“Hi, saya Mbonk. Sorry, telat.”
“Gak papa,” dia tersenyum sambil mengulurkan tangan.

Alamak! Saya tersihir. Dua puluh delapan kilometer. Itu angka yang tertera pada speedometer motor saya. Saya berjuang meyakinkan diri untuk tidak memikirkan apapun. Yang terjadi, terjadilah. Seperti daun kering yang ditiup angin. Seperti air yang mengalir. Tidak tahu hari esok. Juga tidak berharap apapun tentang hari esok. No mind. No hope. And, no words.

Iklan