You are currently browsing the monthly archive for Maret 2004.

Ini tentang mimpi, Jeng, tentang pil pahit yang enggan kita telan. Aku rasa kita semua punya pengalaman tentang mimpi dan pil pahit itu. Dan, aku tuliskan ini untukmu sambil menyeruput kopi. Pagi yang indah. Ada kupu-kupu hinggap di cangkir kopiku.

Tentang pil pahit itu, Jeng, kita mungkin mengatakan bahwa kita telah menelannya, tapi kita tahu bahwa kita masih menyimpannya di balik lidah. Apakah batas dunia mimpi dan kenyataan itu, Jeng? Batasnya adalah kejujuran pada diri sendiri. Kamu pasti tidak suka. Aku juga tidak suka. Entah kenapa kehidupan selalu merangkai kejujuran pada bingkai yang perih. Tapi, kita tidak bisa berhenti. Matahari tetap terbit besok pagi.

Tentang mimpi itu, Jeng, aku katakan padamu bahwa aku pernah enggan bangun dari tidur panjangku. Usai kamu menutup telepon, aku membongkar lagi catatan harian dari masa lalu. Buku bersampul hitam di pojok lemari, aku masih menyimpannya. Ya, aku masih menyimpan seluruh catatan-catatan yang kugoreskan sejak aku SMA.

Tentang buku bersampul hitam itu, aku menemukan tulisan ini di salah satu lembarannya yang mulai menguning. Aku kutipkan untuk kamu cerita tentang mimpi, tentang keengganan untuk bangun meski hari sudah siang.

Ketika kita memilih untuk bermimpi, kita enggan membuka jendela kamar kita. Padahal, kalau saja kita mau membuka jendela, dunia ternyata tidak sesempit kamar kita yang pengap. Di balik jendela, di kebun depan rumah, ada bunga mawar yang tengah mekar. Pada kelopaknya ada tetes air bekas hujan semalam.

6 Maret 2003

Aku takut Dien. Malam ini aku takut. Dan, aku tahu kamu hanya akan mencibiri ketakutan itu. Apakah aku berdoa agar ketakutan itu tidak terjadi? Tidak. Aku pasti berdoa agar ketakutankulah yang terjadi. Seperti pahlawan ya….klise! Dan, kamu akan menjawab, “Pret!” Begitulah, kamu akan berlari menjadi bayang-bayang yang jauh menghilang di balik ufuk.

Pernah gak, Dien, kamu mengalami keadaan dimana kamu sadar kalau kamu sedang bercengkerama dengan mimpi. Kamu sadar betul kalau itu adalah kebodohan dan kesia-siaan, tapi kamu tetap memilih berada dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Karena, buatmu itu adalah saat-saat paling indah dalam hidup kamu. Setiap hari, kamu gak mau mengakhirinya; kamu gak mau bangun dari mimpi kamu. Pernah gak kamu mengalami kamu merasa bahagia dengan kebodohan dan kesia-siaan. Kamu mengorbankan nyaris seluruh hidup kamu dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Lucunya, kamu menjalaninya dengan sadar.

Begitu, Jeng, sebuah catatan tentang satu hari di masa lalu….Itu sinar matahari menunggu di depan pintu….Kamu masih enggan bangun?

Iklan

Selamat pagi, Jeng. Tadi malam aku kehujanan. Angin kencang, udara dingin, dan aku menggigil di jalanan. Aku membayangkan kamu memelukku dari belakang. Kau sandarkan kepalamu pada punggungku, Jeng, lenyap angin dan udara dingin. Sampai di rumah, aku tidak mandi. Aku takut kehangatan itu pergi. Bersama pelukmu dalam diam aku tidur sampai hari pagi. Terimakasih, Jeng, telah menemaniku tadi malam.

Aku lebih menikmati hujan ketimbang senja. Pada senja, langit yang merah melahirkan kekosongan dalam hatiku. Pada hujan, bumi yang basah membawa kesegaran.

Demikian sore ini, aku menikmati hujan dari beranda rumah nenekku. Butiran air bening jatuh membentuk garis-garis lurus seperti benang-benang tipis yang terentang antara langit dan bumi. Satu-satu jatuh pecah di atas tanah seperti kaki-kaki malaikat kecil menari, berloncatan membentuk ritmis pada ronce gerimis.

Dan, kau Ing, bersembunyi di balik gunung-gunung batu di belakang rumah nenekku. Kau dengar rinduku memburu pada nyanyi hujan yang pecah di atas tanah.

Saya baru saja menonton film The Passion of Christ. Adik saya mendapatkan bajakan dvd-nya di Blok M. Dia beli dengan harga Rp 15 ribu. Di Glodok mestinya lebih murah. Penasaran memang, ingin sekali tahu seperti apakah film yang diributkan banyak orang itu.

Sebagai film, karya Mel Gibson ini menurut saya biasa saja. Untuk menikmati sebuah film, jauh lebih menarik menonton Cold Mountain atau The Lord of The Rings, atau seperti yang terakhir kemarin saya beli, Cinema Paradiso. The Passion seperti visualisasi jalan salib. Adegan dibuka dengan cerita di taman Getsemani. Yesus manusia terlihat cemas dan alone di taman yang gelap. Seperti cerita dalam kitab suci, Ia mendapatkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes tertidur. Selanjutnya, film bertutur tentang adegan jalan salib yang menampilkan gambaran penderitaan seorang Yesus yang disebut-sebut paling eksplisit yang pernah digambarkan dalam sebuah film.

Ia ditangkap oleh imam-imam Yahudi. Mereka mencari celah untuk mendorong Yesus dalam koridor hukum Romawi yang memungkinkan hukuman mati. Imam-imam Yahudi gerah. Pemuda gondrong berusia tiga puluhan tahun itu tiba-tiba muncul di tengah masyarakat mereka dan bicara pedas tentang tradisi dan keyakinan iman mereka.

Sekadar sharing, film ini merangsang kontemplasi kita. Sepanjang 2 jam 6 menit menonton film itu, kepala saya dipenuhi pertanyaan: Seperti apakah kejadiannya seandainya Yesus untuk keduakalinya datang kedunia sekarang ini?

Saya berimajinasi, Yesus tidak datang dari langit yang terbelah; tidak dengan cahaya gemerlap dan nyanyian malaikat surga. Tiba-tiba saja ada orang muda berusia tigapuluhan tahun mengaku-ngaku Yesus. Ia menyatakan dirinya sebagai juruselamat.

Orang muda ini tidak berjubah. Seperti layaknya orang muda, kadang ia pakai jins, kaos oblong, sandal jepit. Rambutnya tidak gondrong. Rapi, malah kadang dicat coklat, ungu, atau merah. Dia suka jalan ke mal. Kadang-kadang nongkrong di Café. Ia penyuka pesta, kadang-kadang mabuk pula. Ia orang yang penuh dengan kegembiraan, penuh semangat hidup. Kata-katanya keras mengkritik Gereja dan para pastur.

Ia mengecam para pastur yang disebutnya seperti kuburan yang dilabur putih, sebelah luarnya memang putih tapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Ia datang ke gereja dan menjungkirbalikan meja-meja pendaftaran ziarek. Ia mengecam gereja sebagai istana gading yang angkuh, pusat seremonial formal yang kehilangan roh.

Ia mungkin menerbitkan sebuah buku dan memberi tafsiran baru atas sabda-sabda Yesus di Kitab Suci. Tasfiran-tafsiran yang ia kemukakan sungguh berbeda dengan tafsiran yang diyakini oleh umat krisitani sekarang ini. Ia membongkar seluruh gagasan kita tentang doa, misa, gereja, rosario, santo-santa, bahkan gereja sebagai sebuah strukstur sosial.

Meski gaul, namun sosoknya mencerminkan empati kemanusiaan yang dalam. Namanya populer di antara kaum gembel di Jakarta. Ia tinggal di pinggir kali dan ikut-ikut demo waktu Sutiyoso melakukan penggusuran.

Ia ada ditengah-tengah kita tanpa embel-embel agama tertentu di KTP-nya. Ia tidak punya agama, kalau yang kita maksud agama adalah seperti yang kita cantumkan di KTP. Ia bicara tentang TUHAN tapi tidak punya agama. Ia tidak peduli dengan apa yang disebut oleh kita sebagai agama.

Selama menonton film itu saya bertanya-tanya, apakah benar tafsiran iman yang diyakini sekarang ini? Paham tentang keselamatan? Menebus dosa manusia? Gereja? Misa? Rabu Abu? Jalan Salib? Kamis Putih? Kebangkitan? Kekristenan? Katholik?

Bagaimana jika tiba-tiba ada orang yang “mengaku-ngaku” Yesus dan berteriak lantang, bukan seperti yang dipahami sekarang?! Seperti apakah Gereja akan “menyalibkannya”?

Seringkali, sesuatu yang paling mahal dari dirimu tidak memiliki harga untuk sesuatu yang kau inginkan. Tak apa. Adakalanya pilihan terbaik yang bisa kauambil adalah menitipkan mimpimu pada bintang-bintang di langit, biar ia menjadi keabadian di tempatnya yang sejati. Kau bisa menengoknya setiap malam kau membuka jendela.