Lhokseumawe, 275 kilometer di Timur kota Banda Aceh. Angin yang panas dan terik matahari yang menyengat membakar kulit jadi hitam kemerahan. Sejurus di kejauhan, di atas belukar hutan bakau, di Barat kota, lidah-lidah api menjulur dari tiang-tiang penyulingan gas alam milik PT Arun LNG. Lhokseumawe kota yang panas. Tidak hanya karena cuaca tapi juga oleh letupan senapan dalam konflik yang membawa ketidakpastian tentang masa depan.

Kota kedua terbesar di bumi serambi mekah ini ditasbihkan menjadi kota industri. Di dalam perutnya terdapat kandungan gas alam terbesar di Indonesia. Jadilah hokseumawe ladang gas alam setelah Exxon Mobil, sebuah perusahaan Amerika, menemukan sumur-sumur gas di Aceh Utara pada tahun 1970-an. Exxon membangun ladang gas alamnya di bagian Timur kota. Sementara di bagian Barat, ladang gas Arun berdekatan dengan pabrik pupuk PT Iskandar Muda, pabrik pupuk PT Asean Aceh Fertilizer,dan pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh.

Namun ironis, Lhokseumawe bukan kota yang makmur. Gemerlap kota industri hanya sebatas pagar pabrik-pabrik besar itu. Di luar pagar, rumah-rumah semi permanen beratap seng bejajar di pinggir jalan raya Medan – Banda Aceh. Pabrik-pabrik besar itu hanya memberikan sedikit keuntungan bagi masyarakat di sana.

Sebagai kota industri, tidak ada tempat hiburan di Lhokseumawe. Tidak ada bioskop, Pizza Hut atau Kentucky Fried Chicken. Satu-satunya mal di wilayah Cunda, Cunda Plaza, hanya menyisakan bangunan tua tak terurus di pinggir kotak-kotak tambak. Mal itu hangus terbakar saat kerusuhan nasional menjelang lengsernya Soeharto tahun 1998 ikut merembet di Lhokseumawe.

Tempat hiburan termewah di sana adalah duduk-duduk di sore hari, menikmati angin laut di warung-warung makan yang menggelar kursi dan meja tanpa atap di pinggir jalan di simpang lestari sambil menyantap sate padang dan jus terong belanda. Simpang lestari adalah sebuah pertigaan di pusat pertokoan di kota Lhokseumawe. Ia menjadi pusat kota sekaligus satu-satunya pusat keramaian.

Aceh memang bukan tempat yang menguntungkan untuk menanamkan investasi. Konflik tak berkesudahan di daerah ini membuat pertumbuhan pembangunan di wilayah yang subur dan kaya ini seperti berhenti. Jangankan untuk, berinvestasi, membangun sekolah yang hangus terbakar saja pemerintah daerah harus berpikir dua kali. Sebab, pemda khawatir setelah dibangun susah-susah, sekolah itu dibakar lagi.

Di kota itulah, operasi pemulihan keamanan menumpas kelompok separatis bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dikendalikan. Markas Komando Operasi (Koops) TNI di di Aceh diapit oleh markas Komando Resor Militer 011/ Lilawangsa dan markas POM. Letaknya kurang lebih 100 meter dari tempat hiburan termewah di simpang lestari.
Di kota kecil itu kendaraan tempur militer mengangkut tentara berseliweran dengan moncong senapan menyembul dari dalam. Sementara, mobil-mobil kijang bertulisan pers bersar-besar di sekujur badannya ikut meramaikan suasana kota. Di kota itu pula sejumlah wartawan dari luar aceh terkonsentrasi melakukan peliputan pelaksanaan operasi pemulihan keamanan.

Paranoid

Di kota yang panas melakukan peliputan bukan tanpa cemas, terutama bagi wartawan belabel embeded. Wartawan embeded adalah mereka yang telah mengikuti pelatihan kedaruratan militer yang diselenggarakan oleh Mabes TNI. Pelatihan ini memang khusus diadakan untuk membekali para wartawan saat meliput di Aceh. Mereka mempunyai akses untuk melakukan peliputan langsung di garis depan pertempuran.

Sejak Mabes TNI menggagas program ini pertengahan Mei lalu, embeded journalist sudah memunculkan kontroversi. Upaya TNI merangkul media untuk memenangkan perang di Aceh dikhawatirkan mengaburkan independensi dan objektivitas media.

Tidak hanya ramai di Jakarta, masalah label embeded ini rupanya terus menguntit juga di Aceh. Cerita-cerita seram beredar seputar embeded journalis. Cerita yang membuat kami takut karena menyangkut kemungkinan pulang tinggal nama.

Kecemasan menjadi embeded journalist ini menghantui kami pada hari-hari pertama peliputan di sana. Rombongan embeded berjumlah 20 orang datang pada hari kedua pelaksanaan operasi militer dengan menumpang pesawat Hercules dari pangkalan udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Sebelumnya, beberapa teman berlabel embeded sudah datang terlebih dahulu.

Dari Bandara kami dijemput oleh pihak satgaspen dengan bis berukuran sedang. Kami langsung dibawa ke markas Koops. Di sana ada ruangan khusus yang disediakan bagi kami. Ruangan itu adalah sebuah barak memanjang berukuran kuran lebih 3 x 12 meter. Di dalamnya tersusun 25 velbed untuk kami tidur.

Para wartawan yang tiba terlebih dahulu sebelum penetapan status darurat militer, banyak tinggal di Hotel Vinavira, kurang lebih 50 meter di seberang sisi kanan makoops. Di kota Lhokseumawe sendiri ada tiga hotel, Lido Graha yang berkelas lumayan dan dua hotel kelas melati, Selat Malaka dan Vinavira. Namun, dengan alasan keamanan, sebagian besar wartawan memilih tinggal di Hotel Vinavira. Hotel itu penuh oleh wartawan. Satu kamar, bisa ditempati oleh tiga atau empat wartawan, tidur “umplek-umplekan”. Tidak mudah mencari kamar kosong atau sekedar tumpangan di hotel yang menyediakan 25 kamar ini.

Meskipun hanya kelas melati, namun itu lebih nyaman ketimbang tidur di barak. Namun, pada hari pertama, kami tidak berani keluar dari barak meski hanya sekedar untuk mengurus hotel. Ada rumor yang beredar bahwa GAM mencari wartawan embeded. Daftar nama para wartawan yang mengikuti pelatihan di Gunung Sanggabuana, menurut rumor itu, sudah ada di tangan GAM. Mereka mencari kami karena beranggapan kami adalah bagian dari militer Indonesia.

Tapi itu bukan sekedar rumor, dua rekan wartawan wanita yang memegang ID embeded dari dua stasiun televisi nasional bercerita mereka baru saja dilepas oleh GAM setelah ditawan beberapa saat di daerah Bireun. Ceritanya, mereka tengah melakukan peliputan tentang anggota DPRD yang tewas ditembak GAM. Ketika hendak keluar dari desa itu, mereka dicegat anggota GAM bersenjata. Mereka diinterogasi mengenai wartawan embed. “Mereka punya daftar nama kita. Untung gue lolos,” ujar salah seorang teman wartawan itu. Mereka berhasil mengelabui orang-orang bersenjata itu.

Teman wartawan lain yang tidak masuk dalam kategori wartawan embeded juga bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan seorang petinggi GAM. Ia ditanyai banyak hal tentang wartawan embeded ini.

Tak heran, kalau tiga hari pertama kami tidak berani keluar dari barak makoops TNI di Lhokseumawe. Jalan raya di depan makoops terasa menyeramkan. Pusat keramaian di simpang lestari yang cuma berjarak 100 meter tidak berani kami sambangi. Dalam benak kami, ancaman mengintai di mana-mana.

Apalagi, pada malam pertama, kami mendengar suara ledakan dikejauhan sekitar pk 20.00 malam. Namun kota tetap sunyi. Jalanan sepi seperti kota mati. Kami tidak tahu ledakan itu terjadi dimana. Ada perang yang tersembunyi. Dan, kami merasa, kami adalah salah satu sasarannya.

Pada hari kedua, saya bersama beberapa teman wartawan memberanikan diri keluar “kandang” untuk mengurus penginapan di hotel “palestine”-nya Lhokseumawe. Saya mendapat kamar di bagian belakang di lantai dua hotel itu. Kamar sederhana dengan pintu kamar mandi yang tidak bisa di kunci. Ada kipas angin besar di langit-langit. Suaranya “gemberadak” seperti baling-baling Hercules. Tapi itu sangat lumayan untuk mengusir hawa panas. Juga jauh lebih nyaman dibanding barak yang sesak.

Hari kedua, meski sudah berani mengurus hotel dan tak sabar untuk ingin melihat langsung situasi kota, kami tetap belum berani beranjak dari radius makoops dan hotel. Kami hanya melakukan peliputan dinamika di koops.

Selama tiga hari merasa dikejar-kejar oleh kecemasan yang tidak jelas, teman-teman yang memiliki jaringan dengan kelompok GAM memberanikan diri untuk meminta klarikasi, apakah betul mereka memusuhi kami. Nyatanya jawabannya begitu melegakan. GAM sama sekali tidak pernah memusuhi embeded. Kalaupun ada sikap mereka yang keras, itu menyangkut kabar bahwa para embeded mengenakan seragam tentara selama peliputan.

Pada bagian ini, petinggi GAM itu menyatakan, jangan salahkan kami jika wartawan tertembak. Setelah, mendapat penjelasan bahwa para embeded tidak mengenakan seragam tentara dan label itu sama sekali tidak mempengaruhi independensi dan objektivitas petinggi GAM itu mengerti. Dia mengatakan tidak pernah ada instruksi dari atas untuk melakukan sweeping terhadap para embeded.

Tapi, toh, itu belum menghilangkan ketakutan kami. Wartawan embeded tetap merasa paranoid. Pada hari ketiga, listrik tiba-tiba padam sekitar Pk 23.00 wib. Para wartawan masih belum tidur. Sebagian masih bercengkerama di luar kamar. “Wah, sabotase nih, hati-hati” seorang teman wartawan mencoba berseloroh.

Masih dalam suasana gelap, tak lama kemudian kami mendengar suara langkah kaki bergegas menaiki tangga. Dua sosok kepala muncul dari kegelapan undakan tangga. Napas mereka tersengal.

“Wah, parno (paranoid) gue. Baru tiga hari udah parno kayak gini,” salah seorang dari sosok gelap itu berujar.Rupanya dua orang itu adalah dua teman kami yang memang sedang kami tunggu-tunggu sejak tadi. Mereka fotografer.

Teman tadi bercerita, waktu listrik tiba-tiba padam, mereka sedang berada di jalan, tidak jauh dari hotel. “Gelap banget, gak bisa ngeliat apa-apa,” tutur dia. “Tiba-tiba dari arah depan ada suara motor. Kita panik waktu ngeliat lampu motor itu mengarah ke kita. Spontan, kita tiarap di aspal,” ujar dia serius.

Kami tertawa geli mendengar cerita teman kami ini. Padahal kalau dipikir, ketakutan itu sama sekali tidak beralasan. Sebab, kedua teman itu tiarap di depan markas koops TNI. Di sisi kanan kiri markas itu ada markas Korem dan POM. Sementara, di belakang kawasan itu ada komplek perumahan tentara.

Rasanya nekat sekali kalau ada GAM yang menerobos kawasan markas tentara untuk melakukan serangan. Memang kami sering mendengar cerita-cerita penembakan atau pelemparan bom yang dilakukan oleh orang-orang yang mengendarai sepeda motor. Ketakutan itu adalah bagian dari rasa tidak aman yang tertanam di alam bawah sadar sejak teror embeded journalis bergaung di hari pertama kedatangan kami di bumi nangroe tercinta.

Salam Merdeka

Seiring dengan bergulirnya hari, kami semakin berani untuk melebarkan jejak liputan kami. Dengan menyewa mobil kijang, kami menyusuri wilayah Lhoksukon, sekitar satu jam perjalanan ke arah Timur kota Lhokseumawe. Kami juga berani melakukan perjalanan menuju kota Banda Aceh, sekitar lima jam perjalanan, melintasi pegunungan Seulawah yang sunyi.

Meski begitu, kecemasan masih terus muncul setiap kali kami menyadari bahwa kendaraan kami melintas sendirian di jalan yang lengang. Kami tidak pernah yakin bahwa tulisan pers yang terpampang besar-besar di sisi kanan kiri depan belakang mobil kami menjadi jaminan. Sebab, mobil kijang sewaan sebuah televisi swasta pernah ditembaki. Tapi itulah, keberanian kami seringkali bukan karena kami memang berani tapi karena kami tidak tahu wilayah mana yang berbahaya.

Pernah suatu kali, kami mendengar informasi tentang tertangkapnya seorang panglima sagoe di daerah Sawang. Menurut informasi, mereka di tahan di pos militer di daerah itu. Dua mobil kijang berisi sejumlah wartawan bergegas menuju Sawang, kira-kira satu jam perjalanan dari Lhokseumawe. Kami masuk jauh ke pelosok desa menyusuri jalan kecil dan hamparan sawah di wilayah yang berbukit-bukit.

Setelah berjalan cukup jauh dan tanya sana-sini, rupanya kami nyasar. Pos militer yang hendak kami tuju, telah jauh terlewati. Kami pun berbalik arah. Sesampainya di pos itu, kami bercerita dengan beberapa prajurit TNI di sana kalau kami kesasar. Mereka tampak heran.

“Wah, kalian berani sekali masuk ke daerah itu. Daerah itu basis GAM. Kami tidak berani ke sana. Kami baru saja kontak kemarin,” kata salah seorang prajurit. Wah, beruntung sekali. Tak terbayangkan jika kami terjebak di tengah konflik bersenjata di jalan desa yang kecil itu.

Pendek cerita, setelah mendapatkan informasi yang kami butuhkan, kami kembali pulang. Di tengah jalan, kami bertemu dengan dua orang pasukan TNI yang sedang berjalan di sebuah lapangan rumput. Seorang teman berinisiatif menegur dua orang prajurit itu.

“Bagaimana situasi Pak, aman?” teman itu berteriak dari jendela mobil yang jalan melambat.
“Aman!” balas kedua prajurit itu serentak seraya mengangkat tangan dengan mengacungkan jempol.
“Ok, Pak, merdeka!” teman itu berteriak sambil mengepalkan tangannya.
Kedua prajurit itu tampak termangu. Mereka urung mengangkat tangan membalas sapaan teman itu.

Ups, melihat gelagat yang janggal, teman tadi sadar dan meralat ucapannya.
“Gak jadi merdeka, Pak. Selamat bertugas!”
Kedua prajurit itu tersenyum dan melambaikan tangan.
“Hati-hati di jalan!” teriak mereka.

Di dalam mobil kami tertawa geli. Kami pun baru sadar bahwa kata “merdeka” memiliki makna yang lain di Aceh. Mungkin mereka sempat mengira kami anggota GAM. Selama ini kami memaknai kata “merdeka” sebagai salam persatuan nasional yang tidak hanya kerap diucapkan oleh tentara tapi juga oleh para politisi di DPR setiap kali mereka hendak menyampaikan pandangan fraksi di rapat paripurna.

Powered by ScribeFire.

Iklan