Apa yang menarik dari Bangka Belitung? Babel (Bangka-Belitung) Mendengar nama itu, yang ada di kepala saya hanya tempat penambangan timah yang gersang, panas dan kotor.

“Eit, jangan salah! Daerah itu adalah salah satu tempat terindah di Indonesia yang tidak pernah terkeskspos,” Andrew Mulianto, teman saya dari komunitas Jalansutra menjelaskan.
“Pantainya,” lanjut Andrew, “wuiiiihhhhh,” dia mengangkat dua jempol tangannya.
“Pasirnya putih, halus seperti terigu,” promo dia.

Terus terang, Babel tidak pernah masuk dalam list tempat yang harus saya kunjungi. Tentang makanannya saya hanya tahu Martabak Bangka. Selebihnya yang saya tahu tentang Babel adalah timah dan lada putih. Dalam buku pintar yang isinya wajib dihapal ketika saya di sekolah dasar disebutkan, Pulau Bangka adalah penghasil timah terbesar di Indonesia. Selain itu, pulau tersebut juga dikenal sebagai pulau lada putih. Lada asal Bangka mashyur hingga mancanegara.

Menurut sejarah, nama Bangka berasal dari kata “wangka” yang artinya timah. Entah kapan pulai ini disebut Bangka, yang pasti kata “wangka” tertoreh pada prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di dekat Kota Kapur, Bangkat Barat, bertarikh 686 masehi. Biji timah sendiri baru ditemukan pertama kali di pulau itu sekitar tahun 1709 oleh orang-orang Jahore yang melakukan penambangan pertama di tepi Sungai Olin, Toboali.

Pada masa jayanya, tiga perempat cadangan timah di Indonesia berada di Pulau Bangka. Kini kejayaan timah akan menjadi masa lalu karena potensi yang tersisa makin menipis. Jangan kaget, di Pulau Bangka dan Belitung lubang-lubang bekas penggalian timah mencapai lebih dari 20 ribu hektar luasnya.

Pada tahun 2000 Bangka bersama Belitung dan beberapa kepulauan kecil di sekitarnya melepaskan diri dari Sumatera Selatan dan menetapkan diri sebagai provinsi sendiri. Selat Bangka memisahkan Sumatra dan Bangka, sedangkan Selat Gampar memisahkan Bangka dan Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Tiongkok Selatan. Sementara di selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Belitung oleh Selat Karimata.

Usai kejayaan timah, nampaknya Provinsi muda ini perlu mempromosikan diri lebih gencar tentang keelokan dirinya. Tentang Belitung, Bondan Winarno dalam salah satu artikel Jalansutra pernah menulis, konon pulau ini adalah patahan Pulau Bali, Balitong. Seorang ahli geografi Belanda menyebut Biliton. Lafal lidah Melayu kemudian mengucapkannya sebagai Belitung.

Andrew tidak berlebihan ketika mempromosikan pantai di kepulauan Babel ini. Beberapa referensi yang saya baca juga menyebutkan Babel terkenal dengan 3S: Sea (laut), Sand (pasir pantai), dan Sun (matahari). Pantai-pantai di Babel elok nian dengan pasir putih berhias taburan batu granit.

Ada lagi yang unik di sana. Di Bangka dan Belitung lubang-lubang sisa penambangan timah disebut kolong. Setidaknya ada lebih dari 1.000 kolong di Pulau Bangka dan Belitung. Luasnya beragam, dua hingga 50 hektar. Ada satu kolong yang terkenal di Pulau Bangka. Namanya Phak Kak Liang. Lubang besar bekas penambangan timah seluas kurang lebih dua hektar diubah menjadi tempat wisata. Dari Gazebo yang ada di tengah kolong kita bisa melihat ikan-ikan air tawar yang besar-besar hilir mudik. Panjang ikan-ikan itu banyak yang mencapai satu meter. Ikan-ikan itu tidak boleh dipancing.

“Kalau ingin makan ikan ada Seafood yang jempolan. Nanti saya beritahu,” janji Andrew. Banyak makanan enak jugakah di Provinsi muda ini? Soal makanan ternyata tidak hanya martabak Bangka. Ada lempah dan gangan. Untuk selera Belitung ada dodol agar, panpi goreng, sambelingkung, gangan ikan, kue rintak, mie rebus, terasi, tauco, rusip, dan genjer.

Jadi, adakah yang menarik di Bangka Belitung? Sssstttt….nanti saya ceritakan komplit. Saya harus berangkat dulu ke sana. Tidak jauh. Hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta. Jangan kemana-mana, stay tune di MakPles!

Iklan