Semesta bekerja secara diam-diam di belakang kehidupan kita. Ada gelombang-gelombang energi yang bergerak sedemikian cepat dan saling silang pada satu ruang kehidupan yang tidak bisa kita lihat. Energi semesta menjawab semua doa dan melempar saya ke satu kota di jantung Eropa, Berlin.

”22 kilo, Pak. Kelebihan dua kilo,” Danang, petugas boarding KLM Royal Dutch di Bandara Soekarno-Hatta mengingatkan sambil melirik koper saya di atas timbangan.. “Kalo mau bayar juga gak apa-apa, Rp 400 ribu per kilo,” katanya lagi.
“Cuman kelebihan dua kilo gak bisa cincai boss,” bujuk saya.
“Wah, gak bisa Pak,”
“Cincailaaahh….,”
Danang menggeleng.

Sialan! Koper saya bongkar ulang. Jaket kulit saya keluarkan.

“Masih 21,3 Pak. Kayaknya mesti dibongkar lagi deh isinya,” petugas bandara itu kembali tersenyum.

Shit! Senyumnya jauh dari menyenangkan. Kali ini indomie keluar 10 bungkus. Dua toples kering teri tempe dan kentang ikut keluar.

“Masih berat, Pak,” kata Danang lagi. Angka di timbangan menunjuk angka 20,7.
“Halah, gak nyampe 1 kilo lebihnya,” saya merajuk.
Danang cuma menggeleng, lagi-lagi sambil tersenyum.

Indomie keluar lagi 10 bungkus. Kali ini sepatu juga keluar. Saya mulai berkeringat. Bolakbalik mengangkat koper seberat 20 kg lebih membuat pendingin udara di bandara serasa tidak bekerja. Kali ini saya selamat, 19,7 kg. Koper berat itu masuk bagasi.

”O iya, Pak, koper yang di bawa ke pesawat juga ditimbang. Maksimal 10 kg,” Danang kembali tersenyum.

Sore yang naas. Dua tas yang saya bawa masuk pesawat total beratnya 12 kg. Lagi, kelebihan 2 kg. Saya mengucapkan selamat tinggal pada quaker oat 1 kg, kopi, gula pasir, sambal pecel.

“Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja di Berlin tanpa barang-barang itu,” sebuah suara entah dari mana menggema di batin saya.

Hey, saya menghardik suara itu, ini bukan soal saya akan baik-baik saja atau tidak. Saya tahu semua akan okay tanpa semua itu. Ini soal ngangkat koper berat bolak-balik. Capek tauk!!!!!

Iklan