Epilog: Babel Tidak Cuma Timah!

Hari sudah malam ketika pesawat Sriwijaya Air yang membawa kami dari Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka, mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tidak terasa tiga hari saya meninggalkan ibukota. Waktu berlari begitu cepat. Mendengar kata Bangka Belitung (Babel) di kepala saya tidak lagi terbayang timah.

Puas! Saya merasa menemukan sesuatu yang baru dalam perjalanan ini. Saya yakin sepuluh tahun ke depan jika saya kembali ke Belitung saya tidak lagi menemukan kesunyian di Pantai Tanjung Tinggi. Begitu pula, mungkin mobil kami tidak akan melaju dalam kelengangan menuju Sungai Liat di Bangka. Hanya menunggu waktu sampai Babel populer sebagai kawasan wisata. Apalagi, secara geografis provinsi muda ini letaknya sangat strategis di antara Jakarta dan Singapura.

Terjawab sudah pertanyaan saya di depan, adakah yang menarik dari Babel? Banyak! Suatu saat saya ingin kembali ke sana. Ada beberapa tempat yang tidak sempat saya sambangi dalam kunjungan kali ini. Listnya masih saya simpan untuk kunjungan berikutnya.

Babel layak masuk dalam daftar kunjungan Anda. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari Jakarta. Ciao!

(Selesai)

Iklan