You are currently browsing the monthly archive for April 2004.

…..
I have no idea
…..

aku tidak mempunyai judul untuk postingan kali ini. seperti halnya, aku tak menemukan judul untuk sepenggal kisah yang ingin kuceritakan. aku tidak tahu apakah kami duduk di beranda rumah yang sama. kehangatan yang diberikannya setiap sore menelurkan kerinduan untuk selalu mengulangi ritual-ritual yang sama: duduk di samping jendela, menghisap rokok, dan bercerita tentang kisah-kisah sepanjang siang.

entah siapa yang menciptakan sepotong cerita yang kami tidak tahu bentuknya ini. percayalah, aku tidak pernah mempretensikan semua ini terjadi. serpihan-serpihan cerita ini datang satu per satu, terbang dibawa angin, dan hinggap di pangkuanku. percayalah, tidak ada api yang membakar dan hasrat yang memburu. tiba-tiba saja muncul bara dan kehangatan itu menjalar di batinku.

sejak awal aku selalu mengatakan, ini cuma sebentar. ini cuma perhentian melepas penat. jika saatnya tiba, entah kapan, kami akan pergi lagi sendiri-sendiri. aku mungkin ke utara. dia mungkin ke selatan. aku tidak ingin berharap bahwa kami akan melanjutkan perjalanan ini berdua, seperti halnya aku tidak pernah berharap bahwa kami akan bertemu di perhentian ini. angin yang membawa cerita ini datang, biar pula angin yang membawanya pergi.

sepi yang menggigit jantungku
seperti pisau
yang kau tancapkan
pada urat nadiku

(Ia merasa sedih, takut, dan kesepian.
“Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya.”

“Ya Bapa, jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini berlalu daripadaku; tetapi bukan menurut kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”)

-Kamis Putih yang sepi-

Kita harus share dengan Tuhan. Ya, ada bagian-bagian dalam hidup ini yang harus kita share dengan Tuhan. Kita cuma bintang kecil dari sebuah ledakan besar. Meski kita bintang kecil yang hidup, itu gak boleh membuat kita sombong, karena toh kehidupan si bintang kecil itu juga datang dari-Nya. Terimakasih Tuhan, karena bintang kecil kau berikan ruang untuk ikut serta menggoreskan takdirnya sendiri.

Kita harus share dengan Tuhan, karena hidup tidak selalu menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kita seringkali berada pada titik-titik kehidupan di mana rasionalitas kita tidak mampu untuk memahaminya.

Kita harus share dengan Tuhan, karena selalu ada garis demarkasi atas kemanusiaan kita. Kita tidak bisa melewati batas garis itu. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa ada ruang-ruang dalam hidup kita yang bukan merupakan kewenangan kita untuk menentukannya. Biarkan ruang-ruang itu tetap menjadi milik-Nya. Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak-Nya; dan berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar.

Dan kau, Ing, berdiri di seberang garis batas itu. Kau sunggingkan senyum dan rambutmu berkibar-kibar ditiup angin. Sosokmu serupa kabut di remang cahaya bulan.

Ing,…
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Sebaris doa tanpa asap dupa dan wangi bunga
Angin datang membawa cinta,
dan wajahmu mengendap di kepala

Ing,…
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Cuma sebaris doa
Semoga angin membawamu pulang
Dengan seikat bunga