Saya baru saja menonton film The Passion of Christ. Adik saya mendapatkan bajakan dvd-nya di Blok M. Dia beli dengan harga Rp 15 ribu. Di Glodok mestinya lebih murah. Penasaran memang, ingin sekali tahu seperti apakah film yang diributkan banyak orang itu.

Sebagai film, karya Mel Gibson ini menurut saya biasa saja. Untuk menikmati sebuah film, jauh lebih menarik menonton Cold Mountain atau The Lord of The Rings, atau seperti yang terakhir kemarin saya beli, Cinema Paradiso. The Passion seperti visualisasi jalan salib. Adegan dibuka dengan cerita di taman Getsemani. Yesus manusia terlihat cemas dan alone di taman yang gelap. Seperti cerita dalam kitab suci, Ia mendapatkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes tertidur. Selanjutnya, film bertutur tentang adegan jalan salib yang menampilkan gambaran penderitaan seorang Yesus yang disebut-sebut paling eksplisit yang pernah digambarkan dalam sebuah film.

Ia ditangkap oleh imam-imam Yahudi. Mereka mencari celah untuk mendorong Yesus dalam koridor hukum Romawi yang memungkinkan hukuman mati. Imam-imam Yahudi gerah. Pemuda gondrong berusia tiga puluhan tahun itu tiba-tiba muncul di tengah masyarakat mereka dan bicara pedas tentang tradisi dan keyakinan iman mereka.

Sekadar sharing, film ini merangsang kontemplasi kita. Sepanjang 2 jam 6 menit menonton film itu, kepala saya dipenuhi pertanyaan: Seperti apakah kejadiannya seandainya Yesus untuk keduakalinya datang kedunia sekarang ini?

Saya berimajinasi, Yesus tidak datang dari langit yang terbelah; tidak dengan cahaya gemerlap dan nyanyian malaikat surga. Tiba-tiba saja ada orang muda berusia tigapuluhan tahun mengaku-ngaku Yesus. Ia menyatakan dirinya sebagai juruselamat.

Orang muda ini tidak berjubah. Seperti layaknya orang muda, kadang ia pakai jins, kaos oblong, sandal jepit. Rambutnya tidak gondrong. Rapi, malah kadang dicat coklat, ungu, atau merah. Dia suka jalan ke mal. Kadang-kadang nongkrong di Café. Ia penyuka pesta, kadang-kadang mabuk pula. Ia orang yang penuh dengan kegembiraan, penuh semangat hidup. Kata-katanya keras mengkritik Gereja dan para pastur.

Ia mengecam para pastur yang disebutnya seperti kuburan yang dilabur putih, sebelah luarnya memang putih tapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Ia datang ke gereja dan menjungkirbalikan meja-meja pendaftaran ziarek. Ia mengecam gereja sebagai istana gading yang angkuh, pusat seremonial formal yang kehilangan roh.

Ia mungkin menerbitkan sebuah buku dan memberi tafsiran baru atas sabda-sabda Yesus di Kitab Suci. Tasfiran-tafsiran yang ia kemukakan sungguh berbeda dengan tafsiran yang diyakini oleh umat krisitani sekarang ini. Ia membongkar seluruh gagasan kita tentang doa, misa, gereja, rosario, santo-santa, bahkan gereja sebagai sebuah strukstur sosial.

Meski gaul, namun sosoknya mencerminkan empati kemanusiaan yang dalam. Namanya populer di antara kaum gembel di Jakarta. Ia tinggal di pinggir kali dan ikut-ikut demo waktu Sutiyoso melakukan penggusuran.

Ia ada ditengah-tengah kita tanpa embel-embel agama tertentu di KTP-nya. Ia tidak punya agama, kalau yang kita maksud agama adalah seperti yang kita cantumkan di KTP. Ia bicara tentang TUHAN tapi tidak punya agama. Ia tidak peduli dengan apa yang disebut oleh kita sebagai agama.

Selama menonton film itu saya bertanya-tanya, apakah benar tafsiran iman yang diyakini sekarang ini? Paham tentang keselamatan? Menebus dosa manusia? Gereja? Misa? Rabu Abu? Jalan Salib? Kamis Putih? Kebangkitan? Kekristenan? Katholik?

Bagaimana jika tiba-tiba ada orang yang “mengaku-ngaku” Yesus dan berteriak lantang, bukan seperti yang dipahami sekarang?! Seperti apakah Gereja akan “menyalibkannya”?

Iklan