You are currently browsing the monthly archive for Mei 2004.

“Kalau kamu sedang suntuk, kamu boleh memakanku,” Iwed menawarkan tubuhnya untuk aku makan. Tadi siang, ia meminta ijin padaku, apakah dia boleh memakan tubuhku. “Aku lagi sebel, sayang. Aku ingin makan orang. Aku boleh memakan kuping kamu ya…” pintanya merajuk. Aku mengangguk. Dan, dengan lembut, ia memakan kupingku sebelah kanan.

“Tadi siang, aku memilih kupingmu untuk aku makan. Sekarang, kamu mau memakan bagian mana dari tubuhku?” dia bertanya.
“Aku mau memakan bibirmu.”
“Kenapa bibirku?”
“Dari seluruh bagian tubuhmu, aku paling suka dengan bibirmu.”
“Kenapa begitu?”
“Sebab bibirmu bagus. Warnanya merah muda, dan selalu terlihat basah.”
“Hihihihihi…” Iwed tertawa manja. Mukanya tersipu, merona kemerahan.
“Ini, makanlah bibirku. Tapi makannya pelan-pelan ya,” gadis cantik mungil di depanku itu kemudian memejamkan matanya. Bibirnya setengah terbuka menantiku untuk melumatnya. Aku merengkuh kepalanya dengan lembut, membawanya dalam pelukanku. Perlahan, kudekatkan bibirku ke bibirnya.

Belum lagi kusentuh bibirnya, ia membuka matanya.
“Sayang, kalau kamu memakan bibirku, aku nanti tidak punya bibir lagi. Aku hanya memakan satu kupingmu sehingga kamu masih memilikinya satu lagi,” katanya setengah berbisik.
“Kalau begitu, aku hanya akan memakan sebagian saja dari bibirmu. Aku hanya akan memakan bibir bawahmu sebelah kanan saja,” napasku memburu. Jantungku berdegup keras. Tak kutunggu ia memejamkan mata waktu kulumat bibir merah mudanya yang basah. Rasanya manis dan hangat. Aku lupa kalau aku berjanji hanya akan memakan bibir bawahnya sebelah kanan.

Iklan

dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat…..Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. lalu, ketika hatimu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu…..

va’ dove ti porta il cuore

ada kelopak mawar yang mati di sudut taman di depan gubuk itu. daunnya menghitam dan jatuh luruh di atas tanah. sekarang memang bukan musim bunga, bukan musim kekawin, cuma cinta semusim dari hati yang renta. tidak ada yang hilang dari sepotong ingatan yang tak pernah kita kenang. sebab, angin telah membawa kita pergi. aku ke utara. kamu ke selatan.

embun pagi bertebaran di atas rumput saat aku mencium bau laut. di kejauhan aku mendengar kepak camar yang mencicit girang memanggilku pulang. aku membayangi tiang sampan dan sepotong layar dari kain belacu tua berkibar-kibar ditiup angin. Di sini, Ing, di saku baju, persis di sebelah jantungku, masih kusimpan sinar bulan yang kucurikan untukmu kemarin malam.