Mei 2003. Aceh ditetapkan sebagai kawasan darurat militer. Ribuan tentara Indonesia diterjunkan ke sana untuk menumpas kelompok separatis bersenjata GAM.

Siang di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, matahari memanggang jalan-jalan. Panas sekali. Keringat menetes di mana-mana. Bukan teriknya srengenge saja yang memeras air badan ini, desing peluru dan dentam meriam juga membuat hari-hari di kota itu terasa makin membara. Keringat yang jatuh bukan cuma keringat gerah, tapi juga keringat cemas dan was-was. Keringat yang terakhir tidak keluar dari pori-pori, tapi dari bola mata setiap orang yang mendambakan kedamaian di bumi serambi mekah.

Lhokseumawe jadi kota perang. Jalan-jalan dipenuhi tentara yang wira-wiri menyandang bedil. Mirip kisah di film-film . Di luar kota jalan-jalan lengang. Kalaupun ada kendaraan mereka melintas beriringan. Makin hari makin susah saja mencari angkutan. Beberapa kali angkutan-angkutan itu terjebak di tengah kontak senjata antara pasukan TNI dan GAM. Siapa pula yang ingin berada dalam situasi seperti ini. Peluru tidak memiliki mata. Adakah orang memilih berlibur ke tempat perang? Ada!

Suatu siang di Hotel Vina Vira, Lhokseumawe, lelaki berkacamata itu duduk sendiri di sebuah sofa butut di depan kamarnya di lantai dua. Tangan kanannya dibalut perban dan mengenakan kain penyangga yang tersambung di lehernya. Di dada lelaki itu tergantung ID Card yang entah apa informasinya. Lelaki itu tidak sendiri. Seingatku di kamar itu juga ada satu lelaki lagi. Tapi, yang terakhir ini jarang menampakkan batang hidungnya.

Kami hanya berselisih satu kamar. Aku bersama dua orang teman di kamar sudut selatan sementara dua lelaki itu di kamar sudut utara. Di tengah adalah kamar sopir-sopir yang mobilnya disewa para jurnalis melakukan liputan.

Dua lelaki di kamar sudut itu seketika menarik perhatian. Jelas saja, sebab semua kamar di hotel ini dihuni oleh wartawan yang meliput operasi militer kecuali satu kamar di sudut utara di lantai dua. Terjadi bisik-bisik di antara kami, menerka-nerka siapa mereka. Tapi toh akhirnya kami abaikan juga kehadiran dua orang “asing” ini. Kami lantas menyimpulkan begitu saja bahwa mereka adalah perpanjangan tangan tentara yang ditempatkan di hotel ini untuk memantau aktivitas pekerja pers. Wajar saja. Situasi darurat gitu lho.

Siang itu dua orang temanku berinisiatif menghampiri si lelaki berkacamata dan menyapanya. Aku tidak berminat sama sekali ikut serta dan memilih masuk kamar untuk menyelesaikan beberapa tulisan yang harus dikirim siang itu.

Tak lama dua teman kembali.
“Orang yang aneh. Masak liburan ke tempat perang,” gerutu seorang teman.
“Kenapa?” tanyaku.
“itu, orang itu, ngakunya ke sini liburan,” sambar temanku yang satu lagi.
“Emangya siapa sih tuh orang?” rasa penasaranku terusik.
“Ngakunya sih pilot Garuda. Tadi dia nunjukin ID-nya. Namanya…..,” temanku menyebut satu nama yang terasa asing di telinga. Aku bahkan tak mampu mengingatnya. Selintas peristiwa ini lenyap dalam ingatan.

Di Jakarta sekian bulan kemudian Munir diracun di atas pesawat. Sebuah nama dikait-kaitkan dengan peristiwa itu. Nama yang tidak lazim di telingaku. Sosok pemilik nama itu tampil di sejumlah TV. Ia diwawancarai karena namanya disebut-sebut. Aku memeras dahi, rasanya pernah melihat orang itu, tapi tak mampu mengingatnya, sampai akhirnya telepon selularku berdering.

“Masih ingat kan sama orang itu?” kata suara di seberang.
“Enggak ingat. Tapi, aku merasa tidak asing,” jawabku jujur.
“Vina Vira, Lhokseumawe,” suara di seberang mengingatkan.

Aha! Kepalaku terang benderang.

Iklan