You are currently browsing the monthly archive for Februari 2009.

Minggu lalu, Sylvia, pendamping kami di Berlin datang membawa pengumuman. “Hari Rabu depan ada pertandingan hockey antara Eisbaren Berlin melawan Adler Mannheim. Mau nonton gak?”

”Mauuuuu….,” sontak mayoritas teman-teman pada semangat.
”Her, lo harus nonton. Seru. Di negara lo gak ada kan hockey?” Zohaib teman saya dari Pakistan ngomporin saya untuk ikut. Hockey sih ada di Indonesia, tapi jauh dari populer. Di Indonesia yang populer itu sepak bola, meski gak ada prestasinya.

Saya mulanya agak ragu untuk ikut, gak ngerti babarlas soal hockey. Saya khawatir gak bisa nikmatin pertandingan. Apalagi saya kan gak suka olahraga. Acaranya malem pula. Dingin. Uh, males banget keluar di sini. Pulang sekolah yang ada di benak saya cuma apartemen yang hangat. Tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk berangkat karena melihat antusiasme teman-teman.

Hockey adalah salah satu olah raga yang sangat populer di Jerman. Yang kami tonton malam itu adalah bagian dari pertandingan Bundesliga. Lho kok Bundesliga? Iya Bundesliga. Di Indonesia istilah Bundesliga melekat pada sepakbola aja. Padahal Bundesliga itu artinya kurang lebih Liga Nasional. Jadi ada banyak macam liga asional. Selain sepak bola yang sangat populer di Indonesia ada juga Bundesliga untuk basket, bola tangan, volley, tenis, hockey dan lainnya.

Rabu sore itu rasa malas belum beranjak di hati saya meski sejumlah teman terlihat begitu bersemangat. Di luar gerimis pula. Yang bikin males, gerimis di musim dingin air yang nyiprat ke muka sumpah gak asyik banget. Dingin, kayak dicubit-cubit pake es. Nah lo gimana tuh. Dengan berat hati saya ikut dalam rombongan yang penuh sorak gembira menuju Warschauer Strasse di timur kota Berlin.

Pertandingan hockey diselenggarakan di gedung serbaguna O2 World. Ini adalah kandangnya Eisbaren Berlin. Jadi, Adler Mannheim jadi tamu di sini. Gedung ini juga jadi kandangya Alba Berlin basketball team. Selain jadi tempat pertandingan olahraga O2 World juga kerap digunakan sebagai tempat konser musik. Sejumlah penyanyi top yang pernah manggung di sini adalah Metallica, Alicia Keys, dan Tina Turner.

Gedung berkapasitas 17 ribu orang ini belum lama dibangun. Pembukaan perdana baru September tahun lalu dan ditandai dengan konser Metallica pada 12 September. Perusahaan seluler Jerman O2 mengambil hak cipta untuk nama gedung itu. Selain di Berlin O2 juga membeli hak cipta nama yang sama untuk gedung serbaguna di London, Prague, dan Dublin. Kabarnya MTV Music Award 2009 bakal digelar di O2 World Berlin.

Jarum jam di pergelangan tangan saya menunjuk pukul 18.45 saat kami tiba di S-bahn Warschauer Strasse. Angin dingin datang menampar muka saya yang mulai terasa tebal. Kami bertemu kerumunan orang yang mengenakan seragam kebesaran Eisbaren Berlin. Mereka bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil. Aha, para supporter sudah mulai berdatangan. Jadi inget Jackmania di Jakarta. Kami harus berjalan sekitar 15 menit dari S-bahn menuju gedung pertandingan.

Wah, di gedung itu rupanya kami jadi tamu spesial. Selain tidak harus ngantri karena lewat pintu masuk khusus untuk pers kami juga disambut oleh humas O2 World (lupa namanya) yang ditemani oleh asistennya yang seksi Tiana Robinson (kalo ini inget namanya…:p). Kami diajak keliling ruangan press room. Kayak di Indonesia, ada banyak wartawan lagi nongkrong di situ. Ruangan itu juga dilengkapi dengan w-lan. So, tinggal bawa laptop trus surfing deh. Di ruangan itu juga komplit dilengkapi makanan dan aneka minuman ringan. ”Kalau mau makan dan minum silakan ambil di sini. Gak usah malu-malu,” kata Pak Humas yang saya lupa namanya itu. Mulanya kami malu-malu, tapi karena lapar lalu jadi malu-maluin.

Gedung ini besar sekali. Kami dapat tempat duduk di tribun wartawan di lantai empat. Di setiap lantai ada toko makanan. Suanana malam itu terasa riuh. Musik berdentum dengan sangat keras dari dalam arena pertandingan. Wah, beat musik yang ingar bingar meletupkan semangat dalam hati saya. Hampir semua bangku terisi. Ratusan supporter berkumpul di salah satu sisi di tribun paling bawah. Sebagian dari mereka membawa drum yang terus ditabuh bertalu-talu.

Ada atmosfir magis saat para supporter berteriak dalam irama, bernyanyi, membuat gerakan. Mereka sangat kompak. Mereka punya sejumlah seruan khusus yang ketika dilakukan bersama-sama membuat hati gembira. Ketika Tim Eisbaren berhasil menggetarkan jala lawan mereka punya seruan khusus. Ketika Tim Adler melakukan serangan mereka menggoda dengan suitan kencang. Mereka jadi pemandu sorak bagi ribuan penonton yang menyaksikan pertandingan malam itu. Bagian ini yang membuat suasana malam itu terasa hidup. Hati ini jadi ikut gembira.

Pertandingan hockey berlangsung 3×20 menit. Eisbaren Berlin membekuk tamunya 7-2. Pertandingan hockeynya seru, tapi sorak sorai penonton jauh lebih seru. Hampir tengah malam saya tiba di rumah..dan gerimis malam itu tidak lagi terasa dingin.

Film laris Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza mengundang isak tangis di CineStar Cubix Alexanderplatz, Berlin, Sabtu (14/2). Tidak hanya orang Indonesia di Berlin, sejumlah orang “bule” pun ikut tersentuh dan menitikkan air mata.

Laskar Pelangi, yang dialihbahasakan menjadi The Rainbow Troops, lolos seleksi dan tampil pada Festival Film International Berlin ke-59 atau Berlinale 2009. Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini diputar di sejumlah gedung bioskop di Berlin, Jerman.

Selain Laskar Pelangi, empat film Indonesia lainnya yang juga lolos masuk Berlinale 2009 adalah At Stake (Nia Dinata), yang bersama Laskar Pelangi bertarung di kategori Panorama (Audience Award), Generasi Biru (Garin Nugroho) di kategori film dokumenter, dan Trip to the Wound (Edwin) dan Musfir (BW Purba Negara) untuk kategori film pendek.

Udara musim dingin di Berlin tidak menyurutkan minat para penikmat film di kota ini. Departemen Luar Negeri di Jakarta, pekan ini mengungkapkan, perhatian masyarakat Jerman terhadap film-film Indonesia cukup menggembirakan, ditandai dengan tiket film-film Indonesia terjual habis tiga hari menjelang pemutaran dan masih banyak peminat film-film Indonesia yang tidak berkesempatan menonton.

Tidak hanya itu, menurut pernyataan tersebut, penyelenggara juga memberi perhatian khusus kepada film Indonesia, dengan memasang gambar Laskar Pelangi dan At Stake dalam sampul buku program Berlinale 2009, mewakili film-film Asia.

Warga Berlin memang penikmat film. Tempat-tempat penjualan tiket Berlinale selalu diwarnai antrean. Pemutaran film Laskar Pelangi pun mengundang antusiasme mereka. Warga negara Indonesia di Jerman yang selama ini hanya mendengar tentang fenomena cerita karya Andrea Hirata di Indonesia seperti mendapat berkah bisa menyaksikan Laskar Pelangi di Berlin. Mereka berduyun-duyun datang dari berbagai kota di Jerman seperti dari Hamburg, Dresden, dan Hanover.

“Saya selama ini cuma dengar-dengar aja sih soal Laskar Pelangi. Kayaknya heboh banget ya di Indonesia. Makanya, seneng banget film ini bisa tampil di Berlinale,” kata Ari, mahasiswa Fachhochschule fur Technik un Wirtschaft, Berlin. Ia sudah dua tahun tinggal di Berlin.

Teater 9 di gedung bioskop itu dipenuhi pengunjung baik warga negara Indonesia maupun masyarakat Berlin dan hanya menyisakan satu deret bangku kosong di bagian paling depan. Tidak ada satu orangpun beranjak dari tempat duduknya selama dua setengah jam film diputar.

Sejumlah adegan mampu membuat tawa pengunjung. Misalnya, saat Ikal jatuh cinta melihat buku-buku jari Aling di Toko Kelontong Sinar Harapan atau ketika Mahar sedang sibuk mencari ilham untuk festival dan bertingkah aneh di mata teman-temannya.

Separuh film berjalan, di antara tawa pengunjung, suara isakan mulai terdengar di sana-sini. “Aduh, ini film lucu tapi kok bikin sedih juga ya,” kata Mulianakusumah setengah berbisik di tengah pertunjukan. Ia tampak mengusap matanya. Mulianakusumah baru empat bulan tinggal di Jerman. Di Indonesia ia belum sempat menonton film ini.

Farah Marina, mahasiswi Fachhochschule fur Technik un Wirtschaft, Berlin, yang hampir tiga tahun tinggal di Berlin, mengaku ia juga sempat menitikkan air mata, terutama ketika adegan Lintang berhenti sekolah dan pamitan kepada teman-temannya. “Bukan cuma aku aja lho yang nangis, orang Jerman di sebelahku juga nangis kok. Filmnya bagus banget,” kata dia.

Sophie, salah seorang warga Berlin yang menonton Laskar Pelangi juga mengaku tersentuh. “Saya kagum dengan perjuangan anak-anak Laskar Pelangi, kagum dengan semangat mereka, dan itu semua sangat menyentuh,” ujarnya.

Ada yang menarik perhatian saya di loker apartemen ini. Ada tiga nama Indonesia tertera di sana. E Wulandari, Mulianakusumah, R. Soesman. Saya cuma membatin, ah pasti menyenangkan kalau bisa ketemu sama mereka. Orang-orang ini pasti kuliah di sini, pikir saya. Mereka tentunya tahu betul segala seluk beluk tinggal di kota ini. Tapi, gimana caranya ketemu mereka?

Apartemen ini terdiri dari empat lantai. Kalau saya tidak salah hitung, ada 72 kamar di apartemen ini. Namun, saya tidak tahu apakah semua kamar terisi. Beberapa nama Jerman tampak tertera di beberapa kamar apartemen. Tapi, kami tidak pernah melihat semua penghuninya.

Saya beberapa kali bertemu dengan beberapa orang Jerman penghuni apartemen ini saat hendak berangkat sekolah. Tapi ya sekadar melihat mereka pergi aja. Apartemen ini benar-benar fungsional sebagai tempat tinggal, bukan tempat bersosialisasi.

Pertama kali masuk ke sini rasanya gedung ini tidak berpenghuni. Gedung ini lorong-lorongnya selalu gelap. Kalau masuk apartemen silakan nyalakan lampu lorong yang nanti akan mati sendiri secara otomatis setelah beberapa menit. Masuk kamar, kunci pintu, urus dirimu sendiri. Selesai.

Saya tidak pernah mendengar ada suara orang berbicara kecuali suara teman-teman satu sekolah yang tinggal di sini. Apartemen ini sunyi. Sepi. Jadi gimana caranya ketemu orang-orang Indonesia itu?

Semesta selalu punya caranya sendiri bekerja mengatur peristiwa demi peristiwa hidup manusia. Itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Hampir pukul 6 sore dan langit sudah gelap saat saya dan beberapa teman tiba di Stasiun Hermanstrasse usai muter-muter di pusat kota Berlin. Kami berlari-lari kecil menuju halte bus karena bus jurusan ke apartemen kami sudah menunggu di sana.

Di bangku belakang bus saya melihat seorang lelaki bertampang sangat Indonesia. Ada dorongan gaib yang menuntun saya memilih duduk di bangku sebelah orang itu. Kami beradu pandang, tapi tidak berucap sepatah kata. Saya ingin menyapa tapi khawatir lelaki ini oang Malaysia. Itu yang terjadi saat di pesawat dalam penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Saya pikir bapak yang duduk di sebelah saya orang Indonesia, ternyata orang Malaysia.

Tapi, saya begitu penasaran dan memberanikan diri buka suara.

”Exuse me, are you from Indonesia?”

“Hahahaha…betul sekali!” lelaki itu spontan tertawa. ”Saya dari tadi dah mikir ini mukanya Indonesia banget, tapi gak berani menyapa karena takutnya dari Filipina.”

Ebusyet, muka saya yang sangat jawir ini dibilang mirip orang Filipina. Pedagang kebab orang Irak di Hermanplatz malam kemarin bilang muka saya arab sekali. Mirip orang dari Basra, Irak, katanya. Busyet dah!!!

Ahmad Irsan, demikian nama teman Indonesia di bus itu. Ia pegawai Departemen Keuangan yang juga sedang mengikuti training dari lembaga pemberi training yang sama dengan saya. Irsan mengikuti traning itu bersama tiga orang Indonesia lainnya yaitu Hena Mulianakusumah. Rony Soesman dan Eva Wulandari yang tinggalnya satu apartemen dengan saya. Hena dan Rony ada di bus yang sama hanya belainan kursi. Sementara, Eva sedang tidak bersama mereka sore itu. Irsan sendiri tinggal di apartemen sebelah.

Irsan dkk mengikuti program traning selama satu tahun. Mereka datang ke Jerman sejak Oktober dan tinggal berpindah-pindah. Sebelumnya mereka tinggal di Munich. Ngobrol sana-sini, Si Irsan ini ternyata rumahnya di Pondok Kopi, cuma sekitar empat kilometer dari rumah orangtua saya di Buaran. Bolehlah dibilang kami bertetangga, tapi gak pernah ketemu di Jakarta, ketemunya di Berlin…Alamakjan!!!

Kenapa orang Eropa postur badannya besar-besar? Karena makannya banyak. Atau premisnya terbalik, kenapa orang Eropa makannya banyak? Karena anatomi tubuhnya besar-besar. Gak tau deh mana yang benar. Yang pasti porsi makanan di sini besar banget.

Di Berlin Doner Kebab sama populernya dengan Warteg di Jakarta. Kebab adalah makanan timur tengah yang dibawa imigran Turki ke sini. Pada era perang dingin ketika Jerman terbelah dalam blog timur dan barat, ribuan orang Turki berbondong-bondong datang ke Jerman Barat. Kala itu Jerman Barat kekurangan tenaga kerja. Saat ini populasi orang Turki di Berlin sekitar 120 ribu dari 3,5 juta populasi warga kota Berlin atau sekitar 2,9 persen.

Kedatangan mereka ke negeri ini tentu saja dengan membawa berbagai kebiasaan hidup, diantaranya Kebab. Kebab adalah sejenis hamburger ala timur tengah. Dua lapis roti dengan aneka isi di tengahnya. Kebab lazimnya berisi irisan tipis daging ayam atau domba dan aneka sayuran.

Nah, Kebab ini adalah salah satu “penjajahan” kuliner Turki atas Berlin. Ada joke, Anda lebih mudah menemukan warung kebab di Berlin ketimbang warung yang menyediakan makanan tradisional Jerman.

Porsi kebab di sini buesar sekali. Saya gak tahu apakah porsi satu kebab di negeri asalnya sama besarnya dengan kebab di sini. Namun, saya juga menemukan warung makan Thailand menyajikan porsi makanan yang juga besar sekali. Lain waktu, saya juga makan siang di warung makan yang menyediakan menu makanan khas Jerman, sosis dan kentang yang ditumbuk halus seperti bubur. Porsinya sama besarnya.

Untuk saya, setiap porsi makanan di sini membuat perut saya begah. Saya lebih senang membawa makanan pulang karena bisa saya bagi dua untuk makan berikutnya. Kalau Anda makan tiga kali sehari dengan porsi orang Jerman, percayalah, Anda bisa boker lebih dari tiga kali sehari. I did it!

Sewaktu tiba di Bandara Tegel, Berlin, saya bingung gimana caranya ngambil troli. Troli-troli itu terkunci. Gimana cara ngelepasnya? Gengsi dan malu bertanya.….:) Beberapa hari kemudian barulah saya tahu bagaimana caranya melepas troli.

Kami belanja ke supermarket dan troli di sana sama persis dengan di bandara. Anda harus memasukkan koin 1 Euro ke dalam lubang grendel troli itu. Dengan kata lain, Anda harus deposit untuk menggunakan troli. Setelah selesai kembalikan troli pada tempatnya, grendel kembali troli dan 1 Euro anda akan keluar dari lubang grendel. Sangat efisien.

Untuk urusan troli pun sistemnya dirancang sedemikian rupa agar masing-masing orang bertanggungjawab terhadap troli yang digunakannya. Anda gak bisa meninggalkan troli di sembarang tempat. Silakan saja kalau Anda rela kehilangan 1 Euro. Dengan sistem ini tidak dibutuhkan troli boy.

Di Carrefour atau Giant di Indonesia ada petugas khusus yang mengumpulkan troli yang berceceran di mana-mana. Berapa cost yang harus dikeluarkan untuk menggaji sekian troli boy? Tapi, kalau sistem ini diterapkan di tanah air berarti Indonesia akan kehilangan satu lapangan pekerjaan…

Selain troli, di sini Anda juga harus bertanggungjawab terhadap belanjaan Anda sendiri. Di supermarket kantong plastik tidak gratis, kecuali di sejumlah toko kecil. Kalau Anda belanja di supermarket yang cukup besar Anda harus mengurus sendiri belanjaan Anda. Kasir cuma menghitung berapa harga belanjaan.

Tidak ada kantong plastik. Kalau Anda butuh kantong plastik ambil sendiri dan bayar di kasir lalu masukkan sendiri belanjaan Anda ke dalamnya. Yang paling baik bawa sendiri kantong belanjaan dari rumah, apakah tas dari kain atau kantong plastik besar yang Anda punya.

Untuk urusan plastik pemerintah di negeri ini punya komitmen konkret mengurangi polusi di perut bumi. Tidak cuma urusan kantong plastik, botol plastik pun diatur sedemikian rupa agar peredarannya bisa dikendalikan. Setiap minuman dalam botol plastik harga botolnya juga terhitung dalam harga minuman itu.

Setelah minuman habis, kalau Anda gak butuh botol itu, Anda bisa kembalikan ke kasir dan Anda dapat kembalian sekian sen. Jadi, kasir atau pemilik toko di sini juga sekalian jadi lapak botol plastik. Pemulung Indonesia bakal kehilangan mata pencarian di sini…

Di Berlin sebagian besar orang tinggal di apartemen. Mungkin cuma orang kaya yang punya rumah. Guesthouse kami pun sebuah apartemen di Selatan Berlin, sekitar 30 menit perjalanan menuju pusat kota (tanpa macet dan tanpa nunggu lama bis atau kereta).

Masing-masing dari kami menempati satu apartemen single, kira-kira 40 meter persegi luasnya. Di dalam apartemen dah tersedia komplit segala kebutuhan. Kamar mandi, tv, dan dapur kecil, lengkap dengan kompor, perlengkapan masak, piring gelas dan kawan-kawannya.

Pagi-pagi sekali bel kamar saya berdering. Joseph -kawan saya dari Uganda- berdiri di depan pintu dengan celana pendek.

”Hi Johanes, kamu punya setrika?” tanya Joseph
“Ada,” jawab saya.
“Pinjem donk!”
“OK.”

Gak sampe satu menit bel kamar saya kembali berdering. Si Joseph lagi di depan pintu. Setrika saya masih dipegangnya.

“Johanes, kamu masih simpen nomer pengelola apartemen?”
”Masih.”
“Liat donk,” Joseph masuk ke kamar saya.
“Johanes, tolong pinjem telepon kamu juga ya. Kunci saya ketinggalan di dalam,” wajah kawan dari Afrika ini tampak begitu cemas.

Hati-hati dengan kunci kamar. Jangan sekali-kali menutup pintu sementara kunci masih di dalam. Dari luar, pintu di apartemen ini hanya bisa dibuka dengan kunci. Jadi kalau kunci ketinggalan di dalam ya gak bisa masuk.

”Waduh apes banget sih gw,” Joseph menepuk jidatnya usai menelepon pengelola apartemen.
”Sorry Joseph, kali ini gw gak bisa bantu apa-apa,” saya mencoba bersimpati.
”It’s Ok Brother. It’s my fault,” Joseph mencoba tersenyum.
“Eh, ini setrikaannya. Gw gak jadi pinjem deh.”

Saya lalu bergegas mandi. Waktunya berangkat sekolah.

Waktu mau keluar apartemen saya bertemu Ririn di tangga.

”Mas, gile juga tuh Joseph. Pagi-pagi jogging,” ujar Ririn.
“Hah, jogging?!!!” tanya saya dengan penuh heran. Sedingin gini keluar apartemen jogging??!!
“Iya, gw ngeliat dia lari-lari di jalan. Kan kamar gw ngadep jalan,” tegas Ririn.

Di lantai bawah di depan pintu apartemen kami melihat Joseph di luar apartemen. Lelaki bergigi tanggal itu berlari-lari kecil. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan dada. Pintu dan dinding bawah apartemen ini dari kaca. Jadi kami bisa melihat keluar.

”Joseph, ngapain lo di luar? Gak kedinginan?!” tanya saya dengan sangat heran sambil membuka pintu.
”Ah, Johaneessss….terima kasih,” Joseph segera masuk ke dalam apartemen.
“Saya cemas sekali karena kunci saya ketinggalan di dalam kamar. Jadi saya keluar menunggu pengelola apartemen. Saya lupa kalau saya gak punya kunci jadi gak bisa masuk lagi. Ya udah saya jogging aja…dingin eeeuuuyyy,” jelas Joseph.

Pintu masuk apartemen juga sama sitemnya, bisa dibuka dari dalam tanpa kunci, tapi dari luar harus menggunakan kunci. Pagi itu dingin sekali. Baju saya lapis tiga plus jaket kulit. Meski memakai sarung tangan kulit yang dalamnya berbulu tangan saya tetap merasa kedinginan. Ini Si Joseph cuma pakai celana pendek dan kaosan. Gak heran, dia memang harus jogging selama “tersandera” di luar.

Pagi pertama di kota Berlin. Saya belum bisa bersahabat dengan musim dingin. CNN melaporkan suhu udara kota ini 1 derajat celsius. Rasanya saya bisa memahami kenapa jalan-jalan di kota ini terlihat sepi. Orang Jerman aja males keluar rumah, apalagi saya yang orang tropis dan baru kali pertama merasakan dingin seperti ini.

Pagi itu saya menunggu bis di halte yang jaraknya hanya 50 meter dari apartemen saya di Buckower Damm. Aktivitas di seberang jalan menarik perhatian saya. Sebuah truk tertutup berhenti di sana. Sopirnya turun dan menarik tuas yang terletak di sisi belakang truk. Pintu belakang truk membuka keluar, sisi atasnya turun ke bawah dan membentuk bidang datar. Kita bisa berdiri di atasnya.

Sopir itu kembali memainkan tuas dan bidang datar itu turun hingga menyentuh aspal jalan. Si sopir kemudian berjalan ke arah bak sampah besar beroda yang terletak di pinggir jalan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat truk berhenti. Ia mendorong bak sampah itu ke atas bidang datar yang notabene adalah pintu belakang truk. Tuas kembali di mainkan, bidang datar itu naik hingga sejajar dengan dasar truk. Ia melompat atas bidang datar dan mendorong bak sampah masuk ke dalam truk. Setelah itu ia turun lagi, memainkan tuas, dan pintu truk tertutup.

Sangat mengesankan. Petugas sampah di negeri ini bekerja sendiri. Di kompleks perumahan saya di Bekasi, saya melihat setidaknya ada empat orang petugas sampah dalam satu truk yang sangat bau. Satu orang sopir dan tiga orang lainnya keliling dengan keranjang rotan memunguti sampah di setiap bak sampah depan rumah. Sampahnya berceceran di jalan. Sangat tidak efisien. Tetap kotor. Bau pula.

Di sini sampah terkelola dengan baik. Selalu ada lima kotak sampah dengan empat atau lima warna di tempat penampungan sampah di sisi apartemen atau di pinggir jalan. Tiap warna memiliki arti. Bak sampah berwarna jingga untuk sampah-sampah organik yang bisa didaur ulang; biru untuk sampah kertas; kuning untuk sampah plastik; dan hijau untuk gelas. Nah, kalau bingung sampahmu masuk kategori mana ada warna khusus untuk mereka yang bingung, hitam.

Tapi di Indonesia, repot juga kalo semuanya serba efisien. Lha, trus pada kerja apa nanti orang-orang di tanah air…:p

Apa yang Anda bayangkan tentang Berlin? Kota tua yang cantik. Sebagian sejarah penting dunia dikendalikan dari kota ini. Karl Max lahir di sini dan gagasannya tentang tatanan masyarakat baru tanpa kelas mengubah wajah peradaban pada awal abad ke 19.

Adolf Hittler juga tinggal di sini. Ia memegang kendali pasukan jerman dalam Perang Dunia II. Pembantaian 6 juta orang Yahudi pun terjadi di kota ini. Berlin adalah kota sejarah. Dan catatan-catatan masa lalu itu diabadikan di kota ini. Ada 170 museum yang bisa mengantar kita kembali ke waktu lampau.

Kami tiba di Berlin sekitar pukul 9.30 waktu setempat. Kami bertemu dengan sejumlah teman yang juga datang pada waktu yang bersamaan. Tamara Almeyda, dari InWent –lembaga penyelenggara training-, menyambut kami dengan senyum. Tamara adalah satu-satunya orang yang saya lihat tersenyum di pagi yang beku itu.

Ini musim dingin. Wajah orang-orang di sini pun dingin. Tidak banyak orang bercakap –cakap. Bandara hiruk pikuk, tapi hanya ramai oleh suara derap kaki. Di luar butiran salju jatuh seperti gerimis. Bulir-bulir putih itu seperti es serut, tapi ia memiliki pola serupa ranting kecil. Ia jatuh di tangan dan luluh menjadi air. Splaasshh…angin dingin menampar wajah saya seperti lecutan cemeti. Selamat datang di Berlin.

Sebuah minibus kecil mengantar kami menuju apartemen. Supirnya orang jerman berbadan besar yang tidak bisa berbahasa Inggris. Wajahnya beku. Ia mengangkat semua kopor kami ke dalam mobil tanpa sepatah sapa.

Menyusuri jalan menuju apartemen tempat tinggal kami, saya merasa kota ini pun tidak memberikan senyumnya. Awan kelabu menggantung di langit. Pohon-pohon meranggas tanpa daun. Jalanan sepi.Gedung-gedung tua nan besar berdiri kokoh sepanjang jalan. Kota ini sungguh kelabu.

“Kota Berlin jauh dari menyenangkan di musim dingin,” Zohaib Zafar, kawan dari Pakistan memecah keheningan di dalam mobil.
”Kalau Anda datang pada musim semi atau panas Anda akan merasa lebih hidup di kota ini. Banyak orang di jalan. Pohon-pohon berbunga. Sudut-sudut kota terasa lebih hangat. Anda pasti akan menyukai Berlin,” jelas dia lagi. Zohaib cukup memahami Berlin, sebab ini kunjungan keduanya ke Jerman. Pada kunjungan sebelumnya ia datang di musim panas.

Ah, seketika saya teringat senyum Tamara. Senyum memang memberi kehangatan. Dan, kota ini tidak sedang tersenyum menyambut kami.

Penerbangan Jakarta-Berlin sangat membosankan. Untung ada Ririn, teman dari republika, yang juga ikut dalam program ini. Ada teman ngobrol dan diskusi waktu bingung di tempat asing.

KLM Royal Dutch, Boeing 747-400, yang membawa kami dari Jakarta lepas landas pukul 19.00 WIB, transit sebentar di Kuala Lumpur, dan 12 jam nonstop melayang di udara menuju Amsterdam. Di Bandara Schipol Amsterdam kami harus ganti pesawat, kali ini Foker 100. Penerbangan Amsterdam – Berlin sekitar 1,5 jam. Kami mendarat di Bandara Tegel, Berlin sekitar pukul 09.30 waktu setempat atau pukul 15.30 WIB. Jadi, total waktu perjalanan Jakarta-Berlin adalah 20,5 jam.

Kami disambut udara musim dingin di Amsterdam. Keluar dari pesawat, meski berjalan dalam garbarata, angin dingin langsung terasa menusuk tulang. Dingin. Dingin sekali. Kami seperti berada dalam freezer raksasa.

Schipol adalah bandara besar dan mirip pusat perbelanjaan. Kami mendarat sekitar pukul 5.30 waktu setempat. Suasana masih sepi. Toko-toko banyak yang tutup. Orang-orang yang kami jumpai berbicara dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Mereka berbicara seperti kumur-kumur. Bahasa Belanda. Tidak ada orang tersenyum. Suasana di schipol sedingin udara di luar.

Kami harus berjalan cukup jauh untuk mencari gate pesawat yang menuju Berlin. Untunglah, bandara ini sangat bersahabat. Papan petunjuk tersebar di mana-mana lengkap dengan perkiraan waktu berapa lama kami tiba di sana dengan jalan kaki.

Seharusnya saya gembira di pagi yang dingin itu. Seseorang menyapa saya dan Ririn dengan ramahnya saat kami antre untuk masuk pesawat. Tapi, sejumput cemas tiba-tiba menyelinap di hati saya.

“Helo, I am sorry. Are you participants of shortcourse held by InWent?” seorang pria kulit hitam menyapa saya dan Ririn. Ada yang janggal pada wajahnya. Gigi bagian tengahnya tanggal dan membuat mulutnya seperti memiliki jendela saat berbicara.

“Yes, we are?” jawab saya setengah terkejut.
“Aha. It’s nice to see you. I am Joseph Kafumbe from Uganda,” orang itu tertawa sambil menepuk-nepuk bahu saya.
“How could you know that we are the participants of that course?” tanya saya heran.
“From your passport. You are from Indonesia and wanna go to Berlin. Just guessing..hehehe..”

Tidak baik memang menilai orang dari kulit luarnya. Pria Afrika ini sungguh legam kulitnya. Kepalanya plontos dan bola matanya agak kemerahan. Saya hanya mengenal orang Afrika dari aneka cerita kriminal di media massa Jakarta. Cilakanya, sebelum berangkat ke Berlin seorang teman yang pernah mengikuti program yang sama mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan orang-orang kulit hitam.

Teman saya bercerita, seorang kawannya dari Afrika tiba-tiba menghilang setelah lima belas hari di Berlin. Kawan Afrika ini sempat memohon dipinjamkan uang. Untung kawan saya itu tidak memberinya pinjaman. Usut punya usut pria Afrika itu ternyata memalsukan identitasnya demi bisa masuk Eropa jadi imigran gelap.

Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa Joseph bukan dari golongan itu. Orang Indonesia yang putih bersih dengan tampilan perlente pun banyak yang jadi copet di Cawang….

Semesta bekerja secara diam-diam di belakang kehidupan kita. Ada gelombang-gelombang energi yang bergerak sedemikian cepat dan saling silang pada satu ruang kehidupan yang tidak bisa kita lihat. Energi semesta menjawab semua doa dan melempar saya ke satu kota di jantung Eropa, Berlin.

”22 kilo, Pak. Kelebihan dua kilo,” Danang, petugas boarding KLM Royal Dutch di Bandara Soekarno-Hatta mengingatkan sambil melirik koper saya di atas timbangan.. “Kalo mau bayar juga gak apa-apa, Rp 400 ribu per kilo,” katanya lagi.
“Cuman kelebihan dua kilo gak bisa cincai boss,” bujuk saya.
“Wah, gak bisa Pak,”
“Cincailaaahh….,”
Danang menggeleng.

Sialan! Koper saya bongkar ulang. Jaket kulit saya keluarkan.

“Masih 21,3 Pak. Kayaknya mesti dibongkar lagi deh isinya,” petugas bandara itu kembali tersenyum.

Shit! Senyumnya jauh dari menyenangkan. Kali ini indomie keluar 10 bungkus. Dua toples kering teri tempe dan kentang ikut keluar.

“Masih berat, Pak,” kata Danang lagi. Angka di timbangan menunjuk angka 20,7.
“Halah, gak nyampe 1 kilo lebihnya,” saya merajuk.
Danang cuma menggeleng, lagi-lagi sambil tersenyum.

Indomie keluar lagi 10 bungkus. Kali ini sepatu juga keluar. Saya mulai berkeringat. Bolakbalik mengangkat koper seberat 20 kg lebih membuat pendingin udara di bandara serasa tidak bekerja. Kali ini saya selamat, 19,7 kg. Koper berat itu masuk bagasi.

”O iya, Pak, koper yang di bawa ke pesawat juga ditimbang. Maksimal 10 kg,” Danang kembali tersenyum.

Sore yang naas. Dua tas yang saya bawa masuk pesawat total beratnya 12 kg. Lagi, kelebihan 2 kg. Saya mengucapkan selamat tinggal pada quaker oat 1 kg, kopi, gula pasir, sambal pecel.

“Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja di Berlin tanpa barang-barang itu,” sebuah suara entah dari mana menggema di batin saya.

Hey, saya menghardik suara itu, ini bukan soal saya akan baik-baik saja atau tidak. Saya tahu semua akan okay tanpa semua itu. Ini soal ngangkat koper berat bolak-balik. Capek tauk!!!!!