You are currently browsing the category archive for the ‘campursari’ category.

”Uang dengan cepat kehilangan maknanya sebagai sistem ukuran bagi produksi dan nilai di dunia nyata. Uang kini semakin tidak bersentuhan dengan realitas.

Hezel Henderson
Paradigms in Progress: Life Beyond Economics
Knowledge System, 1991.

Rabu, 8 Oktober Bursa Efek Indonesia menutup sementara perdagangannya. Katanya, Indeks Harga Saham Gabungan terpelanting sampai 10,38 persen. Aku enggak ngerti babarblas soal ekonomi. Enggak tahu juga apa makna angka 10,38 persen itu.

Kata orang, ini semua imbas dari krisis yang terjadi di Amerika. Di sana ribuan triliun uang telah berubah menjadi semen, bata dan cat. Repotnya, uang-uang itu berasal dari berbagai belahan dunia.

Sejumlah lembaga keuangan di sono yang bertanggunjawab terhadap uang yang dipinjamnya dari berbagai belahan dunia akhirnya bangkrut. Uang telah berubah menjadi batu. Maka, untuk memenuhi kebutuhan uang dicairkanlah investasi di sejumlah negara termasuk Indonesia. Repotnya, investor lokal panik dan ramai-ramai menjual sahamnya. Terjadilah angka 10,38 persen itu.

Cerita penutupan ini makin ramai, karena tidak hanya terjadi di Indonesia. Lantai bursa sejumlah negara lain juga menutup sementara perdagangannya. Itu semua gara-gara kredit macet perumahan di Amerika. Begitu kata orang-orang. Aku ya sok manggut-manggut saja seolah-olah mengerti.

Aku tidak takjub dengan peristiwa yang disebut sebagai sejarah bursa saham di Indonesia ini, karena aku tidak mengerti. Tapi, aku sangat takjub dengan jejaring sistem keuangan dunia. Dunia manusia membangun jejaringnya sendiri menyerupai tubuh dan kosmos. Tubuh itu jika si jempol kaki tertusuk duri, kepala ikut pening. Demikian juga kosmos. Kerusakan pada satu bagian merusak pula secara sistemik bagian lainnya. Tebanglah seluruh hutan di Jawa Barat, maka Jakarta akan terbenam oleh banjir.

Jejaring ekonomi ini pastilah bermula dari jejaring sederhan perdagangan antar pulau dengan sampan di zaman bahaeula dulu. Terkenang aku akan Columbus yang membuktikan bahwa dunia ini terukur. Terbayang pula ribuan perahu yang mengarungi samudera sesudahnya demi cita-cita kolonialisme. Perahu-perahu ini kemudian menghubungkan bagian demi bagian planet ini dalam jejaring perdagangan.

Dulu semuanya real. Pedagang cengkeh langsung mendapatkan uang dari pembelinya. Begitu pula, setiap pembeli pun harus membawa segepok uang kalau ingin belanja dalam jumlah banyak.

Dunia yang real adalah masa lalu.Zaman berubah demikian luar biasa membawa peradaban pada dunia virtual. Yang bermain hanya simbol. Pedagang dan pembeli hampir tidak pernah melihat uang yang menjadi alat tukar perdagangan ketika melakukan transaksi.

Untuk membeli sebungkus rokok seharga Rp 8 ribu Anda hanya perlu menggesek sebuah kartu dan memasukkan sejumlah nomor rahasia pada sebuah alat. Nilai uang Anda hanya deretan angka yang dapat Anda lihat melalui telepon seluler Anda dan Anda tidak perlu menggenggam deretan angka uang itu dalam wujudnya yang baheula di zaman Colombus.

Inilah dunia virtual. Virtual itu semu bagaikan fatamorgana. Tapi, ia juga nyata eksistensial. Dalam wujud baru realitas virtual ini lalu lintas uang pun melebur dalam cara-cara yang virtual pula melalui internet dan komunikasi satelit. Bayangkan, lalu lintas uang adalah lalu lintas angka-angka yang terjadi melalui serat optik dan gelombang-gelombang fisika yang mengapung di udara. Dan itu semua tidak kasatmata. Hebatnya lagi, semua itu bisa dikontrol dari kursi Anda di belakang meja tanpa perlu Anda pergi ke mana-mana.

Dalam era virtual ini, menggelembungkan uang dengan cara membeli anak sapi dan menunggunya besar untuk kemudian dijual adalah cara kuno. Sistem ekonomi virtual memungkinkan uang dikembangkan dengan cara spekulasi, permainan mata uang, permainan perbedaan tingkat suku bunga dan betuk-bentuk lain perdagangan mata uang. Semuanya dimungkinkan karena lalu lintas jaman virtual berlangsung begitu cepat lebih cepat dari kedipan mata. Dan, sekali lagi, Anda tidak pernah melihat uang. Anda hanya melihat simbol.

Dan, simbol-simbol yang hilir mudik di lantai bursa sekarang sedang menggegerkan dunia.

Iklan


Kantor Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan terletak di belakang Kantor Kementrian Koordinator Politik dan Keamanan di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Gedungnya agak tersembunyi, tidak terlihat dari jalan. Namun, yang tersembunyi ternyata tidak hanya gedungnya, tapi juga tumpukan sampah perkakas kantor di atap gedung itu.

Dari Gedung Sapta Pesona, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang bangunannya lebih tinggi dan terletak persis di sebelah gedung tersembunyi itu tumpukan sampah terlihat jelas. “Ya, ampun itu sampah. Apa maksudnya sih ditumpuk di situ, mengganggu pemandangan aja,” celetuk Avelia Kartika, salah seorang tamu di Gedung Sapta Peona yang melongok ke atap gedung itu dari lantai 9, Kamis (25/9).

Di atap gedung yang dikomandoi putri proklamator Bung Hatta, Meutia Hatta, teronggok puluhan kursi, lemari besi, dan aneka perkakas kantor. Entah sejak kapan barang-barang itu menjadi sampah di atap gedung. Daripada menjadi sampah tak berguna, rasanya onggokan barang-barang itu masih laku dijual ke pedagang barang bekas lalu duitnya disumbang ke lembaga zakat. Meski mungkin hasilnya tak seberapa, tapi lebih berarti daripada menjadi onggokan sampah.

Blogged with the Flock Browser


Suatu siang. Percakapan telepon.
+ Halo Pak, apakabar?
– Siapa ini?
+ Si Anu Pak
– O, ya..hai apakabar? Lama kita enggak ketemu ya..
+ Baik, Pak. Bapak sendiri gimana, sehat..
– Alhamdulilah, sehat. Gimana, gimana, apa yang bisa dibantu.
+ Itu Pak, mau tanya soal Mr M
– Hmm..begini. Kita enggak tahu. Ini bukan kerjaan kita. Kalau dia yang buat ya mungkin kerjaan dia sendiri. Tapi, kita benar-benar enggak tahu.
+ Mr M bisa diambil enggak, Pak?
– Ambil aja kalau memang ada buktinya.
+ Ah, nanti teman-teman Bapak melindungi kayak yang sudah-sudah.
– Enggaklah. Kita enggak akan ikut campur. Ambil aja. Kita enggak punya urusan sama dia.
+ Okelah Pak kalau itu
– Oke. Gitu ya…
+ Oke Pak, selamat siang…
– Siang…

Suatu siang yang lain, percakapan yang lain, di tempat yang juga lain.

+ Siang Pak
– Siang
+ Pak, mau tanya soal perkembangan kasus Munir.
– Penyelidikan masih terus berjalan. Tim kita masih bekerja.
+ Soal Mr M, Pak. Namanya kan disebut-sebut. Sejauh mana penyelidikannya?
– Tim kita masih bekerja
+ Apalagi yang dicari, Pak? Bukankah bukti-bukti keterkaitan sudah jelas?
(Tiba-tiba lelaki itu mendengus marah)
– Kamu tahu tidak, siapa Mr M? Kamu bisa jamin tidak keselamatan keluarga saya?
+ ???

EDAN!!!!! Orang nomor satu di bagian reserse mabes polri saja takut!!! Tiga bintang di pundaknya tidak bisa menjamin keselamatan keluarganya….Untunglah orang itu segera lengser, dan tebukti dia bukan penegak hukumyang baik. He was jail!!!!


Mei 2003. Aceh ditetapkan sebagai kawasan darurat militer. Ribuan tentara Indonesia diterjunkan ke sana untuk menumpas kelompok separatis bersenjata GAM.

Siang di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, matahari memanggang jalan-jalan. Panas sekali. Keringat menetes di mana-mana. Bukan teriknya srengenge saja yang memeras air badan ini, desing peluru dan dentam meriam juga membuat hari-hari di kota itu terasa makin membara. Keringat yang jatuh bukan cuma keringat gerah, tapi juga keringat cemas dan was-was. Keringat yang terakhir tidak keluar dari pori-pori, tapi dari bola mata setiap orang yang mendambakan kedamaian di bumi serambi mekah.

Lhokseumawe jadi kota perang. Jalan-jalan dipenuhi tentara yang wira-wiri menyandang bedil. Mirip kisah di film-film . Di luar kota jalan-jalan lengang. Kalaupun ada kendaraan mereka melintas beriringan. Makin hari makin susah saja mencari angkutan. Beberapa kali angkutan-angkutan itu terjebak di tengah kontak senjata antara pasukan TNI dan GAM. Siapa pula yang ingin berada dalam situasi seperti ini. Peluru tidak memiliki mata. Adakah orang memilih berlibur ke tempat perang? Ada!

Suatu siang di Hotel Vina Vira, Lhokseumawe, lelaki berkacamata itu duduk sendiri di sebuah sofa butut di depan kamarnya di lantai dua. Tangan kanannya dibalut perban dan mengenakan kain penyangga yang tersambung di lehernya. Di dada lelaki itu tergantung ID Card yang entah apa informasinya. Lelaki itu tidak sendiri. Seingatku di kamar itu juga ada satu lelaki lagi. Tapi, yang terakhir ini jarang menampakkan batang hidungnya.

Kami hanya berselisih satu kamar. Aku bersama dua orang teman di kamar sudut selatan sementara dua lelaki itu di kamar sudut utara. Di tengah adalah kamar sopir-sopir yang mobilnya disewa para jurnalis melakukan liputan.

Dua lelaki di kamar sudut itu seketika menarik perhatian. Jelas saja, sebab semua kamar di hotel ini dihuni oleh wartawan yang meliput operasi militer kecuali satu kamar di sudut utara di lantai dua. Terjadi bisik-bisik di antara kami, menerka-nerka siapa mereka. Tapi toh akhirnya kami abaikan juga kehadiran dua orang “asing” ini. Kami lantas menyimpulkan begitu saja bahwa mereka adalah perpanjangan tangan tentara yang ditempatkan di hotel ini untuk memantau aktivitas pekerja pers. Wajar saja. Situasi darurat gitu lho.

Siang itu dua orang temanku berinisiatif menghampiri si lelaki berkacamata dan menyapanya. Aku tidak berminat sama sekali ikut serta dan memilih masuk kamar untuk menyelesaikan beberapa tulisan yang harus dikirim siang itu.

Tak lama dua teman kembali.
“Orang yang aneh. Masak liburan ke tempat perang,” gerutu seorang teman.
“Kenapa?” tanyaku.
“itu, orang itu, ngakunya ke sini liburan,” sambar temanku yang satu lagi.
“Emangya siapa sih tuh orang?” rasa penasaranku terusik.
“Ngakunya sih pilot Garuda. Tadi dia nunjukin ID-nya. Namanya…..,” temanku menyebut satu nama yang terasa asing di telinga. Aku bahkan tak mampu mengingatnya. Selintas peristiwa ini lenyap dalam ingatan.

Di Jakarta sekian bulan kemudian Munir diracun di atas pesawat. Sebuah nama dikait-kaitkan dengan peristiwa itu. Nama yang tidak lazim di telingaku. Sosok pemilik nama itu tampil di sejumlah TV. Ia diwawancarai karena namanya disebut-sebut. Aku memeras dahi, rasanya pernah melihat orang itu, tapi tak mampu mengingatnya, sampai akhirnya telepon selularku berdering.

“Masih ingat kan sama orang itu?” kata suara di seberang.
“Enggak ingat. Tapi, aku merasa tidak asing,” jawabku jujur.
“Vina Vira, Lhokseumawe,” suara di seberang mengingatkan.

Aha! Kepalaku terang benderang.

Kekhawatiran adanya sebab yang tidak wajar dalam kematian Munir menjadi kenyataan. Netherlands Forensic Institute (NFI) yang melakukan otopsi terhadap jenazah aktivis HAM itu mendapatkan zat arsenikum dalam dosis yang mematikan dalam tubuhnya.

Arsenikum lazim terdapat dalam tubuh manusia. Dalam kadar yang normal zat ini tidak berbahaya. Seberapa mematikan dosis arsen yag ditemukan dalam tubuh Munir?

Dalam darah:
Dalam darah terdapat zat arsen. Batas normal kandungannya kurang dari 0,1 mg/liter atau 0,1 mg/kg. Batas kandungan maksimal adalah 0,27 mg. Dalam darah Munir ditemukan konsentrasi arsen yang sangat tinggi yaitu 3,1 mg/liter.

Pada urin:
Konsentrasi arsen pada urin kurang dari 0,3 mg/liter. Batas ambang maksimalnya adalah 2,5 mg/liter. Pada urine Munir didapati konsentrasi kandungan arsen 4,8 mg/liter.

Lambung:
Kandungan arsen dalam tubuh manusia paling banyak terdapat di lambung. Batas normalnya 82,8 mg/liter. Seafood mengandung konsentrasi arsen yang tinggi. Batas maksimal arsen dalam lambung manusia adalah 83 mg/liter. 83 mg arsen setara dengan mengonsumsi 4 kg udang. Dalam lambung Munir terdapat 460 mg/liter. Woooow….

Siapa memasukkan arsen dalam tubuh Munir? Kapan racun itu masuk dan dengan cara bagaimana?

Bandara Soekarno Hatta, Senin, 6 September 2004 malam. Seperti biasa Munir telihat sehat dan ceria. Ia tampak bercengkerama akrab dengan rekan-rekannya dari Kontras dan Imparsial, dua NGO yang didirikannya. Tampak pula Suciwati, isterinya. Mereka mengantar Si Cak yang ingin melanjutkan studi ke Belanda.

Malam yang hangat. Selalu saja ada hal-hal lucu yang membuat tawa di malam itu. Keakraban itu dihentikan oleh waktu. Jam keberangkatan semakin dekat. Munir harus boarding. Lambaian tangan rekan-rekan dan pelukan Suciwati mengiringinya masuk ruang tunggu. Lambaian tangan terakhir. Pelukan terakhir. Malam terakhir.

Waktu keberangkatan makin dekat. Satu per satu para penumpang menyusuri koridor masuk ke pesawat. Di koridor itu seseorang menyapanya dan memperkenalkan diri sebagai Pollycarpus Budihari Priyanto, salah seorang crew Garuda yang tengah menjadi extra crew/aviation security. Dengan ramahnya orang itu menawarkan kursinya di kelas bisnis pada Munir. Ah, Munir tak enak. Ia membeli tiket kelas ekonomi masakan duduk di kelas bisnis. Orang itu meyakinkan tak apa. Munir menyerah. Jadilah ia duduk di kursi 3 K kelas bisnis dalam penerbangan menuju Singapura.

Pukul 21.55. Pesawat Garuda yang ditumpangi Munir meninggalkan Soekarno-Hatta. Di atas pesawat ia memilih mie goreng, juice jeruk dan irisan buah segar sebagai santapannya.

Pukul 00.40 pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura, untuk transit. Pollycarpus, lelaki ramah yang menawarkan kursinya di kelas Bisnis mengajaknya singgah di Coffe Bean. Tidak lama memang waktu transit, hanya satu jam sepuluh menit. Cukuplah untuk ngopi-ngopi. Di Bandara ini pula Munir berkenalan dengan seorang dokter, dr Tarmizi, yang satu penerbangan menuju Amsterdam.

Pukul 01.50 pesawat Garuda meninggalkan Singapura. Munir kembali duduk di kursinya semula nomor 40G di kelas ekonomi. Dijadwalkan, pesawat tiba di Amsterdam 7 September 2004 pukul 08.10 waktu Amsterdam.

Sekitar 40 menit setelah lepas landas Munir merasa ada yang tak beres di perutnya. Ia bolak balik ke toilet. Sekitar 2 jam setelah lepas landas ia mendatangi pramugara Bondan Hernawa dan menyampaikan bahwa dirinya sakit dan ingin dipertemukan dengan dr Tarmizi yang duduk di kelas bisnis di kursi 1 J.

Kepada dr Tarmizi Munir menyampaikan bahwa ia telah muntah dan buang air besar sebanyak 6 kali. Selanjutnya, untuk memudahkan penanganan Munir ditempatkan di kursi nomor 4 bisnis agar dekat dengan dr Tarmizi. Dokter memberinya obat diare, susu serta air garam, tapi Munir terus muntah dan buang air berkali-kali. Dokter kemudian memberinya sebuah suntikan. Munir pun tenang. Ia terlihat tertidur.

Selasa, 7 September 2004, sekitar pukul 04.05 UTC, di atas Budapest, 2 jam sebelum mendara di Schippol, Amsterdam, Munir didapati sudah tidak bernyawa.


Munir Said Thalib. Meski sering berjumpa dalam sejumlah kesempatan, saya tidak memiliki kedekatan khusus dengannya. Kalaupun ketemu di jalan paling sekadar basa-basi, “Halo Cak, mau kemana?” Dan, Munir akan membalas dengan basa-basi pula, “Mau ke sana,” sambil berpikir keras siapa orang ini…hehehe…

Meski jauh dari dekat, tapi toh saya mengenang kata-katanya yang begitu bernas dalam setiap pernyataannya tentang militer dan aneka peristiwa kekerasan yang mengancam hak asasi manusia. Jumpa pers tanpa Cak seperti sayur tanpa bumbu. Tanpa Cak, kepala ini dituntut berpikir keras mencari lead berita. Adanya Cak, kepala ini dituntut lebih keras lagi memilih lead karena apa yang yang dimuntabkan mulutnya menawarkan sejumlah pilihan lead.

Selasa, 7 September 2004, telepon seluler saya berdering, membangunkan tidur saya di siang hari setelah semalaman piket jaga kantor. Kepala saya terasa berat. Mata sulit terbuka. Telepon siang hari itu betul-betul cilaka. Suara di seberang adalah suara seorang kawan yang mengabarkan berita duka. “Di mana lo? Cak Munir meninggal. Anak-anak lagi kumpul di Kontras nih.”

Munir meninggal di atas pesawat Garuda dalam penerbangan menuju Amsterdam. Rohnya melayang-layang di atas Budapest. Raganya kelu diracun Arsenik. Munir dibunuh.

Siapa membunuh Munir?

Adalah Kodja yang pertama kali memperkenalkan blog padaku di sekitar semester dua tahun 2003. Waktu itu blog belum sepopuler sekarang. Tapi Enda Nasution udah sangat ngetop. Segala hal tentang blog nyonteknya ke goblog media.

Untuk urusan desain blog pun masih amat njelimet, berkutat dengan rumus HTML. Untuk memasukkan sebuah gambar ke dalam blog rumusnya panjang. Belum ada flickr, picasa atau photobucket. Gambar ditaruh di hostingan gratis trus harus ‘disamarkan’ extensionnya jadi txt dan diutakatik hiperlinknya di html langsung.

Tapi, justru segala keribetan ini yang membuatku addict ngeblog. Sayangnya, bukan keribetan mengisi konten, tapi keribetan mengutak-atik desain dengan html. Lihat saja arsip yang terhitung selama lima tahun, miskin bukan…hehehe….blog ini rasanya lebih banyak berganti desain ketimbang update kontennya…:p

Begitulah kemudian ketika kenjlimetan html mulai bisa terpahami tidak ada lagi yang bisa membuatku bertahan bercengkerama dengan blog. Rumah maya ini terasa membosankan dan lambat laun tak terurus. Aktivitas blogging stop selama sekian tahun. Jaringan pertemanan maya yang kurintis dulu pun buyar. Daftar blog teman-teman yang dulu berderet-deret ikut lenyap bersamaan dengan bergantinya format blogger.

Meski tidak lagi ngeblog bukan berarti aku sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan dunia ini. Dalam beberapa kesempatan malah jadi pembicara tentang blog. Dalam beberapa kesempatan pula aku masih bersinggungan dengan komunitas blogger. Sementara sejumlah teman berulangkali mendorong agar aku aktif ngeblog lagi.

Setelah sekian tahun hidup segan mati tak mau akhirnya aku terprovokasi juga pengen ngeblog lagi. Rasanya kali ini bener-bener ingin menulis [juga pengen ngutak-ngatik desain karena caranya dah beda :p].

Aku sempat memutuskan pindah rumah ke WordPress. Tapi, setelah utakatik di WordPress akhirnya kuputuskan untuk kembali ‘pulang’ ke Blogger. Alasan utama karena Blogger menyediakan fitur posting by mobile phone, sementara worpress tidak membuka fitur itu untuk blog gratisannya.

Ya, begitulah semua ceritanya. Akhirnya ngeblog lagi dan blogger juga ujung-ujungnya.