Banyak orang bertanya kenapa Mbonk? Panjang ceritanya. Aku enggan. Tapi, banyak orang tidak percaya kalau ceritanya panjang. Mereka terus memaksaku untuk bercerita. Dan, selalu terjadi, belum selesai ceritaku mereka sudah tertidur dengan iler di mulutnya.

Maka, daripada aku terus bercerita dan terus ditinggal tidur, baiklah aku tuliskan di sini. Sehingga, kalau ada lagi yang bertanya, aku tinggal bilang, “Buka saja bloggku.” Kalau nanti mereka tertidur di depan komputer itu sudah bukan lagi urusanku.

Baiklah, mari kita mulai cerita ini dengan mesin pencari paling top di kolong langit: google. Ketiklah kata “Mbonk” di google. Anda akan mendapatkan dua laman di urutan pertama dan kedua adalah blog ini dan sebuah blog di multiply (abaikan laman di luar dua itu). Masing-masing beralamat “Mbonk”. Dua blog itu milik orang yang berbeda. Blog ini milik Johanes Heru “Mbonk” Margianto, sementara pemilik multiply adalah Fransiskus Xaverius Sigit “Mbonk” Eko Widyananto.

Nah, apakah ada hubungannya antara “Mbonk” pemilik blog ini dan “Mbonk” multiply? Ada. Bahkan sangat erat.

Begini ceritanya…..

“Mbonk Sigit” menghabiskan tiga tahun pendidikan SMA-nya di sebuah sekolah berasrama di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Di asrama itu ada tradisi mengganti nama asli dengan nama julukan. Setiap orang mendapat nama julukan. Entah kenapa, komunitas tidak rela kita mengenakan nama panggilan indah yang diberikan orangtua.

Biasanya nama julukan diberikan karena bentuk tubuh atau perilaku orang itu. Ada teman yang mendapat julukan “Capung” karena kacamatanya tebal sekali sehingga matanya mirip capung. Ada yang dipanggil “Wawut” (wajah semrawut) karena wajahnya memang betul-betul kacau balau. Ada lagi yang mendapat anugerah nama “Cimot” karena tampang dan gerak-geriknya dianggap mirip dengan Cimot adiknya Cuplis. Nah, Sigit pun mendapat kehormatan menyandang nama “Mbonk” di asrama itu. Sigit sudah menjelaskan di blognya tentang kenapa dia mendapat “gelar” “Mbonk”

Tahun 1991 Sigit lulus dan hengkang dari asrama itu. Sementara, jalan hidup menuntunku masuk ke sana. Belum sebulan menjadi warga asrama, suatu siang dua orang kakak kelas menghampiriku. Wajahnya serius. Mereka mengamati anatomi tubuhku seperti mengamati jaringan klorofil di bawah miskroskop. Tak lama wajah mereka berseri-seri. Mereka seperti mendapatkan apa yang mereka cari. Tampangku yang lugu dengan kacamata minus bertengger di atas hidung divonis oleh mereka mirip dengan tampang “Mbonk Sigit”.

Dua orang itu lantas berseru-seru keliling asrama layaknya Archimedes menemukan rumus menghitung volume air. “Reinkarnasi! Reinkarnasi! Reinkarnasi!” Asrama geger. Semua penghuni asrama menelanjangi diriku dengan tatapan matanya. Vonis itupun lantas diamini. Aku cuma bisa bingung enggak mengerti. Siapa itu “Mbonk” yang julukannya aku wariskan.

Aku sendiri tidak kenal dengan “Mbonk Sigit” sebelumnya. Karena ketika aku masuk dia lulus. Jadi aku tidak bisa mengklarifikasi apakah vonis itu benar atau tidak. Tapi, kalaupun Anda tidak setuju dengan pandangan komunitas Anda tidak mungkin sanggup menolaknya. (Beberapa tahun kemudian aku akhirnya bertemu juga dengan “Mbonk Sigit”. Kalau boleh aku membela diri, sungguh vonis itu jauh dari benar, sejauh barat dari timur.)

Begitulah kemudian, semua penghuni asrama memanggilku “Mbonk”. Janggal dan asing mulanya kudengar orang memanggilku dengan nama itu. Namun, lambat laun aku mulai terbiasa. Nama “Heru” perlahan namun pasti lenyap dan mulai dilupakan teman-teman. Kalau orangtuaku berkunjung ke asrama untuk menjenguk anaknya tercinta dan mereka bilang ingin bertemu “Heru” pasti akan dijawab,”Maaf Pak, Bu, di sini enggak ada yang namanya Heru.” Mereka tidak sedang mengerjai orangtuaku, tapi memang mereka sudah lupa dengan identitas itu.

Lulus SMA aku berniat menanggalkan nama panggilan ini. Aku berjuang keras jungkir balik untuk menghidupkan kembali nama lahirku. Tapi, nasib tidak berpihak. Selepas SMA aku satu kampus dengan sejumlah teman asrama yang sudah telanjur mengenalku sebagai “Mbonk”. Setengah mati aku berusaha memperkenalkan diriku kepada teman-teman baru sebagai “Heru”. Tapi, teman-teman asrama satu kampus selalu mengatakan pada semua orang, “Bohong, namanya bukan Heru, Mbonk!.” Nah lu. Pusing kan…

Cerita ini belum berakhir. Kutukan belum selesai. Bahkan ketika masuk kerja pun aku tetap tidak diizinkan oleh “Sang Pemilik Hidup” untuk mengenakan nama “Heru”, identitas yang diberikan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuaku. Jadi, waktu hari pertama aku masuk kerja dan memperkenalkan diri sebagai “Heru”, takdir kehidupan langsung menolaknya.

“Wah, ada dua Heru di kantor ini. Ya sudah, kamu Heru-B ya, yang satu lagi Heru-A karena dia karyawan lama di sini,” kata Mas Ninok bossku waktu itu.

Alamakjan! Gila apa Heru-B. Kayak spesies yang baru ditemukan ajah.
“Ya sudah Mas, panggil saja saya Mbonk,” kataku tanpa gairah.

Untuk e-mail kantor pun aku tidak bisa pake identitas “Heru” karena sudah dipakai si Heru-A. Terus identitas e-mail apa donk? Herumargianto? Halah panjang amat. Johanesheru? Panjang juga dodol! Johanesherumargianto? Mati ajah luh.

“mbonk@kompas.com,” kataku lirih pada Murfi si tukang IT sambil menahan pedih di hati.

Cilakanya, aku menemukan jodohku di kantor ini. Wanita yang menjadi isteriku itu lantas memperkenalkan diriku sebagai “Mbonk” kepada keluarga besarnya. Lengkaplah sudah duniaku.

Hei….belum tidur kan….

Akhirnya, aku menerima “Mbonk” sebagai takdirku. Setelah ditelusuri ternyata tidak melenceng dari sejarah hidupku. “Mbonk Sigit” dalam paparanya “Kenapa Mesti Mbonk?” memberi pencerahan. Menurutnya, dalam bahasa Jawa “Mbonk” itu artinya jalan. Aku boleh berlega hati karena makna nama asliku memang demikian.

Orangtuaku tidak sembarang memberi nama anaknya. Maknanya historis. Empiris. Aku lahir pagi-pagi buta. Hari masih gelap. Belum sampai rumah sakit aku sudah mbrojol di jalan. Bapakku panik. Melolonglah ia sekencang-kencangnya, ”Tolooooonnnngggg….. tolooooongggg….”

Orang-orang sekampung bangun. Gempar. Mereka pikir ada maling. Mereka keluar rumah membawa parang, pacul, linggis, dan aneka senjata tajam. Pagi itu kampung dilanda huru-hara. Anak lelaki lahir di jalan dikira ada maling. Kenangan akan hari itu lantas dibadikan menjadi namaku.

Karena orangtuaku Jawa disematkanlah “Margi” pada namaku yang artinya “Jalan”. Karena aku anak lelaki ditambahkanlah “Anto”. Huru-hara hari itu lantas dikekalkan sebagai “Heru”. Karena aku lahir bertepatan dengan perayaan Santo Johanes Maria Vianney, maka jadilah nama orang suci dari Desa Ars di Paris sono sebagai nama baptisku.

Jadilah namaku Johanes Heru Margianto. Artinya, anak lelaki yang lahir di jalan pada pagi-pagi buta dan membuat hura-hara. Ia dibaptis dengan nama Johanes Maria Vianney. Harapannya, semoga teladan kesederhanaan pastur suci dari Ars itu selalu menerangi jalan anak lelaki yang lahir di hari gelap ini.

Hei…hei….bangun…hapus dulu iler di mulutmu itu…Kan sudah kubilang cerita ini panjang….

Iklan