Minggu lalu, Sylvia, pendamping kami di Berlin datang membawa pengumuman. “Hari Rabu depan ada pertandingan hockey antara Eisbaren Berlin melawan Adler Mannheim. Mau nonton gak?”

”Mauuuuu….,” sontak mayoritas teman-teman pada semangat.
”Her, lo harus nonton. Seru. Di negara lo gak ada kan hockey?” Zohaib teman saya dari Pakistan ngomporin saya untuk ikut. Hockey sih ada di Indonesia, tapi jauh dari populer. Di Indonesia yang populer itu sepak bola, meski gak ada prestasinya.

Saya mulanya agak ragu untuk ikut, gak ngerti babarlas soal hockey. Saya khawatir gak bisa nikmatin pertandingan. Apalagi saya kan gak suka olahraga. Acaranya malem pula. Dingin. Uh, males banget keluar di sini. Pulang sekolah yang ada di benak saya cuma apartemen yang hangat. Tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk berangkat karena melihat antusiasme teman-teman.

Hockey adalah salah satu olah raga yang sangat populer di Jerman. Yang kami tonton malam itu adalah bagian dari pertandingan Bundesliga. Lho kok Bundesliga? Iya Bundesliga. Di Indonesia istilah Bundesliga melekat pada sepakbola aja. Padahal Bundesliga itu artinya kurang lebih Liga Nasional. Jadi ada banyak macam liga asional. Selain sepak bola yang sangat populer di Indonesia ada juga Bundesliga untuk basket, bola tangan, volley, tenis, hockey dan lainnya.

Rabu sore itu rasa malas belum beranjak di hati saya meski sejumlah teman terlihat begitu bersemangat. Di luar gerimis pula. Yang bikin males, gerimis di musim dingin air yang nyiprat ke muka sumpah gak asyik banget. Dingin, kayak dicubit-cubit pake es. Nah lo gimana tuh. Dengan berat hati saya ikut dalam rombongan yang penuh sorak gembira menuju Warschauer Strasse di timur kota Berlin.

Pertandingan hockey diselenggarakan di gedung serbaguna O2 World. Ini adalah kandangnya Eisbaren Berlin. Jadi, Adler Mannheim jadi tamu di sini. Gedung ini juga jadi kandangya Alba Berlin basketball team. Selain jadi tempat pertandingan olahraga O2 World juga kerap digunakan sebagai tempat konser musik. Sejumlah penyanyi top yang pernah manggung di sini adalah Metallica, Alicia Keys, dan Tina Turner.

Gedung berkapasitas 17 ribu orang ini belum lama dibangun. Pembukaan perdana baru September tahun lalu dan ditandai dengan konser Metallica pada 12 September. Perusahaan seluler Jerman O2 mengambil hak cipta untuk nama gedung itu. Selain di Berlin O2 juga membeli hak cipta nama yang sama untuk gedung serbaguna di London, Prague, dan Dublin. Kabarnya MTV Music Award 2009 bakal digelar di O2 World Berlin.

Jarum jam di pergelangan tangan saya menunjuk pukul 18.45 saat kami tiba di S-bahn Warschauer Strasse. Angin dingin datang menampar muka saya yang mulai terasa tebal. Kami bertemu kerumunan orang yang mengenakan seragam kebesaran Eisbaren Berlin. Mereka bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil. Aha, para supporter sudah mulai berdatangan. Jadi inget Jackmania di Jakarta. Kami harus berjalan sekitar 15 menit dari S-bahn menuju gedung pertandingan.

Wah, di gedung itu rupanya kami jadi tamu spesial. Selain tidak harus ngantri karena lewat pintu masuk khusus untuk pers kami juga disambut oleh humas O2 World (lupa namanya) yang ditemani oleh asistennya yang seksi Tiana Robinson (kalo ini inget namanya…:p). Kami diajak keliling ruangan press room. Kayak di Indonesia, ada banyak wartawan lagi nongkrong di situ. Ruangan itu juga dilengkapi dengan w-lan. So, tinggal bawa laptop trus surfing deh. Di ruangan itu juga komplit dilengkapi makanan dan aneka minuman ringan. ”Kalau mau makan dan minum silakan ambil di sini. Gak usah malu-malu,” kata Pak Humas yang saya lupa namanya itu. Mulanya kami malu-malu, tapi karena lapar lalu jadi malu-maluin.

Gedung ini besar sekali. Kami dapat tempat duduk di tribun wartawan di lantai empat. Di setiap lantai ada toko makanan. Suanana malam itu terasa riuh. Musik berdentum dengan sangat keras dari dalam arena pertandingan. Wah, beat musik yang ingar bingar meletupkan semangat dalam hati saya. Hampir semua bangku terisi. Ratusan supporter berkumpul di salah satu sisi di tribun paling bawah. Sebagian dari mereka membawa drum yang terus ditabuh bertalu-talu.

Ada atmosfir magis saat para supporter berteriak dalam irama, bernyanyi, membuat gerakan. Mereka sangat kompak. Mereka punya sejumlah seruan khusus yang ketika dilakukan bersama-sama membuat hati gembira. Ketika Tim Eisbaren berhasil menggetarkan jala lawan mereka punya seruan khusus. Ketika Tim Adler melakukan serangan mereka menggoda dengan suitan kencang. Mereka jadi pemandu sorak bagi ribuan penonton yang menyaksikan pertandingan malam itu. Bagian ini yang membuat suasana malam itu terasa hidup. Hati ini jadi ikut gembira.

Pertandingan hockey berlangsung 3×20 menit. Eisbaren Berlin membekuk tamunya 7-2. Pertandingan hockeynya seru, tapi sorak sorai penonton jauh lebih seru. Hampir tengah malam saya tiba di rumah..dan gerimis malam itu tidak lagi terasa dingin.

Iklan