Ada yang menarik perhatian saya di loker apartemen ini. Ada tiga nama Indonesia tertera di sana. E Wulandari, Mulianakusumah, R. Soesman. Saya cuma membatin, ah pasti menyenangkan kalau bisa ketemu sama mereka. Orang-orang ini pasti kuliah di sini, pikir saya. Mereka tentunya tahu betul segala seluk beluk tinggal di kota ini. Tapi, gimana caranya ketemu mereka?

Apartemen ini terdiri dari empat lantai. Kalau saya tidak salah hitung, ada 72 kamar di apartemen ini. Namun, saya tidak tahu apakah semua kamar terisi. Beberapa nama Jerman tampak tertera di beberapa kamar apartemen. Tapi, kami tidak pernah melihat semua penghuninya.

Saya beberapa kali bertemu dengan beberapa orang Jerman penghuni apartemen ini saat hendak berangkat sekolah. Tapi ya sekadar melihat mereka pergi aja. Apartemen ini benar-benar fungsional sebagai tempat tinggal, bukan tempat bersosialisasi.

Pertama kali masuk ke sini rasanya gedung ini tidak berpenghuni. Gedung ini lorong-lorongnya selalu gelap. Kalau masuk apartemen silakan nyalakan lampu lorong yang nanti akan mati sendiri secara otomatis setelah beberapa menit. Masuk kamar, kunci pintu, urus dirimu sendiri. Selesai.

Saya tidak pernah mendengar ada suara orang berbicara kecuali suara teman-teman satu sekolah yang tinggal di sini. Apartemen ini sunyi. Sepi. Jadi gimana caranya ketemu orang-orang Indonesia itu?

Semesta selalu punya caranya sendiri bekerja mengatur peristiwa demi peristiwa hidup manusia. Itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Hampir pukul 6 sore dan langit sudah gelap saat saya dan beberapa teman tiba di Stasiun Hermanstrasse usai muter-muter di pusat kota Berlin. Kami berlari-lari kecil menuju halte bus karena bus jurusan ke apartemen kami sudah menunggu di sana.

Di bangku belakang bus saya melihat seorang lelaki bertampang sangat Indonesia. Ada dorongan gaib yang menuntun saya memilih duduk di bangku sebelah orang itu. Kami beradu pandang, tapi tidak berucap sepatah kata. Saya ingin menyapa tapi khawatir lelaki ini oang Malaysia. Itu yang terjadi saat di pesawat dalam penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Saya pikir bapak yang duduk di sebelah saya orang Indonesia, ternyata orang Malaysia.

Tapi, saya begitu penasaran dan memberanikan diri buka suara.

”Exuse me, are you from Indonesia?”

“Hahahaha…betul sekali!” lelaki itu spontan tertawa. ”Saya dari tadi dah mikir ini mukanya Indonesia banget, tapi gak berani menyapa karena takutnya dari Filipina.”

Ebusyet, muka saya yang sangat jawir ini dibilang mirip orang Filipina. Pedagang kebab orang Irak di Hermanplatz malam kemarin bilang muka saya arab sekali. Mirip orang dari Basra, Irak, katanya. Busyet dah!!!

Ahmad Irsan, demikian nama teman Indonesia di bus itu. Ia pegawai Departemen Keuangan yang juga sedang mengikuti training dari lembaga pemberi training yang sama dengan saya. Irsan mengikuti traning itu bersama tiga orang Indonesia lainnya yaitu Hena Mulianakusumah. Rony Soesman dan Eva Wulandari yang tinggalnya satu apartemen dengan saya. Hena dan Rony ada di bus yang sama hanya belainan kursi. Sementara, Eva sedang tidak bersama mereka sore itu. Irsan sendiri tinggal di apartemen sebelah.

Irsan dkk mengikuti program traning selama satu tahun. Mereka datang ke Jerman sejak Oktober dan tinggal berpindah-pindah. Sebelumnya mereka tinggal di Munich. Ngobrol sana-sini, Si Irsan ini ternyata rumahnya di Pondok Kopi, cuma sekitar empat kilometer dari rumah orangtua saya di Buaran. Bolehlah dibilang kami bertetangga, tapi gak pernah ketemu di Jakarta, ketemunya di Berlin…Alamakjan!!!

Iklan