Suatu siang, hampir setahun yang lalu

Mbonk : Selamat siang Romo…

Von Magnis : Siang…

Mbonk : Saya Mbonk, Romo, mantan murid Romo…bla…bla…(intinya minta recomendation letter for scholarship)

Von Magnis : Ok. Tidak soal. Tolong kamu bikin data identitas diri kamu terdiri dari Nama lengkap, tempat tanggal lahir, aktivitas selama di kampus, dan IPK. Juga foto kamu, supaya saya bisa ingat-ingat dirimu. Taruh saja di kotak saya.

Mbonk : Baik Romo, terima kasih banyak

Kotak saya. Ada yang unik dalam cara berkomunikasi antara mahasiswa dan para dosen di kampus saya. Jadi, pada setiap pintu ruang dosen menempelah sebuah kotak terbuka dari kayu. Segala bentuk komunikasi dilakukan melalui kotak itu. Surat, skripsi, daftar nilai, dan aneka tetek bengek urusan keluar masuk di kotak kayu itu.

Komunikasi tradisional itu masih dilestarikan hingga sekarang di zaman internet yang telah meluluhlantakkan batas ruang dan waktu.

Senin

Hari menjelang sore ketika saya kembali menginjakkan kaki di almamater tercinta. Bentuk kampus saya sudah berubah sejak saya tinggal hampir 10 tahun yang lalu. Ruangan-ruangan dosen juga sudah berpindah tempat.

“Ruangan Romo Magnis di mana ya Mbak?” tanya saya pada Mbak Nunuk, pegawai sekretariat.
“Ada perlu apa?”
“Mau menaruh surat. Saya janji menaruh surat ini di kotak Romo Magnis.”
“Sini, titip saya aja.”

Surat permohonan berpindah tangan. Dalam surat saya sebutkan bahwa saya akan datang ke kampus setiap hari Rabu hingga Jumat untuk mengecek kotak surat Romo. Saya pun bergegas pulang.


Selasa

Saya mendapat informasi Romo Magnis menjadi pembicara di sebuah hotel di Jakarta. Saya pun segera meluncur. Niat hati ingin setor muka dan menanyakan ke Romo apakah surat saya sudah dibacanya.

Hanya terpaut 10 menit, Romo sudah pergi meninggalkan hotel. Saya kecele. Ia memajukan jadwalnya sebagai pembicara dan bergegas pulang setelah itu karena harus menyiapkan diri untuk suatu urusan ke luar negeri.

Saya telepon kampus, khawatir Romo akan pergi dalam waktu yang lama. Saya terdesak tenggat waktu untuk segera menyerahkan seluruh berkas administratif ke pihak kedutaan negara sahabat.

Suara di seberang menginformasikan Romo pergi ke luar negeri sampai tanggal 9 November. Ah, masih aman. Masih ada waktu.

Rabu

Saya agak malas datang ke kampus untuk mengecek kotak surat di pintu Romo. Pikir saya, surat permohonan baru saya sampaikan hari Senin. Pastilah ia sibuk. Apalagi ia ada urusan ke luar negeri. Paling surat rekomendasi baru akan dibuatkan minggu depan.

Tapi toh saya pergi juga ke kampus, hanya untuk menepati janji moral karena saya telanjur mengatakan akan mengecek kotak surat setiap hari Rabu hingga Jumat.

“Romo Magnis ke luar negeri. Paling minggu depan baru jadi suratnya,” kata Mas Rumadi, petugas keamanan kampus. Senin kemarin kami sempat ngobrol dan saya ceritakan maksud kedatangan saya ke kampus.

“Iya Mas. Ngecek ajalah, siapa tahu dah jadi,” jawab saya.

Saya sempat kesasar naik ke lantai dua. Ternyata ruangan Romo di lantai satu di gedung baru di belakang kampus. Sudah banyak yang berubah di kampus ini. Kampus boleh berubah, ruangan-ruangan boleh berpindah tempat, tapi kotak-kotak kayu masih ada menempel di setiap pintu ruang dosen lengkap dengan klip di pinggirnya. Ruangan Romo Magnis terletak paling ujung di gedung pascasarjana. Entah kenapa lampu di di dalam gedung tidak dinyalakan sehingga koridor gelap.

Saya meraba-raba kotak kayu tanpa berharap menemukan surat untuk saya. Ada dua amplop. Satu amplop berwarna coklat ditujukan untuk Romo Magnis. Satu amplop lagi berwarna putih dengan tulisan tangan sulit terbaca di mukanya. Saya mencari-cari cahaya untuk membaca tulisan tangan itu.

Ajegile! Tulisan tangan itu adalah nama saya. Seketika dada saya berdebar. Bergegas saya keluar gedung mencari cahaya terang.

LETTER OF RECOMMENDATION
TO WHOM IT MAY CONCERN

……….He is a person of human and political interest, open minded and was, active in the anti-Soeharto student movement……

Romo Magnis wrote the letter by himself. Sejumlah orang yang saya mintai rekomendasi meminta saya untuk mengarangkan buat mereka. Tapi Von Magnis tidak. Tanpa telepon, tanpa imel, hanya kotak kayu, dan surat itu kini sudah ada di tangan saya. Pastur Jerman yang luar biasa!

Iklan