Kawan saya Savic, pemilik toko buku online (khatulistiwa.net) jau-jauh hari sudah berpromosi tentang buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Maryamah Karpov. Dia tahu betul buku ini dinanti-nanti banyak orang. Hanya mereka yang tidak mengikuti serial kisah ini saja yang tidak peduli dengan terbitnya Maryamah Karpov. Pembaca penasaran bagaimana kelanjutan nasib Lintang, Aling, dan Arai.

Setelah sempat kehabisan buku di Gramedia Citraland pada hari pertama diluncurkan, 28 November kemarin, akhirnya saya mendapatkan Maryamah di Gramedia Matraman. Di sana stok serial terakhir ini melimpah. Saya memburunya dengan antusias. Ada gairah yang meletup-letup di hati saya untuk segera mengunyah lembar demi lembar kelanjutan kisah hidup Si Ikal.

Saya butuh waktu tiga hari untuk menuntaskan kisah setebal 504 halaman ini. Padahal, untuk Laskar Pelangi setebal 534 halaman saya melahapnya hanya dalam waktu satu hari. Membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor menerbitkan gairah dan inspirasi di benak saya. Sementara, membaca Maryamah Karpov gairah itu sontak hilang, padam.

Kalau Laskar Pelangi adalah pemantik yang menyulut api maka Maryamah Karpov adalah mobil pemadam kebakaran yang memadamkan kobaran api itu. Belum sampai setengah halaman saya sudah malas melanjutkan. Tapi, toh saya memaksakan diri juga untuk menyelesaikannya, semata-mata demi menggenapkan bacaan saja. Itulah kenapa saya butuh waktu tiga hari.

Maryamah Karpov dibuka dengan kisah Ikal yang menghadapi sidang tesis pada bulan ramadhan di tengah rasa lapar karena waktu puasa yang panjang di Eropa. Ikal lulus dan pulang kampung di Belitong. Maryamah Karpov adalah kumpulan mozaik-mozaik kecil kisah Ikal kembali tinggal di Belitong.

Meski judulnya Maryamah Karpov jangan bayangkan bahwa buku ini bertutur tentang Mak Maryamah yang sosoknya sempat disinggung di buku kedua, Sang Pemimpi. Maryamah Karpov sendiri, kalau saya tidak salah ingat, hanya disebut 2 atau tiga kali. Hanya dijelaskan satu kalimat saja bahwa Mak Maryamah yang penjual kue ini pandai main catur layaknya sang juara dunia Anatoli Karpov. Karena itulah dia dipanggil Maryamah Karpov. That’s all.

Lha, lalu apa hubungannya judul buku itu dengan Ikal, Lintang, Arai dan Aling? Maryamah Karpov sesungguhnya adalah representasi dari kultur melayu Belitong yang membingkai kisah Ikal yang sangat klise (baca: tema jadul ala HC Andersen bangetszzzzz) memburu Aling pujaan hatinya. Ingat kisah-kisah dongeng karangan HC Andersen tentang pangeran yang rela bertempur melawan naga demi mendapatkan sang putri? Persis seperti itulah kisah akhir tetralogi ini.

Jadi, dalam masyarakat melayu Belitong ada kebiasaan memberi nama julukan pada setiap orang. Asal muasal julukan itu bisa karena ciri-ciri fisiknya, profesinya, kebiasaanya, atau kejadian tertentu terkait orang itu. Muas, karena kulitnya gelap lalu dipanggil Muas Petang 30. Rustam dijuluki Rustam Simpan Pinjam karena bekerja di Koperasi Meskapai Timah. Sementara Munawir karena ia juru bicara Mesjid Al-Himkah yang selalu mengumumkan berita kematian dipanggil Munawir Berita Buruk. Begitulah, ada banyak tokoh dengan julukannya masing-masing.

Di Belitong, setelah menempuh pendidikan yang sangat tinggi di Eropa sono, yang diimpikannya sejak masa remajanya, yang dicapainya dengan darah dan air mata, yang kisah perjuangannya menginspirasi banyak orang, ia teronggok menjadi lelaki tak berguna yang terus terobsesi dengan seorang gadis Suku Ho Pho bernama Aling. Obsesi orang jatuh cinta itu sebenarnya sih sah-sah saja, namun jika berlebihan malah serupa penyakit gila nomer 69.

Mozaik-mozaik kehidupan Ikal di tengan masyarakat melayu di kampungnya di Belitong sebenarnya dikisahkan kocak dengan gaya khas Andrea. Namun, ketika cerita mulai bertutur tentang obsesi cinta, sosok Ikal tiba-tiba menjadi aneh bagi saya.

Selama 7 bulan ia berkutat membuat perahu. Lintang yang jenius membantunya membuat konstruksi perahu hanya dengan cara memejamkan mata dan menuliskannya di atas kertas tembakau. Ikal dengan heroiknya menyelam ke dasar sungai yang dalam untuk menemukan perahu negeri tiongkok yang terkubur ratusan tahun. Setelah itu ia berlayar mengarungi samudera ganas menembus topan badai sementara Kaum Sawang, nelayan paling berpengalaman pun tidak berani melaut. Tidak hanya itu saja, Ikal pun harus berhadapan dengan kaum bajak laut demi menemukan “Cinderela”-nya yang “hilang” selama belasan tahun.

Alkisah, setelah menempuh topan badai di tengah laut, dan menerabas keganasan kaum bajak laut, Ikal menemukan sosok Aling terbaring sakit di sebuah gubuk reot di pulau terpecil. Aling membalikkan badan dan berbisik, “Ikal….” Hahahahahahahahahaha……Andrea kebanyakan nonton pilm nih…..

Sebagai kisah yang menghibur di waktu senggang bolehlah buku ini dibaca. Anda akan berkenalan dengan kultur masyarakat melayu Belitong dan menikmati kelucuan di sana-sini. Tapi, kalau Anda mengharapkan mendapat inspirasi seperti halnya Laskar Pelangi Anda akan kecewa.

Iklan