Aku lebih menikmati hujan ketimbang senja. Pada senja, langit yang merah melahirkan kekosongan dalam hatiku. Pada hujan, bumi yang basah membawa kesegaran.

Demikian sore ini, aku menikmati hujan dari beranda rumah nenekku. Butiran air bening jatuh membentuk garis-garis lurus seperti benang-benang tipis yang terentang antara langit dan bumi. Satu-satu jatuh pecah di atas tanah seperti kaki-kaki malaikat kecil menari, berloncatan membentuk ritmis pada ronce gerimis.

Dan, kau Ing, bersembunyi di balik gunung-gunung batu di belakang rumah nenekku. Kau dengar rinduku memburu pada nyanyi hujan yang pecah di atas tanah.

Iklan