Trip to Babel (5)

Kami hanya semalam menginap di Lor-In. Setelah puas mencumbui sunyi di Tanjung Tinggi pagi-pagi benar kami segera meluncur ke pelabuhan Tanjung Pandan untuk menyeberang Selat Gaspar menuju Pulau Bangka.

Ada catatan yang tersisa di Belitung tentang gangan. Kami menikmatinya sebagai santap malam di RM Mabai. Ijinkan saya menyimpan ceritanya sampai saya bertemu lempah di Bangka. Gangan dan lempah serupa tapi tak sama. Keduanya adalah yang khas dari Belitung dan Bangka.

Pukul 06.00 wib. Matahari belum sepenuhnya muncul. Sinarnya di ufuk timur membias menembus gumpalan awan kelabu di langit. Kabut masih menyelimuti dedaunan ketika minibus kami meluncur kembali ke Tanjung Pandan melintasi jalan yang sepi. Kami memang harus bergegas mengejar Kapal Express Bahari yang berangkat pk 07.00 wib melintasi Selat Gaspar menuju Bangka.

Kami tidak boleh terlambat. Jika kami ketinggalan kapal kami harus bermalam kembali di Belitung menunggu kapal esok pagi. Ya, pelayaran pagi Express Bahari menuju Bangka adalah satu-satunya jasa penyeberangan.

Kami tiba di pelabuhan pukul 06.45 wib. Kapal cepat berkapasitas kurang lebih 200 orang sudah menunggu. Tidak banyak penumpang pagi itu. Hampir separuh bangku kosong. Wah, jadwal keberangkatan ternyata molor. Kapal baru melepas sauh pukul 07.30 wib. Di atas kapal kami sempat menikmati lemper bakar sambal lingkung. Seorang ibu menjajakannya. Andrew membelinya sebagai bagian dari paket santapan yang kami nikmati dalam wisata ini. Lemper bakar ini rasanya gurih. Aroma bakar dari daun pisang yang membungkus lemper bercampur gurih sambal lingkung menjadi citarasa yang khas.

Perlahan kapal keluar dari teluk pelabuhan. Setelah keluar dari teluk seketika kapal menambah kecepatan. Udara cerah meski lagi-lagi langit di atas kami berwarna kelabu. Sampai hari kedua kami tidak berjumpa langit biru. Laut juga tenang pagi itu. Riak-riak putih berlompatan membuih di belakang kapal yang melaju cepat membelah laut. Hampir semua anggota rombongan tertidur di dalam kabin penumpang yang berpendingin udara. Hitung-hitung balas dendam karena harus bangun pagi-pagi.

Ada catatan penting yang harus Andan ingat jika melintas Selat Gaspar dengan kapal cepat ini. Rencanakanlah aktivitas yang ingin Anda kerjakan di atas kapal karena waktu yang harus ditempuh melintas selat ini adalah empat jam. Membawa bahan bacaan adalah pilihan yang baik.

Saya sempat tertidur satu jam. Selebihnya saya memilih duduk di dek menikmati laut lepas. Angin berhembus sangat kencang. Matahari terus meninggi dan panasnya makin menyengat. Di tengah laut kami menjumpai beberapa kapal nelayan mencari ikan.

Bajak laut

Di masa silam perairan ini adalah wilayah rawan. Banyak bajak laut berkeliaran. Potongan-potongan film Pirates of The Carribean muncul tenggelam dalam benak saya.
Selat Gaspar adalah bagian dari wilayah perairan Sumatera yang sejak dulu kala menjadi pusat lalu lintas perdagangan dunia. Pada masa itu perairan ini adalah jalur penghubung antara negeri di atas angin (sub benua India, Persia dan Arab) dengan negeri di bawah angin (nusantara) dan Asia Timur (Cina).

Tidak ada catatan yang mengungkapkan kerajaan tertentu di pulau ini. Catatan yang ada selalu menyebutkan bahwa kepulauan Bangka Belitung silih berganti dikuasai oleh kerajaan-kerajaan nusantara juga komplotan bajak laut. Kerajaan yang pernah menguasai Bangka Belitung adalah Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Mataram, Banten dan Kesultanan Palembang. Kerajaan-kerajaan itu berkepentingan menguasai perairan ini karena keberadaan bajak laut sangat mengganggu aktivitas perdagangan.

Sriwijaya adalah kerajaan pertama yang menguasai kepulauan ini. Hal ini ditunjukkan oleh prasasti Kota Kapur yang ditemukan oleh JK Van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892. Prasasti di atas tunggul batu itu berisi kutukan bagi mereka yang tidak taat kepada Raja Sriwijaya.

Setelah kekuasaan Sriwijaya melemah, Sultan Johor dan sekutunya, Raja Alam Harimau Garang, menyerang Bangka untuk membasmi bajak laut. Kesempatan ini juga digunakan untuk menyebarkan agama Islam di kepulauan ini. Perlahan peradaban Islam menggantikan peradaban Hindu di kepulauan ini.

Seiring melemahnya Kerajaan Johor bajak laut kembali bersarang di kepulauan ini. Kapal-kapal saudagar yang membawa barang-barang niaga dirampas dan dirampok. Begitu mengganggunya keberadaan bajak laut di kepulauan ini sampai-sampai Sultan Banten mengirim pasukannya ke Bangka membasmi bajak laut.

Untunglah saya melintasi selat ini di abad 21. Tidak ada lagi bajak laut. Ah, tidak terasa pelabuhan Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, Bangka, sudah terlihat di depan mata. Banyak perahu-perahu besar bersandar di sana. Saya bergegas turun ke ruang penumpang mengemasi bawaan.

(Bersambung)

___________________
*Artikel ini dimuat di http://www.kompas.com

Iklan