Di Berlin sebagian besar orang tinggal di apartemen. Mungkin cuma orang kaya yang punya rumah. Guesthouse kami pun sebuah apartemen di Selatan Berlin, sekitar 30 menit perjalanan menuju pusat kota (tanpa macet dan tanpa nunggu lama bis atau kereta).

Masing-masing dari kami menempati satu apartemen single, kira-kira 40 meter persegi luasnya. Di dalam apartemen dah tersedia komplit segala kebutuhan. Kamar mandi, tv, dan dapur kecil, lengkap dengan kompor, perlengkapan masak, piring gelas dan kawan-kawannya.

Pagi-pagi sekali bel kamar saya berdering. Joseph -kawan saya dari Uganda- berdiri di depan pintu dengan celana pendek.

”Hi Johanes, kamu punya setrika?” tanya Joseph
“Ada,” jawab saya.
“Pinjem donk!”
“OK.”

Gak sampe satu menit bel kamar saya kembali berdering. Si Joseph lagi di depan pintu. Setrika saya masih dipegangnya.

“Johanes, kamu masih simpen nomer pengelola apartemen?”
”Masih.”
“Liat donk,” Joseph masuk ke kamar saya.
“Johanes, tolong pinjem telepon kamu juga ya. Kunci saya ketinggalan di dalam,” wajah kawan dari Afrika ini tampak begitu cemas.

Hati-hati dengan kunci kamar. Jangan sekali-kali menutup pintu sementara kunci masih di dalam. Dari luar, pintu di apartemen ini hanya bisa dibuka dengan kunci. Jadi kalau kunci ketinggalan di dalam ya gak bisa masuk.

”Waduh apes banget sih gw,” Joseph menepuk jidatnya usai menelepon pengelola apartemen.
”Sorry Joseph, kali ini gw gak bisa bantu apa-apa,” saya mencoba bersimpati.
”It’s Ok Brother. It’s my fault,” Joseph mencoba tersenyum.
“Eh, ini setrikaannya. Gw gak jadi pinjem deh.”

Saya lalu bergegas mandi. Waktunya berangkat sekolah.

Waktu mau keluar apartemen saya bertemu Ririn di tangga.

”Mas, gile juga tuh Joseph. Pagi-pagi jogging,” ujar Ririn.
“Hah, jogging?!!!” tanya saya dengan penuh heran. Sedingin gini keluar apartemen jogging??!!
“Iya, gw ngeliat dia lari-lari di jalan. Kan kamar gw ngadep jalan,” tegas Ririn.

Di lantai bawah di depan pintu apartemen kami melihat Joseph di luar apartemen. Lelaki bergigi tanggal itu berlari-lari kecil. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan dada. Pintu dan dinding bawah apartemen ini dari kaca. Jadi kami bisa melihat keluar.

”Joseph, ngapain lo di luar? Gak kedinginan?!” tanya saya dengan sangat heran sambil membuka pintu.
”Ah, Johaneessss….terima kasih,” Joseph segera masuk ke dalam apartemen.
“Saya cemas sekali karena kunci saya ketinggalan di dalam kamar. Jadi saya keluar menunggu pengelola apartemen. Saya lupa kalau saya gak punya kunci jadi gak bisa masuk lagi. Ya udah saya jogging aja…dingin eeeuuuyyy,” jelas Joseph.

Pintu masuk apartemen juga sama sitemnya, bisa dibuka dari dalam tanpa kunci, tapi dari luar harus menggunakan kunci. Pagi itu dingin sekali. Baju saya lapis tiga plus jaket kulit. Meski memakai sarung tangan kulit yang dalamnya berbulu tangan saya tetap merasa kedinginan. Ini Si Joseph cuma pakai celana pendek dan kaosan. Gak heran, dia memang harus jogging selama “tersandera” di luar.

Iklan