You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2008.

”Uang dengan cepat kehilangan maknanya sebagai sistem ukuran bagi produksi dan nilai di dunia nyata. Uang kini semakin tidak bersentuhan dengan realitas.

Hezel Henderson
Paradigms in Progress: Life Beyond Economics
Knowledge System, 1991.

Rabu, 8 Oktober Bursa Efek Indonesia menutup sementara perdagangannya. Katanya, Indeks Harga Saham Gabungan terpelanting sampai 10,38 persen. Aku enggak ngerti babarblas soal ekonomi. Enggak tahu juga apa makna angka 10,38 persen itu.

Kata orang, ini semua imbas dari krisis yang terjadi di Amerika. Di sana ribuan triliun uang telah berubah menjadi semen, bata dan cat. Repotnya, uang-uang itu berasal dari berbagai belahan dunia.

Sejumlah lembaga keuangan di sono yang bertanggunjawab terhadap uang yang dipinjamnya dari berbagai belahan dunia akhirnya bangkrut. Uang telah berubah menjadi batu. Maka, untuk memenuhi kebutuhan uang dicairkanlah investasi di sejumlah negara termasuk Indonesia. Repotnya, investor lokal panik dan ramai-ramai menjual sahamnya. Terjadilah angka 10,38 persen itu.

Cerita penutupan ini makin ramai, karena tidak hanya terjadi di Indonesia. Lantai bursa sejumlah negara lain juga menutup sementara perdagangannya. Itu semua gara-gara kredit macet perumahan di Amerika. Begitu kata orang-orang. Aku ya sok manggut-manggut saja seolah-olah mengerti.

Aku tidak takjub dengan peristiwa yang disebut sebagai sejarah bursa saham di Indonesia ini, karena aku tidak mengerti. Tapi, aku sangat takjub dengan jejaring sistem keuangan dunia. Dunia manusia membangun jejaringnya sendiri menyerupai tubuh dan kosmos. Tubuh itu jika si jempol kaki tertusuk duri, kepala ikut pening. Demikian juga kosmos. Kerusakan pada satu bagian merusak pula secara sistemik bagian lainnya. Tebanglah seluruh hutan di Jawa Barat, maka Jakarta akan terbenam oleh banjir.

Jejaring ekonomi ini pastilah bermula dari jejaring sederhan perdagangan antar pulau dengan sampan di zaman bahaeula dulu. Terkenang aku akan Columbus yang membuktikan bahwa dunia ini terukur. Terbayang pula ribuan perahu yang mengarungi samudera sesudahnya demi cita-cita kolonialisme. Perahu-perahu ini kemudian menghubungkan bagian demi bagian planet ini dalam jejaring perdagangan.

Dulu semuanya real. Pedagang cengkeh langsung mendapatkan uang dari pembelinya. Begitu pula, setiap pembeli pun harus membawa segepok uang kalau ingin belanja dalam jumlah banyak.

Dunia yang real adalah masa lalu.Zaman berubah demikian luar biasa membawa peradaban pada dunia virtual. Yang bermain hanya simbol. Pedagang dan pembeli hampir tidak pernah melihat uang yang menjadi alat tukar perdagangan ketika melakukan transaksi.

Untuk membeli sebungkus rokok seharga Rp 8 ribu Anda hanya perlu menggesek sebuah kartu dan memasukkan sejumlah nomor rahasia pada sebuah alat. Nilai uang Anda hanya deretan angka yang dapat Anda lihat melalui telepon seluler Anda dan Anda tidak perlu menggenggam deretan angka uang itu dalam wujudnya yang baheula di zaman Colombus.

Inilah dunia virtual. Virtual itu semu bagaikan fatamorgana. Tapi, ia juga nyata eksistensial. Dalam wujud baru realitas virtual ini lalu lintas uang pun melebur dalam cara-cara yang virtual pula melalui internet dan komunikasi satelit. Bayangkan, lalu lintas uang adalah lalu lintas angka-angka yang terjadi melalui serat optik dan gelombang-gelombang fisika yang mengapung di udara. Dan itu semua tidak kasatmata. Hebatnya lagi, semua itu bisa dikontrol dari kursi Anda di belakang meja tanpa perlu Anda pergi ke mana-mana.

Dalam era virtual ini, menggelembungkan uang dengan cara membeli anak sapi dan menunggunya besar untuk kemudian dijual adalah cara kuno. Sistem ekonomi virtual memungkinkan uang dikembangkan dengan cara spekulasi, permainan mata uang, permainan perbedaan tingkat suku bunga dan betuk-bentuk lain perdagangan mata uang. Semuanya dimungkinkan karena lalu lintas jaman virtual berlangsung begitu cepat lebih cepat dari kedipan mata. Dan, sekali lagi, Anda tidak pernah melihat uang. Anda hanya melihat simbol.

Dan, simbol-simbol yang hilir mudik di lantai bursa sekarang sedang menggegerkan dunia.

Iklan

Suatu hari Eyang Is, (neneknya isteriku), berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebetulan Fajar, sepupuku, juga sedang main ke rumah. Ia membawa pacarnya, Intan. Saat ngobrol-ngobrol, Fajar baru ngeh kalau Eyang Is tinggal di Semarang. Dia pun langsung nyeletuk sambil menunjuk Intan.

“Ini juga orang Semarang, Yang.”
“Semarangnya mana?” tanya Eyang.
“Erlangga, Yang.”
“Lho, kamu anaknya siapa?” Eyang terlihat surprise. Matanya membelalak.
“Saya cucunya, Eyang Tjip.”
“Ya ampuuunnn…kamu cucunya Pak Tjip toh!” Eyang geleng-geleng kepala.
“Lho, Eyang kenal Eyang Tjip?” Intan terlihat heran.
“Ya kenal. Rumah Eyang dulu di Erlangga, tapi sekarang sudah dijual. Eyang tinggal lama sekali di sana. Salam ya buat Pak Tjip. Bilang dari Eyang Ismail.”

Mas Gatot, suami kakak iparku ikut nimbrung.

“Aku dulu suka cari ikan di selokan depan rumah Eyangmu. Eyang putrimu galak kan?”
“Iya,” Intan cengar-cengir.

Dunia sempit sekali. Mas Gatot juga warga Erlangga. Aku terkenang peristiwa kecil ini saat baca tulisan Pak Tjip di Kompas. Tulisan bagus tentang mudik.

___________________

Indonesia Mudik

Satjipto Rahardjo

Mudik adalah tema yang tepat untuk menggambarkan hiruk pikuk Idul Fitri saat ini. Orang berebut tiket bus, kereta api, dan pesawat untuk kembali ke kampung halaman dan dilakukan dengan ”mati-matian”.

Magnet kampung halaman amat kuat sehingga sering mengabaikan akal sehat. Mangan ora mangan, anggere kumpul (biar tidak makan yang penting kumpul ngariyung).

Mudik mencari fitrah

Kampung halaman bagai magnet besar karena tidak sekadar kembali ke rumah, tetapi ke suasana mistis yang mengelilingi rumah atau kampung halaman. Di situ ada pemuasan kerinduan kepada masa lalu yang penuh tawa dan polos, sebuah daya tarik yang tak dapat dijelaskan dengan akal. Kampung menjadi simbol otentisitas kehidupan. Mudik adalah simbol pergerakan ”dari- masyarakat-ke-komunitas”. Jakarta itu masyarakat, tetapi Kebumen, Sragen, Tuban, Grobogan, dan Trenggalek adalah komunitas yang dirasakan lebih otentik, lebih kental daripada masyarakat.

Mudik Lebaran tahun ini sebaiknya menjadi inspirasi bagi bangsa tentang perlunya menemukan otentisitas kehidupannya. Banyak tanggal pada tahun 2008 berbicara tentang mudik atau kembali ke kampung. Kita mudik ke tahun 1908 saat organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan. Mudik ke tahun 1928 saat ”Sumpah Pemuda” (SP) dikumadangkan. Kembali ke BO dan SP untuk menemukan, mencium, dan menghirup kembali aroma berbangsa yang otentik dan segar. Kita ingin mudik karena banyak hal otentik yang sudah hilang dari kehidupan berbangsa. Kita ingin kembali ke ”sangkan paraning (asal muasal) Indonesia”.

Semua hari itu memalingkan hati ke belakang. Jika para Tofflerian (dari futurolog Alvin Toffler) berbicara tentang ”guncangan masa depan”, kita ingin mundur ke belakang karena kekuatan ”magnet masa lalu” itu.

Bangsa kita memiliki banyak kearifan dan filsafat lokal untuk mengekspresikan suasana mistis, seperti sangkan paraning dumadi (dari mana dan ke mana kehidupan manusia). Almarhum Prof Soemantri Hardjoprakoso, ahli ”psikiatri Jawa” dan seorang Jungian (dari Carl Gustav Jung), menggunakan kata oergreest, Suksma Kawekas, jiwa dan zat yang menjadi asal segalanya.

Mudik itu mencari fitrah, keaslian, sesudah kesasar dalam hidup. Dalam sindrom mudik, berdesak-desakan konsepsi yang berputar di sekitar otensitas atau keaslian itu. Saat manusia terlempar ke dunia dengan centang-perenangnya, mereka juga kehilangan kompas kehidupan. Maka, orang memburu kompas yang sudah hilang. Jung mengatakan, sesudah muncul ”kesadaran individual” dengan berbagai akibat yang menderitakan, orang merindukan ”kesadaran kolektif”, ke suasana damai.

Fitrah manusia

Indonesia menghadapi aneka krisis. Kita bingung, mau ke mana dan apa yang salah? Pada saat seperti itu, fenomena mudik menjadi sumber inspirasi.

Puasa sebulan menjadi momentum untuk tafakur atau berkontemplasi. Ujung tafakur membawa kita kembali kepada sangkan paraning dumadi/urip. Diterjemahkan secara lain, kita ingin hidup fitri, jujur, dan beramanah. Bagi manusia yang hidup dalam ”comberan dunia”, sangkan paran itu menjadi suatu oase penuh keindahan, kejujuran, dan kesalehan di tengah ”zaman edan” yang penuh kepalsuan dan keserakahan. Filsafat urip mung mampir ngombe (hidup hanya singgah untuk minum) sudah dirobek menjadi hidup untuk makan minum sekenyangnya dan menimbun kekayaan sebanyak mungkin dengan segala cara.

Kontemplasi yang jujur membawa kita kepada pengakuan, banyak orang Indonesia tidak hidup dan bekerja secara otentik dan beramanah. Mengapa harus korupsi jika hidup ini hanya sebentar? Mengapa harus menjadi kepala daerah jika otentisitas kita adalah ahli dalam menjahit atau bercocok tanam? Korupsi mengabaikan kejujuran dan keamanahan menjalankan pekerjaan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, dan kepala daerah dianggap lebih gemerlap daripada petani, guru, atau penjaga pintu kereta api. Akibatnya orang melecehkan pekerjaan guru, petani, penyapu jalan, dan lainnya. Pekerjaan asal dijalankan. Orang meninggalkan fitrahnya sebagai tukang jahit, petani, dan guru. Pekerjaan menjadi palsu.

Senyampang dalam suasana Idul Fitri, kita harus kembali kepada fitrah, otentisitas masing- masing. Kita bertindak otentik dan beramanah dalam pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sekecil apa pun dijalankan dengan penuh martabat (dignity). Mari menjadikan Indonesia mudik dan kembali menjadi bangsa yang penuh otentisitas.

Satjipto Rahardjo Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Banyak orang bertanya kenapa Mbonk? Panjang ceritanya. Aku enggan. Tapi, banyak orang tidak percaya kalau ceritanya panjang. Mereka terus memaksaku untuk bercerita. Dan, selalu terjadi, belum selesai ceritaku mereka sudah tertidur dengan iler di mulutnya.

Maka, daripada aku terus bercerita dan terus ditinggal tidur, baiklah aku tuliskan di sini. Sehingga, kalau ada lagi yang bertanya, aku tinggal bilang, “Buka saja bloggku.” Kalau nanti mereka tertidur di depan komputer itu sudah bukan lagi urusanku.

Baiklah, mari kita mulai cerita ini dengan mesin pencari paling top di kolong langit: google. Ketiklah kata “Mbonk” di google. Anda akan mendapatkan dua laman di urutan pertama dan kedua adalah blog ini dan sebuah blog di multiply (abaikan laman di luar dua itu). Masing-masing beralamat “Mbonk”. Dua blog itu milik orang yang berbeda. Blog ini milik Johanes Heru “Mbonk” Margianto, sementara pemilik multiply adalah Fransiskus Xaverius Sigit “Mbonk” Eko Widyananto.

Nah, apakah ada hubungannya antara “Mbonk” pemilik blog ini dan “Mbonk” multiply? Ada. Bahkan sangat erat.

Begini ceritanya…..

“Mbonk Sigit” menghabiskan tiga tahun pendidikan SMA-nya di sebuah sekolah berasrama di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Di asrama itu ada tradisi mengganti nama asli dengan nama julukan. Setiap orang mendapat nama julukan. Entah kenapa, komunitas tidak rela kita mengenakan nama panggilan indah yang diberikan orangtua.

Biasanya nama julukan diberikan karena bentuk tubuh atau perilaku orang itu. Ada teman yang mendapat julukan “Capung” karena kacamatanya tebal sekali sehingga matanya mirip capung. Ada yang dipanggil “Wawut” (wajah semrawut) karena wajahnya memang betul-betul kacau balau. Ada lagi yang mendapat anugerah nama “Cimot” karena tampang dan gerak-geriknya dianggap mirip dengan Cimot adiknya Cuplis. Nah, Sigit pun mendapat kehormatan menyandang nama “Mbonk” di asrama itu. Sigit sudah menjelaskan di blognya tentang kenapa dia mendapat “gelar” “Mbonk”

Tahun 1991 Sigit lulus dan hengkang dari asrama itu. Sementara, jalan hidup menuntunku masuk ke sana. Belum sebulan menjadi warga asrama, suatu siang dua orang kakak kelas menghampiriku. Wajahnya serius. Mereka mengamati anatomi tubuhku seperti mengamati jaringan klorofil di bawah miskroskop. Tak lama wajah mereka berseri-seri. Mereka seperti mendapatkan apa yang mereka cari. Tampangku yang lugu dengan kacamata minus bertengger di atas hidung divonis oleh mereka mirip dengan tampang “Mbonk Sigit”.

Dua orang itu lantas berseru-seru keliling asrama layaknya Archimedes menemukan rumus menghitung volume air. “Reinkarnasi! Reinkarnasi! Reinkarnasi!” Asrama geger. Semua penghuni asrama menelanjangi diriku dengan tatapan matanya. Vonis itupun lantas diamini. Aku cuma bisa bingung enggak mengerti. Siapa itu “Mbonk” yang julukannya aku wariskan.

Aku sendiri tidak kenal dengan “Mbonk Sigit” sebelumnya. Karena ketika aku masuk dia lulus. Jadi aku tidak bisa mengklarifikasi apakah vonis itu benar atau tidak. Tapi, kalaupun Anda tidak setuju dengan pandangan komunitas Anda tidak mungkin sanggup menolaknya. (Beberapa tahun kemudian aku akhirnya bertemu juga dengan “Mbonk Sigit”. Kalau boleh aku membela diri, sungguh vonis itu jauh dari benar, sejauh barat dari timur.)

Begitulah kemudian, semua penghuni asrama memanggilku “Mbonk”. Janggal dan asing mulanya kudengar orang memanggilku dengan nama itu. Namun, lambat laun aku mulai terbiasa. Nama “Heru” perlahan namun pasti lenyap dan mulai dilupakan teman-teman. Kalau orangtuaku berkunjung ke asrama untuk menjenguk anaknya tercinta dan mereka bilang ingin bertemu “Heru” pasti akan dijawab,”Maaf Pak, Bu, di sini enggak ada yang namanya Heru.” Mereka tidak sedang mengerjai orangtuaku, tapi memang mereka sudah lupa dengan identitas itu.

Lulus SMA aku berniat menanggalkan nama panggilan ini. Aku berjuang keras jungkir balik untuk menghidupkan kembali nama lahirku. Tapi, nasib tidak berpihak. Selepas SMA aku satu kampus dengan sejumlah teman asrama yang sudah telanjur mengenalku sebagai “Mbonk”. Setengah mati aku berusaha memperkenalkan diriku kepada teman-teman baru sebagai “Heru”. Tapi, teman-teman asrama satu kampus selalu mengatakan pada semua orang, “Bohong, namanya bukan Heru, Mbonk!.” Nah lu. Pusing kan…

Cerita ini belum berakhir. Kutukan belum selesai. Bahkan ketika masuk kerja pun aku tetap tidak diizinkan oleh “Sang Pemilik Hidup” untuk mengenakan nama “Heru”, identitas yang diberikan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuaku. Jadi, waktu hari pertama aku masuk kerja dan memperkenalkan diri sebagai “Heru”, takdir kehidupan langsung menolaknya.

“Wah, ada dua Heru di kantor ini. Ya sudah, kamu Heru-B ya, yang satu lagi Heru-A karena dia karyawan lama di sini,” kata Mas Ninok bossku waktu itu.

Alamakjan! Gila apa Heru-B. Kayak spesies yang baru ditemukan ajah.
“Ya sudah Mas, panggil saja saya Mbonk,” kataku tanpa gairah.

Untuk e-mail kantor pun aku tidak bisa pake identitas “Heru” karena sudah dipakai si Heru-A. Terus identitas e-mail apa donk? Herumargianto? Halah panjang amat. Johanesheru? Panjang juga dodol! Johanesherumargianto? Mati ajah luh.

“mbonk@kompas.com,” kataku lirih pada Murfi si tukang IT sambil menahan pedih di hati.

Cilakanya, aku menemukan jodohku di kantor ini. Wanita yang menjadi isteriku itu lantas memperkenalkan diriku sebagai “Mbonk” kepada keluarga besarnya. Lengkaplah sudah duniaku.

Hei….belum tidur kan….

Akhirnya, aku menerima “Mbonk” sebagai takdirku. Setelah ditelusuri ternyata tidak melenceng dari sejarah hidupku. “Mbonk Sigit” dalam paparanya “Kenapa Mesti Mbonk?” memberi pencerahan. Menurutnya, dalam bahasa Jawa “Mbonk” itu artinya jalan. Aku boleh berlega hati karena makna nama asliku memang demikian.

Orangtuaku tidak sembarang memberi nama anaknya. Maknanya historis. Empiris. Aku lahir pagi-pagi buta. Hari masih gelap. Belum sampai rumah sakit aku sudah mbrojol di jalan. Bapakku panik. Melolonglah ia sekencang-kencangnya, ”Tolooooonnnngggg….. tolooooongggg….”

Orang-orang sekampung bangun. Gempar. Mereka pikir ada maling. Mereka keluar rumah membawa parang, pacul, linggis, dan aneka senjata tajam. Pagi itu kampung dilanda huru-hara. Anak lelaki lahir di jalan dikira ada maling. Kenangan akan hari itu lantas dibadikan menjadi namaku.

Karena orangtuaku Jawa disematkanlah “Margi” pada namaku yang artinya “Jalan”. Karena aku anak lelaki ditambahkanlah “Anto”. Huru-hara hari itu lantas dikekalkan sebagai “Heru”. Karena aku lahir bertepatan dengan perayaan Santo Johanes Maria Vianney, maka jadilah nama orang suci dari Desa Ars di Paris sono sebagai nama baptisku.

Jadilah namaku Johanes Heru Margianto. Artinya, anak lelaki yang lahir di jalan pada pagi-pagi buta dan membuat hura-hara. Ia dibaptis dengan nama Johanes Maria Vianney. Harapannya, semoga teladan kesederhanaan pastur suci dari Ars itu selalu menerangi jalan anak lelaki yang lahir di hari gelap ini.

Hei…hei….bangun…hapus dulu iler di mulutmu itu…Kan sudah kubilang cerita ini panjang….