Maaf teman-teman, sekian bulan saya tidak mengurus ruang kecil saya di jagad maya ini. Saya tengah sibuk mengurus kepulangan Ing. Dia pergi lama dan jauh sekali, sehingga ada banyak hal yang harus saya siapkan menjelang kepulangannya. O, iya, kalian juga boleh memanggilnya Iwed. Saya senang memanggilnya Iw-iw. Sekarang dia sudah ada di rumah, di sini, di samping saya. Saya memintanya untuk tidak pergi lagi. Dia berjanji pada saya untuk tidak kemana-mana lagi. “Aku sangat merindukanmu. Dan, aku tidak ingin pergi lagi,” katanya seraya memeluk saya.

Begitulah, akhirnya saya serahkan sinar bulan yang saya curikan untuknya di malam-malam yang saya lewati seorang diri. Lama, saya simpan sinar itu di saku saya. Sekarang sinar bulan itu disimpan di saku bajunya, persis di sebelah jantungnya. Saya senang melihat sinar bulan itu acapkali berpendar di matanya. Ada rasa hangat yang menjalar di nadi saya tiap kali saya memandang mata itu.

Ing, kucurikan untukmu
sinar bulan tadi malam
jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin segera membangun rumah di tepi telaga seperti sering ia bercerita. Saya pernah berjanji mendirikan rumah untuknya di sana. Juga saya pernah berjanji menanam bunga kembang sepatu di depan rumah itu.

Kami ingin menetap selamanya di rumah itu, menikmati semburat jingga pada setiap senja (selain hujan, saya mulai menikmati senja sekarang), membayangkan anak cucu kami tumbuh dan besar di sana. Tidak ada lagi kekosongan pada tiap senja yang jingga. Tidak cuma ada gelap pada langit malam. Tidak cuma ada dingin pada hujan yang jatuh di atas tanah.

Ing, ingin kubangun untukmu sebuah rumah
di tepi telaga seperti sering engkau bercerita

Juga ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan kita menikmati senja dari beranda rumah itu

Iklan