Munir Said Thalib. Meski sering berjumpa dalam sejumlah kesempatan, saya tidak memiliki kedekatan khusus dengannya. Kalaupun ketemu di jalan paling sekadar basa-basi, “Halo Cak, mau kemana?” Dan, Munir akan membalas dengan basa-basi pula, “Mau ke sana,” sambil berpikir keras siapa orang ini…hehehe…

Meski jauh dari dekat, tapi toh saya mengenang kata-katanya yang begitu bernas dalam setiap pernyataannya tentang militer dan aneka peristiwa kekerasan yang mengancam hak asasi manusia. Jumpa pers tanpa Cak seperti sayur tanpa bumbu. Tanpa Cak, kepala ini dituntut berpikir keras mencari lead berita. Adanya Cak, kepala ini dituntut lebih keras lagi memilih lead karena apa yang yang dimuntabkan mulutnya menawarkan sejumlah pilihan lead.

Selasa, 7 September 2004, telepon seluler saya berdering, membangunkan tidur saya di siang hari setelah semalaman piket jaga kantor. Kepala saya terasa berat. Mata sulit terbuka. Telepon siang hari itu betul-betul cilaka. Suara di seberang adalah suara seorang kawan yang mengabarkan berita duka. “Di mana lo? Cak Munir meninggal. Anak-anak lagi kumpul di Kontras nih.”

Munir meninggal di atas pesawat Garuda dalam penerbangan menuju Amsterdam. Rohnya melayang-layang di atas Budapest. Raganya kelu diracun Arsenik. Munir dibunuh.

Siapa membunuh Munir?

Iklan