Bandara Soekarno Hatta, Senin, 6 September 2004 malam. Seperti biasa Munir telihat sehat dan ceria. Ia tampak bercengkerama akrab dengan rekan-rekannya dari Kontras dan Imparsial, dua NGO yang didirikannya. Tampak pula Suciwati, isterinya. Mereka mengantar Si Cak yang ingin melanjutkan studi ke Belanda.

Malam yang hangat. Selalu saja ada hal-hal lucu yang membuat tawa di malam itu. Keakraban itu dihentikan oleh waktu. Jam keberangkatan semakin dekat. Munir harus boarding. Lambaian tangan rekan-rekan dan pelukan Suciwati mengiringinya masuk ruang tunggu. Lambaian tangan terakhir. Pelukan terakhir. Malam terakhir.

Waktu keberangkatan makin dekat. Satu per satu para penumpang menyusuri koridor masuk ke pesawat. Di koridor itu seseorang menyapanya dan memperkenalkan diri sebagai Pollycarpus Budihari Priyanto, salah seorang crew Garuda yang tengah menjadi extra crew/aviation security. Dengan ramahnya orang itu menawarkan kursinya di kelas bisnis pada Munir. Ah, Munir tak enak. Ia membeli tiket kelas ekonomi masakan duduk di kelas bisnis. Orang itu meyakinkan tak apa. Munir menyerah. Jadilah ia duduk di kursi 3 K kelas bisnis dalam penerbangan menuju Singapura.

Pukul 21.55. Pesawat Garuda yang ditumpangi Munir meninggalkan Soekarno-Hatta. Di atas pesawat ia memilih mie goreng, juice jeruk dan irisan buah segar sebagai santapannya.

Pukul 00.40 pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura, untuk transit. Pollycarpus, lelaki ramah yang menawarkan kursinya di kelas Bisnis mengajaknya singgah di Coffe Bean. Tidak lama memang waktu transit, hanya satu jam sepuluh menit. Cukuplah untuk ngopi-ngopi. Di Bandara ini pula Munir berkenalan dengan seorang dokter, dr Tarmizi, yang satu penerbangan menuju Amsterdam.

Pukul 01.50 pesawat Garuda meninggalkan Singapura. Munir kembali duduk di kursinya semula nomor 40G di kelas ekonomi. Dijadwalkan, pesawat tiba di Amsterdam 7 September 2004 pukul 08.10 waktu Amsterdam.

Sekitar 40 menit setelah lepas landas Munir merasa ada yang tak beres di perutnya. Ia bolak balik ke toilet. Sekitar 2 jam setelah lepas landas ia mendatangi pramugara Bondan Hernawa dan menyampaikan bahwa dirinya sakit dan ingin dipertemukan dengan dr Tarmizi yang duduk di kelas bisnis di kursi 1 J.

Kepada dr Tarmizi Munir menyampaikan bahwa ia telah muntah dan buang air besar sebanyak 6 kali. Selanjutnya, untuk memudahkan penanganan Munir ditempatkan di kursi nomor 4 bisnis agar dekat dengan dr Tarmizi. Dokter memberinya obat diare, susu serta air garam, tapi Munir terus muntah dan buang air berkali-kali. Dokter kemudian memberinya sebuah suntikan. Munir pun tenang. Ia terlihat tertidur.

Selasa, 7 September 2004, sekitar pukul 04.05 UTC, di atas Budapest, 2 jam sebelum mendara di Schippol, Amsterdam, Munir didapati sudah tidak bernyawa.

Iklan