Valentine’s day. Duh, hingar bingar deh. Orang-orang bicara tentang cinta. Lagu-lagu di radio jadi melankolis. Film-film di tv menawarkan kisah-kisah penguras air mata. Mal-mal menyulap dandanannya dengan nuansa merah muda. Tak lupa, bunga mawar merah dan ornamen sebentuk hati bertebaran di mana-mana. Café-café gak mau kalah. Sejumlah sajian khusus ditawarkan untuk pesta satu malam hari ini. Ayo-ayo, mari merayakan cinta.

Tidak begitu penting mengusut asal-asal pesta hari ini. 14 Februari telah menjadi artefak sejarah dalam perjalanan panjang modernisme. Ia adalah produk kultural, gaya hidup, sebuah simbol dari gagasan abstrak tentang cinta dan kasih sayang.

Hari ini seperti sebuah keniscayaan ketika ritual konsumerisme selalu membutuhkan kejadian, momentum. Valentine adalah kejadian atau momentum untuk menyelenggarakan ritual itu. Kapitalisme mencitrakannya sebagai komoditas yang harus kita beli. Dan, masyarakat modern memang tidak lagi mengkonsumsi sesuatu berkaitan dengan nilai guna dalam rangka memenuhi fungsi utilitas, tapi berkaitan dengan unsur simbolik untuk menandai kelas, status, atau simbol tertentu. Hari ini kita tidak sedang mengkonsumsi cinta dan kasih sayang. Kita tengah mengkonsumsi simbol dan makna-makna sosial di balik tanggal 14 Februari.

Met valentine ya…

Iklan