You are currently browsing the category archive for the ‘i read this book’ category.

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Presiden Indonesia keempat. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri.

Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Tjipta menyebut dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia. Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Celakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarier di luar negeri.

Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu. “Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York. Kan sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana.

Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai Direksi Indosat. “Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan kepada saya? Dia lebih cocok di Indosat Gus,” kata Laksamana.

Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang, ”Enggak bisa itu orang!” “Lho, kenapa, Gus?” Laksamana terperanjat.
”Dia bawa lari istri orang.”

Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itu pun sudah ada di Indonesia. Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya.

”Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari istri orang?” tanya Laksamana.
”Demi Allah Pak! Saya masih dengan istri saya yang sekarang,” jawab orang itu.

Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Kariernya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi gara-gara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal 207).

Gus Dur menangis meraung-raung

Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini, ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1.

Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur kariernya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur.

Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap “memeras” sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam “bantuan”, tapi dengan imbalan yang sangat besar.

Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB.

Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana. Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis.

AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur. “Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?” ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara.

Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. “Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!” ujar Gus Dur (hal 225).

Sejak saat itu dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.

(Bersambung)

Heru Margianto
————
*Tulisan ini ditayangkan di kompas.com,
Rabu, 17 Desember 2008 | 12:03 WIB

MEGAWATI Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Namun, diamnya Megawati sering kali kelewatan. Ia tetap tak bersuara, bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”

Mengapa Megawati lebih banyak diam?

Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu.

Seusai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri. “Lama amat sih kamu ngobrol-nya. Apa saja sih yang dibahas?”

”Enggak ada Mas. Kami ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!” jawab sang menteri sambil tertawa lebar (hal 272).

Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan, seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama. Namun, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus-menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam buku itu, dalam sidang kabinet, Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya meski perdebatan sudah berada pada tingkat “panas”.

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa antipemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar-bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da’i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot.

Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri.

Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata-kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati. Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya (hal 276).

Pendendam

Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia Ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir. Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.

Tjipta menulis, “Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis,” (hal 303). Ini semua karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, “Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.” (hal 288).

Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi. Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati.

Pada 12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua Pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis.

Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun.

Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDI-P. “Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (SBY) saya enggak bisa karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal 289).

(Bersambung)

Heru Margianto

————
*Tulisan ini ditayangkan di kompas.com,
Rabu, 17 Desember 2008 | 11:58 WIB

Kawan saya Savic, pemilik toko buku online (khatulistiwa.net) jau-jauh hari sudah berpromosi tentang buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Maryamah Karpov. Dia tahu betul buku ini dinanti-nanti banyak orang. Hanya mereka yang tidak mengikuti serial kisah ini saja yang tidak peduli dengan terbitnya Maryamah Karpov. Pembaca penasaran bagaimana kelanjutan nasib Lintang, Aling, dan Arai.

Setelah sempat kehabisan buku di Gramedia Citraland pada hari pertama diluncurkan, 28 November kemarin, akhirnya saya mendapatkan Maryamah di Gramedia Matraman. Di sana stok serial terakhir ini melimpah. Saya memburunya dengan antusias. Ada gairah yang meletup-letup di hati saya untuk segera mengunyah lembar demi lembar kelanjutan kisah hidup Si Ikal.

Saya butuh waktu tiga hari untuk menuntaskan kisah setebal 504 halaman ini. Padahal, untuk Laskar Pelangi setebal 534 halaman saya melahapnya hanya dalam waktu satu hari. Membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor menerbitkan gairah dan inspirasi di benak saya. Sementara, membaca Maryamah Karpov gairah itu sontak hilang, padam.

Kalau Laskar Pelangi adalah pemantik yang menyulut api maka Maryamah Karpov adalah mobil pemadam kebakaran yang memadamkan kobaran api itu. Belum sampai setengah halaman saya sudah malas melanjutkan. Tapi, toh saya memaksakan diri juga untuk menyelesaikannya, semata-mata demi menggenapkan bacaan saja. Itulah kenapa saya butuh waktu tiga hari.

Maryamah Karpov dibuka dengan kisah Ikal yang menghadapi sidang tesis pada bulan ramadhan di tengah rasa lapar karena waktu puasa yang panjang di Eropa. Ikal lulus dan pulang kampung di Belitong. Maryamah Karpov adalah kumpulan mozaik-mozaik kecil kisah Ikal kembali tinggal di Belitong.

Meski judulnya Maryamah Karpov jangan bayangkan bahwa buku ini bertutur tentang Mak Maryamah yang sosoknya sempat disinggung di buku kedua, Sang Pemimpi. Maryamah Karpov sendiri, kalau saya tidak salah ingat, hanya disebut 2 atau tiga kali. Hanya dijelaskan satu kalimat saja bahwa Mak Maryamah yang penjual kue ini pandai main catur layaknya sang juara dunia Anatoli Karpov. Karena itulah dia dipanggil Maryamah Karpov. That’s all.

Lha, lalu apa hubungannya judul buku itu dengan Ikal, Lintang, Arai dan Aling? Maryamah Karpov sesungguhnya adalah representasi dari kultur melayu Belitong yang membingkai kisah Ikal yang sangat klise (baca: tema jadul ala HC Andersen bangetszzzzz) memburu Aling pujaan hatinya. Ingat kisah-kisah dongeng karangan HC Andersen tentang pangeran yang rela bertempur melawan naga demi mendapatkan sang putri? Persis seperti itulah kisah akhir tetralogi ini.

Jadi, dalam masyarakat melayu Belitong ada kebiasaan memberi nama julukan pada setiap orang. Asal muasal julukan itu bisa karena ciri-ciri fisiknya, profesinya, kebiasaanya, atau kejadian tertentu terkait orang itu. Muas, karena kulitnya gelap lalu dipanggil Muas Petang 30. Rustam dijuluki Rustam Simpan Pinjam karena bekerja di Koperasi Meskapai Timah. Sementara Munawir karena ia juru bicara Mesjid Al-Himkah yang selalu mengumumkan berita kematian dipanggil Munawir Berita Buruk. Begitulah, ada banyak tokoh dengan julukannya masing-masing.

Di Belitong, setelah menempuh pendidikan yang sangat tinggi di Eropa sono, yang diimpikannya sejak masa remajanya, yang dicapainya dengan darah dan air mata, yang kisah perjuangannya menginspirasi banyak orang, ia teronggok menjadi lelaki tak berguna yang terus terobsesi dengan seorang gadis Suku Ho Pho bernama Aling. Obsesi orang jatuh cinta itu sebenarnya sih sah-sah saja, namun jika berlebihan malah serupa penyakit gila nomer 69.

Mozaik-mozaik kehidupan Ikal di tengan masyarakat melayu di kampungnya di Belitong sebenarnya dikisahkan kocak dengan gaya khas Andrea. Namun, ketika cerita mulai bertutur tentang obsesi cinta, sosok Ikal tiba-tiba menjadi aneh bagi saya.

Selama 7 bulan ia berkutat membuat perahu. Lintang yang jenius membantunya membuat konstruksi perahu hanya dengan cara memejamkan mata dan menuliskannya di atas kertas tembakau. Ikal dengan heroiknya menyelam ke dasar sungai yang dalam untuk menemukan perahu negeri tiongkok yang terkubur ratusan tahun. Setelah itu ia berlayar mengarungi samudera ganas menembus topan badai sementara Kaum Sawang, nelayan paling berpengalaman pun tidak berani melaut. Tidak hanya itu saja, Ikal pun harus berhadapan dengan kaum bajak laut demi menemukan “Cinderela”-nya yang “hilang” selama belasan tahun.

Alkisah, setelah menempuh topan badai di tengah laut, dan menerabas keganasan kaum bajak laut, Ikal menemukan sosok Aling terbaring sakit di sebuah gubuk reot di pulau terpecil. Aling membalikkan badan dan berbisik, “Ikal….” Hahahahahahahahahaha……Andrea kebanyakan nonton pilm nih…..

Sebagai kisah yang menghibur di waktu senggang bolehlah buku ini dibaca. Anda akan berkenalan dengan kultur masyarakat melayu Belitong dan menikmati kelucuan di sana-sini. Tapi, kalau Anda mengharapkan mendapat inspirasi seperti halnya Laskar Pelangi Anda akan kecewa.