Kampung Gedong, Diorama Hidup Kaum Migran Tiongkok

<!– –>

Sekitar 51 km dari kota Sungai Liat atau 90 km sebelah utara Kota Pangkal Pinang ada perkampungan tua yang dihuni masyarakat asli Cina. Kampung Gedong namanya. Sebanyak 50 kepala keluarga tinggal di kampung itu. Sejak tahun 2000 pemerintah daerah setempat menetapkan kampung tersebut sebagai desa wisata.

Selain Kampung Gedong, perkampungan asli masyrakat Cina juga ada di Parit Tiga Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupatan Bangka, sekitar 124 km dari Kota Sungai Liat. Pemukiman yang sama juga ada di daerah Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, sekitar 54 km dari Kota Sungai Liat. Perkampungan Cina dan kebudayaan Cina yang berserakan di Bangka adalah catatan hidup dari sejarah eksplorasi timah di pulau itu.

Pada hari ketiga, sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan diri mengunjungi Kampung Gedong. Sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat kami tiba di depan sebuah gapura sederhana terbuat dari besi bercat biru muda. Di bagian atasnya terdapat tulisan “Selamat Datang di Desa Wisata Desa Gedong – Kec Belinyu”.

Di depan desa dekat gapura ada kuil kecil tempat pemujaan. Warnanya khas, merah menyala dengan ornamen kuning keemasan. Rumah-rumah tua dari kayu berdiri di kiri kanan jalan desa. Setiap rumah memiliki semacam meja kecil sesaji dengan wadah dupa di tiang pintu depan rumah. Di dalam rumah, di bagian depan yang menghadap ke pintu selalu ada meja sembahyang.

Suasana perkampungan itu sangat sepi dan tenang. Satu dua penghuni kampung tampak duduk di depan rumah menatap kami dengan pandangan menyelidik begitu rombongan kami beriringan masuk kampung.

Kampung Gedong adalah diorama hidup dari sejarah etnis Tionghoa di Bangka. Kehidupan di kampung ini mengambarkan kehidupan yang sama seabad silam ketika kaum migran dari Cina daratan berdatangan mengadu peruntungan sebagai penambang timah.

“Disebut Kampung Gedong karena di kampung ini ada rumah besar. Rumah gedong gitulah. Nanti kita melewati rumah itu,” jelas Elise, pemandu kami dari agen perjalanan setempat.

Yang disebut rumah gedong bukanlah rumah bertingkat dengan desain modern melainkan rumah besar berdinding kayu yang terlihat aus ditempa hujan dan panas matahari. Rumah itu memang paling besar di antara rumah yang lain. Di depan rumah ada plang bertuliskan “Dilarang Masuk”.

“Dulu kita boleh masuk melihat-lihat ke dalam rumah itu. Tapi, belum lama ada pengunjung yang main selonong masuk-masuk ke rumah tanpa permisi. Yang punya rumah marah dan tidak mau lagi rumahnya dimasuki orang luar,” jelas Elise lagi.

Masyarakat Tionghoa di Bangka Belitung adalah keturunan suku Ke Jia atau sering disebut orang Khe. Pada awal abad 18 mereka bermigrasi bedol desa dari Provinsi Guang Dong, Tiongkok. Kala itu orang-orang Suku Ke Jia terkenal sebagai penambang ahli. Sultan Palembang penguasa Bangka sengaja mendatangkan mereka untuk mengolah cadangan timah.

Mulanya yang datang ke Bangka Belitung hanyalah kaum lelaki pekerja. Mereka seperti kaum urban di Jakarta yang secara berkala mudik ke kampung halaman di Tiongkok sana. Banyak pula yang kemudian menetap dan menikah dengan gadis melayu. Keadaan ini terus berlangsung hingga abad ke-20.

Perlahan namun pasti jumlah migran Tionkok terus bertambah. Tidak lagi hanya kaum lelaki kaum wanita juga mulai berdatangan. Lama kelamaan terciptalah pola perkampungan yang unik. Masyarakat Bangka-Melayu yang sehari-hari hidup dari berkebun tinggal dekat sungai. Sementara warga Tionghoa selalu tinggal di sekitar lubang tambang timah.

Masyarakat di Kampung Gedong adalah keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai penambangan di Parit 6. Kegemilangan para bos migran itu telah berlalu dimakan jaman. Kini kampung itu tidak lagi dikenal sebagai kampung penambang melainkan kampung penghasil kemplang.

Kemplang adalah sejenis kerupuk ikan yang banyak dibuat di Palembang dan tempat lain di Sumatera Selatan. Kemplang dibuat dari tapioka, ikan berdaging putih, dan bumbu-bumbu lainnya. Cara pembuatan kemplang cukup sederhana. Daging putih dari ikan digiling, dicampur dengan sedikit air dan bumbu, kemudian diaduk sampai rata dan khalis. Adonan yang dihasilkan dicetak, dikukus, dijemur dan dipanggang atau dijemur.

Entah bagaimana asal mulanya masyarakat di kampung ini beralih profesi menjadi pengrajin kemplang. Kami berjalan terus menuju belakang kampung. Kami memasuki salah satu rumah. Dari luar rumah itu tampak sepi. Rupanya aktivitas penghuninya terjadi di belakang rumah. Ada ruangan besar di bagian belakang yang terhubung dengan rumah induk. Dua orang perempuan setengah baya tampak menggiling tepung tapioka. Di sudut lain dua orang perempuan muda tengah membersihkan ikan.

“Jangan foto. Jangan foto,” salah seorang perempuan muda yang membersihkan ikan berkata sambil memberi tanda dengan tangannya ketika seorang anggota rombongan ingin mengambil gambar mereka. Elise berbisik pada saya yang juga membawa kamera. “Mereka tidak mau difoto. Jangan difoto ya. Nanti mereka marah.”

Saya urung megambil gambar. Saya hanya hilir mudik di dalam rumah tua itu. Ruang depan selain sebagai ruang tamu juga berfungsi sebagai ruang sembahyang. Ada televisi 14 inch di situ. Beberapa orang bocah terkikik menonton tayangan tivi. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Baru saya tahu kemudian dari Elise, masyarakat Kampung Gedong masih berbicara dalam bahasa Khe.

Beberapa teman, terutama para perempuan, berkerumun di ruang tengah yang berfungsi sebagai gudang. Jual beli kemplang berlangsung di ruang itu. Kami tidak lama di Kampung Gedong. Selesai urusan belanja oleh-oleh kami beranjak meninggalkan kampung.

Ketika berjalan keluar kampung ada yang menarik perhatian saya. Di beberapa rumah ada kain merah yang diselempangkan di atas daun pintu.
“Elise, kain merah itu ada artinyakah?” tanya saya.
“O, iya. Itu artinya ada anak gadis di rumah itu,” bisik Elise.

Ooo…Saya berusaha mencuri pandang tiap kali melewati rumah berselempang kain merah. Tapi, tidak pernah berhasil melihat anak gadis pemilik rumah. Ah, mungkin mereka malu dan bersembunyi di dalam kamar.

(Bersambung)

Iklan