika saatnya tiba, kita boleh tersenyum dan berterimakasih karena diberi kesempatan untuk menjadi sebuah bintang kecil yang hidup.

Biarlah kesusahan hari ini cukup untuk hari ini. Memikirkannya terus dan hanyut di dalamnya toh tidak akan menyelesaikan persoalan. Sementara, kesusahan berikutnya sudah menunggu esok pagi.

seraut wajah pada jendela gedung berlantai lima itu adalah kamu. catatan usang dari sejarah panjang hari-hari yang berjalan perlahan. itu, daun-daun akasia jatuh di pinggir jalan waktu kita santap siomay di warung jajanan.

Ada di sini untukmu, Ing,
masih kusimpan dalam jarik lurik
yang kau berikan malam kemarin.
Sepasang kupu-kupu terbang dekat pundakmu
waktu kupagut mulutmu dari kisut mantelmu yang kusut.

Aku masih di sini, Ing,
menunggumu datang dengan sebingkai senyum.
Aku melihat wajahmu pada dinding bulan,
cukup untuk mengobati rinduku tadi malam.
Tak apa dengan hari-hari yang panjang.
Sebab, apakah hidup jika kau tak punya harapan.

Masih untukmu, Ing,
belum ada yang mencurinya.
Tapi, penaku kehabisan kata-kata
sebelum usai kusebut satu nama.