Trip to Babel (4)

Usai melihat pabrik sambal lingkung Freddy Boen, kami menikmati santap siang di RM Pribumi di kota Tanjung Pandan. Ini rumah makan melayu dengan hindangan khas bersantan. Menunya udang berbumbu merah dengan tomat-tomat kecil utuh, cumi bersantan berwarna kuning, orek tempe, krecek bersantan kental, tongkol goreng. Melihat fisiknya saya mengira udang dan cuminya pasti pedas. Ternyata tidak! Kedua menu tersebut rasanya manis.

Menu unggulan rumah makan ini adalah kepiting telur. Olahannya sederhana saja: cangkang kepiting dimasukan ke dalam telur yang sudah diaduk lalu digoreng. Rasanya pun sederhana, gurih sedikit asin. Menu ini cuma ada di RM Pribumi.
Usai santap siang kami meluncur ke Tanjung Tinggi. Di sana kami akan bermalam. Menurut cerita pantai Tanjung Tinggi amatlah elok seelok Dian Sastro yang selebritis itu. Dalam salah satu artikelnya di kolom Jalansutra Pak Bondan pernah menulis “Ke Belitung Tanpa Dian Sastro”. Pengambilan gambar untuk iklan sebuah sabun kecantikan yang dibintangi Dian Sastro diambil di pantai ini. Sabun kecantikan yang dibintangi bintang cantik diambil di tempat yang cantik. Alamak! Saya tidak ingin mengamini semua “provokasi” itu sebelum datang dan melihatnya sendiri.

Tanjung Tinggi terletak di bagian Utara Pulau Belitung. Jaraknya sekitar 24 km dari Tanjung Pandan dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Hujan deras menemani perjalanan kami ke sana. Untunglah menjelang Tanjung Tinggi hujan berhenti. Kalau tidak bagaimana kami bisa menikmati pantai sebelum hari gelap. Jalanan lengang. Minibus kami meluncur deras menyusuri pinggir pantai. Dari jendela minibus saya bisa melihat bibir pantai berpasir putih di sela-sela rerimbunan semak di kiri jalan.

Kami tiba di Bungalow The Villa Lor-In sekitar pk 15.00 wib. Ini adalah satu-satunya resort terbaik di sini. Beberapa bagian bangunannya kurang terawat. Di sejumlah tempat alang-alang tumbuh tinggi tidak terpotong. Vila Lor-In terletak persis di depan pantai yang dipisahkan oleh jalan raya. Ada belasan cottage di tempat peristirahatan tanpa pagar ini.
Tempat ini sepi. Sunyi. Kita bisa mendengar suara serangga di siang hari. Selesai membereskan barang bawaan di kamar, kami segera meluncur ke Pantai Tanjung Tinggi yang jaraknya sekitar dua kilometer dari Lor-In.

Wow! Pantai yang perawan. Rombongan kami adalah satu-satunya kerumunan di tempat itu. Pasirnya putih halus. Andrew tidak menipu saya ketika bercerita tentang pasirnya yang sehalus tepung terigu. Pantai ini tenang sekali seperti puteri yang sedang lelap tertidur. Tidak ada debur ombak di airnya yang jernih memantulkan biru langit. Sungguh, Tanjung Tinggi adalah keindahan yang tersembunyi. Saya bisa mengerti kenapa Dian Sastro dipadukan dengan pantai ini.
Di sepanjang sisi pantai ada banyak sekali batu granit besar-besar. Saya membayangkan betapa ajaibnya tangan-tangan besar yang menyusun batu-batu ini. Sejumlah tumpukan batu membentuk tebing kecil. Di bawahnya terdapat celah-celah serupa lorong yang bisa dilewati orang. Kami menyusuri celah-celah batu yang terendam air laut. Gerombolan ikan-ikan kecil sebesar ibu jari mencandai kaki kami.

Beberapa teman segera menceburkan diri ke dalam laut. Snorkeling. Lor-In menyewakan peralatannya. Tidak mahal. Hanya Rp 10 ribu. Saya memilih duduk di atas sebuah batu besar menikmati pemandangan lepas ke laut luas. Di tengah laut tampak beberapa perahu nelayan hilir mudik perlahan. Di bawah terdengar derai tawa teman-teman ditingkahi kecipak air.

Entah berapa lama saya duduk terdiam di atas batu besar itu. Ketika saya sadar saya tidak lagi mendengar kegaduhan. Pantai ini tiba-tiba sunyi. Saya melihat ke bawah. Teman-teman membentuk kelompok-kelompok kecil duduk di atas batu-batu besar. Di salah satu batu besar Irvan dan Andrew tampak tidur telentang.

Hari menjelang senja. Matahari turun di depan pandangan kami. Ah, sayang sekali, awan tebal menutup langit di ufuk barat yang mulai menguning. Sekelompok camar terbang di langit menari ditiup angin. Saya terus terdiam…kembali hilang… dan waktu berhenti di Tanjung Tinggi…
(Bersambung)

___________________
*Artikel ini dimuat di http://www.kompas.com

Iklan