Top of the Top: Buntut Ikan Tenggiri, Gangan dan Lempah

Sinar matahari Bangka begitu menyengat kulit ketika kami tiba di Pelabuhan Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, Bangka. Hari sudah lewat tengah hari. Perut sudah mulai keroncongan.

Di pintu pelabuhan kami melihat tiga orang perempuan muda cantik membawa kertas putih bertuliskan “Tour Jalansutra”. Aha, rupanya mereka pemandu kami selama di Bangka dari agen perjalanan setempat. Pintar nian Andrew mencari partner lokal.

“Kita ke Asui makan siang!” Andrew berteriak saat kami berjalan menuju mobil. Yup! Semua anggota rombongan sudah kelaparan siang itu.

RM Mr Asui terletak di tengah kota Pangkal Pinang, tepatnya di Jalan Kampung Bintang. Kami sempat bingung ketika minibus berhenti di ujung jalan di sebuah persimpangan. Elise, pemandu kami dari agen perjalanan lokal, memberitahu bahwa kami sudah tiba di RM Mr Asui. Kami turun dan melihat plang besar bertulis RM Mr Asui di ujung persimpangan. Namun rumah toko di bawah plang itu tutup.

Rupanya Mr Asui tidak terletak di pinggir jalan. Di sisi ruko yang tutup itu ada jalan kecil berupa gang. RM Mr Asui terletak di dalam gang itu. Ada tiga rumah makan dalam satu deret rumah yang saling berhubungan. Rumah-rumah itu beratap tinggi. Rumah pertama menjual babi panggang, rumah kedua seafood, rumah ketiga mie bangka. Tujuan kami adalah rumah makan yang di tengah, seafood. Mr Asui terkenal dengan seafoodnya.

Menurut Andrew menu makan siang kami sudah disiapkan. Betul saja, sebuah meja panjang sudah tersusun rapi dan lengkap dengan peralatan makan di atas meja. Kami segera memilih posisi. Tidak lama satu persatu makanan keluar. Tiga menu yang perlu dicatat: buntut ikan tenggiri bakar, kepiting saus padang dan tiram serta lempah kuning dan nanas.

Andrew menjelaskan, buntut ikan tenggiri Mr Asui sengaja dipilih sebagai santap siang di hari kedua karena menu ini dipandang sebagai top of the top menu sepanjang wisata kuliner kami. Hidangan ini diolah dengan sangat sederhana, tapi disajikan secara provokatif. Buntut ikan tenggiri sepanjang kurang lebih 30 sentimeter berdaging tebal disajikan utuh lengkap dengan sirip di bagian ekor. Bagian tengahnya disayat lalu dipanggang begitu saja. Dagingnya fresh. Gurih sekali. Dicocol dengan sambal terasi khas bangka, hmmm…yummy….

Olahan kepitingnya juga unik. Seperti lazimnya, potongan-potongan kepiting ditaruh di atas piring besar ditaburi saus. Yang agak berbeda adalah racikan bumbu sausnya. Bumbu saus tiram dan padangnya berbeda dengan Jakarta. Mr Asui lebih manis. Ini yang khas dari Bangka Belitung, olahan bumbu rempahnya selalu diwarnai rasa manis yang dominan dengan pedas di belakang.

Berikutnya lempah kuning dan nanas. Nah, ini dia yang spesial dari Bangka Belitung. Pernah dengar gangan? Apa beda lempah dan gangan? Saya berjanji menuliskannya untuk Anda. Gangan dan lempah adalah sebutan yang berbeda untuk sup ikan khas Bangka Belitung. Gangan populer di Belitung sementara lempah di Bangka. Tampilan keduanya mirip gulai tapi tidak bersantan. Kuahnya agak bening. Rasanya asam manis pedas.

Di RM Mabai, Tanjung Tinggi, kami mencicipi gangan. Isinya kepala ikan ketarap yang berlemak. Gangan khas Belitung dimasak dengan nanas dengan bumbu kemiri, kunyit, lengkuas, cabe dan asam. Sementara di RM Mr Asui kami disajikan dua pilihan lempah kuning dan nanas. Lempah kuning dimasak tanpa nanas berisi ikan pari yang dipotong kotak-kotak. Sementara, lempah nanas dimasak dengan nanas dengan potongan ikan bawal di dalamnya. Lempah nanas lebih manis dibanding lempah kuning. Mungkin Mr Asui menggunakan nanas madu.

Lantas apa bedanya gangan dan lempah? Setelah mencicipi keduanya, menurut saya, gangan di Belitung lebih berani bumbunya. Strong spicy. Kuahnya lebih kental. Sementara lempah lebih lembut dengan kuah lebih bening. Menyantap gangan dan lempah samar-samar saya teringat rasa sayur asam sunda.

Mana yang lebih enak? Tergantung selera. Sebagian suka lempah kuning, sebagian lagi suka lempah nanas. Saya sendiri sangat terkesan dengan gangan di RM Mabai Tanjung Tinggi. Rasanya lebih gahar!

Bermalam di Sungai Liat

Usai menandaskan seafood Mr Asui kami menghabiskan siang dengan mengunjungi penjual babi panggang khas bangka di depan Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka. Ada beberapa penjual di sana. Yang unik mereka berjualan di atas motor. Di sadel belakang motor ada kotak besar tempat gelondongan babi panggang. Tutup kotaknya berfungsi sebagai talenan untuk memotong-motong gelondongan babi sesuai pesanan. Babi panggang khas belitung memang juara. Kulitnya garing sementara dagingnya empuk dengan bumbu yang meresap jauh ke dalam daging.

Dari sana kami langsung menuju pusat penjualan oleh-oleh di belitung. Toko LCK di Jl Jend Sudirman, pusat kota Pangkal Pinang. Toko ini menjual macam-macam oleh-oleh khas Bangka. Sebagian besar adalah kerupuk bangka yang khas terbuat dari ikan. Yang lain daripada yang lain adalah rusip, teri mentah yang difermentasikan. Biasanya rusip digunakan untuk bumbu tapi juga bisa langsung dimakan. Toko ini juga menjual teripang yang sudah dikeringkan. Harganya bisa menjebol kantong. Di almari khusus tempat memajang teripang tertera keterangan enam sampai delapan ekor teripang harganya Rp 2.400.000. Wow!

Selanjutnya setelah memesan oleh-oleh kami meluncur ke Sungai Liat. Kami bermalam di Hotel Parai. Hotel Parai terletak persis di tepi pantai. Kalau pantai Tanjung Tinggi terbuka untuk umum, Pantai Parai hanya bisa dinikmati oleh mereka yang menginap di hotel itu. Pantai ini tak kalah indahnya dengan Tanjung Tinggi. Namun saya merasa tidak ada yang istimewa di sini. Mungkin karena terlalu banyak orang. Saya terus terkenang kesunyian di Tanjung Tinggi.

(Bersambung)

________________________
RM Asui
Jl Kampung Bintang
Kel. Bintang Dalam RT 12/93
Pangkal Pinang, Bangka
Telp: (0717) 423772

RM Mabai
Jl. Pantai Tanjung Tinggi
Belitung
Telp : (0719) 24338

Toko Oleh-oleh LCK
Jl Jend Sudirman No. 30
Pangkal Pinang, Bangka
Tel: (0717) 424163

Hotel Parai Indah
Jl. Pantai Parai Tenggiri
Sungailiat – Bangka
Telp. (0717) 9488, 9401

Iklan