Apa yang Anda bayangkan tentang Berlin? Kota tua yang cantik. Sebagian sejarah penting dunia dikendalikan dari kota ini. Karl Max lahir di sini dan gagasannya tentang tatanan masyarakat baru tanpa kelas mengubah wajah peradaban pada awal abad ke 19.

Adolf Hittler juga tinggal di sini. Ia memegang kendali pasukan jerman dalam Perang Dunia II. Pembantaian 6 juta orang Yahudi pun terjadi di kota ini. Berlin adalah kota sejarah. Dan catatan-catatan masa lalu itu diabadikan di kota ini. Ada 170 museum yang bisa mengantar kita kembali ke waktu lampau.

Kami tiba di Berlin sekitar pukul 9.30 waktu setempat. Kami bertemu dengan sejumlah teman yang juga datang pada waktu yang bersamaan. Tamara Almeyda, dari InWent –lembaga penyelenggara training-, menyambut kami dengan senyum. Tamara adalah satu-satunya orang yang saya lihat tersenyum di pagi yang beku itu.

Ini musim dingin. Wajah orang-orang di sini pun dingin. Tidak banyak orang bercakap –cakap. Bandara hiruk pikuk, tapi hanya ramai oleh suara derap kaki. Di luar butiran salju jatuh seperti gerimis. Bulir-bulir putih itu seperti es serut, tapi ia memiliki pola serupa ranting kecil. Ia jatuh di tangan dan luluh menjadi air. Splaasshh…angin dingin menampar wajah saya seperti lecutan cemeti. Selamat datang di Berlin.

Sebuah minibus kecil mengantar kami menuju apartemen. Supirnya orang jerman berbadan besar yang tidak bisa berbahasa Inggris. Wajahnya beku. Ia mengangkat semua kopor kami ke dalam mobil tanpa sepatah sapa.

Menyusuri jalan menuju apartemen tempat tinggal kami, saya merasa kota ini pun tidak memberikan senyumnya. Awan kelabu menggantung di langit. Pohon-pohon meranggas tanpa daun. Jalanan sepi.Gedung-gedung tua nan besar berdiri kokoh sepanjang jalan. Kota ini sungguh kelabu.

“Kota Berlin jauh dari menyenangkan di musim dingin,” Zohaib Zafar, kawan dari Pakistan memecah keheningan di dalam mobil.
”Kalau Anda datang pada musim semi atau panas Anda akan merasa lebih hidup di kota ini. Banyak orang di jalan. Pohon-pohon berbunga. Sudut-sudut kota terasa lebih hangat. Anda pasti akan menyukai Berlin,” jelas dia lagi. Zohaib cukup memahami Berlin, sebab ini kunjungan keduanya ke Jerman. Pada kunjungan sebelumnya ia datang di musim panas.

Ah, seketika saya teringat senyum Tamara. Senyum memang memberi kehangatan. Dan, kota ini tidak sedang tersenyum menyambut kami.

Iklan