Ini tentang mimpi, Jeng, tentang pil pahit yang enggan kita telan. Aku rasa kita semua punya pengalaman tentang mimpi dan pil pahit itu. Dan, aku tuliskan ini untukmu sambil menyeruput kopi. Pagi yang indah. Ada kupu-kupu hinggap di cangkir kopiku.

Tentang pil pahit itu, Jeng, kita mungkin mengatakan bahwa kita telah menelannya, tapi kita tahu bahwa kita masih menyimpannya di balik lidah. Apakah batas dunia mimpi dan kenyataan itu, Jeng? Batasnya adalah kejujuran pada diri sendiri. Kamu pasti tidak suka. Aku juga tidak suka. Entah kenapa kehidupan selalu merangkai kejujuran pada bingkai yang perih. Tapi, kita tidak bisa berhenti. Matahari tetap terbit besok pagi.

Tentang mimpi itu, Jeng, aku katakan padamu bahwa aku pernah enggan bangun dari tidur panjangku. Usai kamu menutup telepon, aku membongkar lagi catatan harian dari masa lalu. Buku bersampul hitam di pojok lemari, aku masih menyimpannya. Ya, aku masih menyimpan seluruh catatan-catatan yang kugoreskan sejak aku SMA.

Tentang buku bersampul hitam itu, aku menemukan tulisan ini di salah satu lembarannya yang mulai menguning. Aku kutipkan untuk kamu cerita tentang mimpi, tentang keengganan untuk bangun meski hari sudah siang.

Ketika kita memilih untuk bermimpi, kita enggan membuka jendela kamar kita. Padahal, kalau saja kita mau membuka jendela, dunia ternyata tidak sesempit kamar kita yang pengap. Di balik jendela, di kebun depan rumah, ada bunga mawar yang tengah mekar. Pada kelopaknya ada tetes air bekas hujan semalam.

6 Maret 2003

Aku takut Dien. Malam ini aku takut. Dan, aku tahu kamu hanya akan mencibiri ketakutan itu. Apakah aku berdoa agar ketakutan itu tidak terjadi? Tidak. Aku pasti berdoa agar ketakutankulah yang terjadi. Seperti pahlawan ya….klise! Dan, kamu akan menjawab, “Pret!” Begitulah, kamu akan berlari menjadi bayang-bayang yang jauh menghilang di balik ufuk.

Pernah gak, Dien, kamu mengalami keadaan dimana kamu sadar kalau kamu sedang bercengkerama dengan mimpi. Kamu sadar betul kalau itu adalah kebodohan dan kesia-siaan, tapi kamu tetap memilih berada dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Karena, buatmu itu adalah saat-saat paling indah dalam hidup kamu. Setiap hari, kamu gak mau mengakhirinya; kamu gak mau bangun dari mimpi kamu. Pernah gak kamu mengalami kamu merasa bahagia dengan kebodohan dan kesia-siaan. Kamu mengorbankan nyaris seluruh hidup kamu dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Lucunya, kamu menjalaninya dengan sadar.

Begitu, Jeng, sebuah catatan tentang satu hari di masa lalu….Itu sinar matahari menunggu di depan pintu….Kamu masih enggan bangun?

Iklan