You are currently browsing the category archive for the ‘InWent Berlin’ category.

Manusia itu beragam isi kepalanya. Keanekaragaman isi kepala manusia dibentuk oleh sesuatu yang tidak kelihatan -norma, adat istiadat, keyakinan- yang kemudian membentuk cara pandang orang itu melihat dunia di luar dirinya. Di dunia ini ada banyak norma, adat istiadat, dan keyakinan.

Repotnya, acapkali batok kepala manusia terlalu sempit untuk mampu keluar dari cara pandangnya dan mencoba memahami cara pandang orang lain. Manusia-manusia yang otaknya sempit ini selalu menilai orang lain yang berasal dari lingkungan dan adat istiadat berbeda berdasarkan perspektifnya. Jadi, orang-orang macam ini mencoba memaksakan ukuran bajunya pada orang lain yang memiliki ukuran berbeda. Cilaka!!!

Itulah yang terjadi di sini, di kelas internasional di Berlin, dalam interaksi 15 orang dari sejumlah negara plus sejumlah pendamping yang notabene adalah orang lokal. Benturan budaya menimbulkan gesekan di sana-sini dan membuat kepala saya pening. Batok kepala saya juga terlalu kecil untuk bisa memahami semua dinamika ini. Daripada pusing dengan segala benturan yang terjadi saya lebih senang mengamati tingkah laku masing-masing orang. Pilihan ini kadang-kadang cukup efektif menghilangkan rasa sakit di kepala saya.

Kawan-kawan saya tentunya berasal dari sejumlah negara berkembang yang dianggap nan miskin sehingga dipandang layak untuk mendapat uluran tangan pemerintah negeri ini. Selain dari Indonesia mereka berasal dari Filipina, Vietnam, India, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Tanzania, Kenya, Uganda, dan Ghana. Macam-macam polahnya.

Ke-15 orang ini mengalami guncangan atau gegar mekanis yang cukup serius di otaknya karena berjumpa dengan hal-hal yang membuatnya terperangah. Secara garis besar, mereka bisa dikelompokan dalam empat kategori.

Gegar teknologi

Kategori pertama adalah mereka yang mengalami gegar teknologi. Jenis mahluk di kategori ini ciri-cirinya seolah-olah tahu padahal tidak tahu. Mungkin mereka malu bertanya atau tidak tahu apa yang harus ditanya. Salah satu dari mereka, misalnya, membeli CD musik yang harganya lumayanlah dan membiarkan CD itu berhari-hari tergeletak di mejanya.

”CD apa ini kawan?,” tanya saya.
”Jazz,” jawabnya.
”Gimana, lagunya asyikkah?”
”Itu dia masalahnya. Saya berhari-hari berusaha mencari tahu gimana caranya nyetel CD ini, tapi belum berhasil.”

Masya Allah, batin saya. Saya ambil CD itu lalu saya masukkan ke dalam CD room komputer kawan saya itu. Dan, dia terpana ketika alunan musik Jazz mengalun dari komputernya.

”Oooo…jadi tinggal dimasukkan saja ke situ. Eh, gimana tadi bukanya, jangan cepat-cepat biar saya paham…..” kata teman saya itu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang tanggal.

Dari ketegori ini juga ada yang begitu euforia dengan teknologi sampai-sampai pemahaman fungsional tidak lagi penting baginya. Teman saya yang euforia itu tiba-tiba membeli kamera DSLR yang total harganya sekitar 500 Euro. Dia hidup lumayan irit sehingga bisa ngumpulin duit sebesar itu dari uang sakunya. Dia begitu gembira dengan kamera barunya yang disebutnya sebagai kamera profesional. Dengan energik dia lompat sana sini memotret ini itu dan bingung kok gambarnya gelap semua. Cilaka 13!!! Teman saya itu sama sekali gak ngerti apa itu shutter speed dan aperture.

Gegar budaya

Kategori kedua adalah mereka yang mengalami gegar budaya. Orang-orang di kelompok ini sungguh-sungguh terpesona dengan budaya barat dan betul-betul terperangah melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah mungkin bisa dilihatnya di negaranya sendiri. Ciri-ciri orang di kategori ini adalah sering cengar-cengir sendiri.

Suatu hari di kereta api dalam perjalanan menuju kampus, teman saya di kategori ini (seperti biasa) cengar-cengir sendiri di pojok gerbong.

”Woi, kenapa lo cengar-cengir?” tanya saya bingung.
”Ssstt…tuh lihat, mereka mesra banget,” bisik teman saya sambil tetap cengar-cengir. Dia menunjuk sepasang kekasih yang berdiri sambil berpelukan di kereta api.
”Di negara saya itu gak mungkin. Mereka bisa mati dirajam,” bisik dia lagi dan masih tetap cengar-cengir. Mungkin dia membayangkan sepasang kekasih itu dilempari batu.

Di kesempatan lain, teman ini selalu bangga kalo difoto duduk jejer sama perempuan. Dia tunjukkan fotonya ke semua orang. Mulanya saya bingung, apa bagusnya foto itu. Sumpah gak ada yang istimewa dari sudut fotografi manapun, malah kadang ada yang overlight karena flash. Akhirnya toh saya mengerti, ini bukan soal fotografi tapi soal posisinya duduk jejer sama perempuan.

”It’s a dangerous picture man. It is impossible in my country,” katanya sambil (biasaaaa) cengegesan…

Gegar di otaknya terus meluas hingga ke pusat perbelanjaan. Betul-betul merepotkan ngajak mahluk satu ini ke shopping area. Suatu hari dia menyeret tangan saya masuk ke toko pakaian dalam wanita.

”Eh, ngapain lo ke sini. Mo beli BH buat cewek lo?” tanya saya bingung.
“Enggaklah. Gw cuma suka aja sama suasananya. Puuanassss….” jelasnya bisik-bisik sambil lagi-lagi cengegesan…
”Eh, tolong potoin gw di tengah BH-BH ini donk…..”
“Eh, bos lo tuh kayaknya sakit deh….” kata saya sambil ngeloyor keluar.

Akhirnya toh, saya berbaik hati juga memotretnya jejer dengan dua buah mannequin berbikini yang dipajang di etalase depan toko itu.

”It’s a dangerous picture man…” katanya sambil tertawa girang.

Gegar perasaan

Nah, ini kategori ketiga, gegar perasaan. Orang-orang di kelompok ini sungguh memusingkan. Sebab, mereka sering meracau sendiri dan memvonis segala sesuatu dari perspektif mereka. Tindakan yang sangat tidak adil. Mereka selalu menganggap diri mereka yang paling benar. Segala sesuatu yang berbeda dengan cara pandang mereka adalah salah. Mahluk yang hidup dalam kategori ini ciri-cirinya adalah selalu senewen, mengeluh, dan marah-marah terus. Mereka juga kerap kali penuh dengan syak wasangka di kepalanya.

”Kok begini sih, kok begitu sih, kan seharusnya…bla…bla…” suara mereka kompak bagaikan paduan suara.

Orang-orang di kelompok ini bertikai satu sama lain, pertikaian di bawah selimut. Misalnya saja, mereka bertikai soal waktu. Buat orang Jerman urusan tepat waktu adalah hal yang sangat penting, sepenting orang yang mau melahirkan. Maka, sesuatu yang tidak tepat waktu adalah dosa besar, setara dengan pelanggaran hawa yang memakan buah terlarang.

Sementara, orang-orang yang gegar perasaan selalu marah-marah sama urusan tepat waktu.

”Di negara gw terlambat itu biasa, ngapain sih semuanya serba terburu-buru,” keluh seorang yang mengalami guncangan hebat di hatinya. Teman ini betul-betul lupa ingatan bahwa ia sedang tidak berada di negaranya.

Lain waktu ceritanya lebih konyol lagi. Kami mengunjungi Koln, kota terbesar keempat di Jerman setelah Berlin, Hamburg, dan Munich. Orang-orang Jerman itu, seperti orang-orang Eropa pada umumnya, sangat mencintai seni dan sejarah. Aneka cagar budaya bersejarah dijaga sedemikian rupa untuk bisa terus mereka nikmati. Nah, mereka lantas berpikir, aktivitas yang paling menarik tentu saja aktivitas budaya menikmati simbol kota Koln yaitu Katedral Koln. Gereja yang dibangun tahun 1248 ini sangat besar dan masuk dalam daftar world heritage UNESCO. Mereka berasumsi semua orang bisa menikmati seni dan sejarah seperti mereka.

Tapi, tidak semua dari kami suka sejarah. Mereka hanya senang foto-foto di depan tempat-tempat bersejarah tanpa mau pusing memahami apa arti penting tempat bersejarah itu. Repotnya, mereka yang tidak beragama nasrani plus tidak suka sejarah lantas berpikir bahwa aktivitas ini adalah syiar agama nasrani. Muka mereka masam saat pemandu wisata kami dengan penuh semangat menerangkan setiap detail bangunan gereja.

Ada satu bagian di dalam gereja itu yang sangat dibanggakan oleh ibu pemandu wisata kami, sebuah salib besar dari kayu yang tergantung di salah satu sisi gereja. Semua ukuran salib itu dibuat dalam ukuran asli manusia. Jadi patung Yesus yang disalib besarnya sebesar tubuh manusia. Umur salib itu 1000 tahun. Tidak diketahui siapa yang membuat salib itu.

Sekilas salib besar itu jauh dari menarik. Bahkan agak janggal, karena perut Yesus membuncit. Tapi, terang Si Ibu pemandu wisata, salib itu dibuat dengan pemahaman yang berbeda dari biasanya. Di situlah istimewanya. Lazimnya, pada aneka figur penyaliban di golgota, apakah lukisan atau salib, Yesus digambarkan terkulai tanpa perut membuncit dan ada tetes darah di tangan, kaki, dan lambungnya.

Pada figur-figur yang lazim itu yang ditonjolkan adalah sosok Yesus yang menderita di salib. Di salib besar ini bukan penderitaan yang ditonjolkan. Tidak ada darah. Perut buncit adalah penggambaran detail secara anatomis tentang orang sudah meninggal. Otot-otonya melemas dan mengumpul di perut. Jadi, salib itu menggambarkan keparipurnaan wafat Yesus. Tidak ada lagi penderitaan, yang ada adalah keselamatan.

Rasanya patung itu lalu menjadi berarti ketika kita memahami ide di belakangnya. Patung itu bukan lagi seonggok kayu, tapi karya seni yang menyimpan perspektif keyakinan pembuatnya pada jamannya.

”Maaf-maaf aja nih, omongan pemandu wisata itu sama sekali gak gw denger. Sori-sori aja gw punya keyakinan sendiri yang beda dengan keyakinan dia. Gw punya ayat-ayat dalam agama gw yang bisa membantah semua keterangan dia……” seorang teman dari kelompok ini berkata penuh kesal pada saya. Saya cuma bisa bengong dengan tatapan mata bego (ini ciri orang di kelompok gegar keempat).

MASYA ALLAH!!!!! Emangnya siapa yang lagi syiar, batin saya. Pemandu wisata itu nerangin arti penting bangunan gereja dalam konteks sejarahnya. Karena ini gereja maka konteks sejarahnya tentu saja paham teologi kristiani. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati aneka cagar budaya tanpa memahami konteks sejarahnya. Tembok Berlin tanpa konteks sejarah hanyalah puing tanpa arti. Borobudur tanpa konteks sejarah hanyalah onggokan batu. Kepala saya berdenyut keras. Pening bukan main.

Gegar Otak

Dari semuanya, yang paling menderita adalah kelompok keempat. Mereka tiap kali cuma bisa bengong, melongo dengan wajah bego, tanpa tahu harus berkata apa. Semuanya terlihat ajaib sekaligus mengharukan. Wajah mereka sering meringis menahan rasa sakit yang hebat di kepalanya. Mereka ditarik ke sana-sini oleh berbagai kepentingan yang mereka tidak paham apa maunya. Mereka kena gegar otak. Saya adalah bagian dari kelompok ini.


Seringkali orang kelihatan pintar bukan karena dia memang pintar, tapi karena orang lain tidak tahu lebih banyak.

Penetrasi internet di dunia sekarang ini kurang lebih 23,5 persen dari total populasi penduduk bumi sebanyak 6,7 miliar orang. Dari jumlah itu, pengguna internet di Afrika tercatat paling sedikit dibanding benua lainnya, yaitu 5,6 persen dari 900 juta populasi.

Nah, saya punya teman asal Afrika yang nampaknya tidak masuk dalam golongan 5, 6 persen itu. Hal-hal di internet yang buat kita begitu lumrah, baginya terdengar asing. Maka, beberapa hal di internet tampak begitu memukai untuknya. “Ya, saya tahu internet, tapi jarang menggunakannya,” kata dia.

Suatu hari kita belajar tentang web design. Jan Persiel dosen kami bicara panjang lebar soal prinsip-prinsip mendesain sebuah website.

“Bla…bla…bla…saya sudah terlalu banyak bicara soal teori. Ayo sekarang kita coba menganalisis tampilan sebuah situs. Kelompok 1 silakan buka situnya the New York Times. Kelompok 2 silakan cermati situsnya BBC. Kelompok 3 hmmmm…jangan situs berita ya, buka Cocacola deh,” Jan memberi tugas. Saya masuk dalam kelompok 3.

Kami pun beranjak ke ruang komputer. Seorang teman asal Afrika berbisik pada saya, ”Heru, gimana caranya kita tahu situs cocacola itu alamatnya apa?”

“Gampang, cari aja di google, ketik g o o g l e dot c o m” jawab saya enteng.

Di depan komputer kami masing-masing menganalisa sendiri dulu situs-situs itu. Gak lama kemudian temen Afrika itu datang ke meja saya.

“Heru, gw cari cocacola di google kok gak ada,” kata dia.
“Ah, masak. Ini gw dapet,” kata saya.
“Kalau lo gak percaya ayo ke komputer gw.”

Saya beranjak dari tempat duduk.

“Coba tunjukkin di mana ada cocacola di sini,” kata temen saya itu sambil memperlihatkan halaman google di komputernya.

Saya ketik kata “cocacola” dan search.

“Nah, ini situs cocacola,” kata saya.
“Ooooo…jadi harus diketik….gw cari-cari di halaman ini gak ada tulisan cocacola. Google ini halamannya putih semua….ck…ck…ck….kamu memang pintar Heru.”

!@#%^^&**()*&^….Capeeekkk daaaahhhhhh…

Minggu lalu, Sylvia, pendamping kami di Berlin datang membawa pengumuman. “Hari Rabu depan ada pertandingan hockey antara Eisbaren Berlin melawan Adler Mannheim. Mau nonton gak?”

”Mauuuuu….,” sontak mayoritas teman-teman pada semangat.
”Her, lo harus nonton. Seru. Di negara lo gak ada kan hockey?” Zohaib teman saya dari Pakistan ngomporin saya untuk ikut. Hockey sih ada di Indonesia, tapi jauh dari populer. Di Indonesia yang populer itu sepak bola, meski gak ada prestasinya.

Saya mulanya agak ragu untuk ikut, gak ngerti babarlas soal hockey. Saya khawatir gak bisa nikmatin pertandingan. Apalagi saya kan gak suka olahraga. Acaranya malem pula. Dingin. Uh, males banget keluar di sini. Pulang sekolah yang ada di benak saya cuma apartemen yang hangat. Tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk berangkat karena melihat antusiasme teman-teman.

Hockey adalah salah satu olah raga yang sangat populer di Jerman. Yang kami tonton malam itu adalah bagian dari pertandingan Bundesliga. Lho kok Bundesliga? Iya Bundesliga. Di Indonesia istilah Bundesliga melekat pada sepakbola aja. Padahal Bundesliga itu artinya kurang lebih Liga Nasional. Jadi ada banyak macam liga asional. Selain sepak bola yang sangat populer di Indonesia ada juga Bundesliga untuk basket, bola tangan, volley, tenis, hockey dan lainnya.

Rabu sore itu rasa malas belum beranjak di hati saya meski sejumlah teman terlihat begitu bersemangat. Di luar gerimis pula. Yang bikin males, gerimis di musim dingin air yang nyiprat ke muka sumpah gak asyik banget. Dingin, kayak dicubit-cubit pake es. Nah lo gimana tuh. Dengan berat hati saya ikut dalam rombongan yang penuh sorak gembira menuju Warschauer Strasse di timur kota Berlin.

Pertandingan hockey diselenggarakan di gedung serbaguna O2 World. Ini adalah kandangnya Eisbaren Berlin. Jadi, Adler Mannheim jadi tamu di sini. Gedung ini juga jadi kandangya Alba Berlin basketball team. Selain jadi tempat pertandingan olahraga O2 World juga kerap digunakan sebagai tempat konser musik. Sejumlah penyanyi top yang pernah manggung di sini adalah Metallica, Alicia Keys, dan Tina Turner.

Gedung berkapasitas 17 ribu orang ini belum lama dibangun. Pembukaan perdana baru September tahun lalu dan ditandai dengan konser Metallica pada 12 September. Perusahaan seluler Jerman O2 mengambil hak cipta untuk nama gedung itu. Selain di Berlin O2 juga membeli hak cipta nama yang sama untuk gedung serbaguna di London, Prague, dan Dublin. Kabarnya MTV Music Award 2009 bakal digelar di O2 World Berlin.

Jarum jam di pergelangan tangan saya menunjuk pukul 18.45 saat kami tiba di S-bahn Warschauer Strasse. Angin dingin datang menampar muka saya yang mulai terasa tebal. Kami bertemu kerumunan orang yang mengenakan seragam kebesaran Eisbaren Berlin. Mereka bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil. Aha, para supporter sudah mulai berdatangan. Jadi inget Jackmania di Jakarta. Kami harus berjalan sekitar 15 menit dari S-bahn menuju gedung pertandingan.

Wah, di gedung itu rupanya kami jadi tamu spesial. Selain tidak harus ngantri karena lewat pintu masuk khusus untuk pers kami juga disambut oleh humas O2 World (lupa namanya) yang ditemani oleh asistennya yang seksi Tiana Robinson (kalo ini inget namanya…:p). Kami diajak keliling ruangan press room. Kayak di Indonesia, ada banyak wartawan lagi nongkrong di situ. Ruangan itu juga dilengkapi dengan w-lan. So, tinggal bawa laptop trus surfing deh. Di ruangan itu juga komplit dilengkapi makanan dan aneka minuman ringan. ”Kalau mau makan dan minum silakan ambil di sini. Gak usah malu-malu,” kata Pak Humas yang saya lupa namanya itu. Mulanya kami malu-malu, tapi karena lapar lalu jadi malu-maluin.

Gedung ini besar sekali. Kami dapat tempat duduk di tribun wartawan di lantai empat. Di setiap lantai ada toko makanan. Suanana malam itu terasa riuh. Musik berdentum dengan sangat keras dari dalam arena pertandingan. Wah, beat musik yang ingar bingar meletupkan semangat dalam hati saya. Hampir semua bangku terisi. Ratusan supporter berkumpul di salah satu sisi di tribun paling bawah. Sebagian dari mereka membawa drum yang terus ditabuh bertalu-talu.

Ada atmosfir magis saat para supporter berteriak dalam irama, bernyanyi, membuat gerakan. Mereka sangat kompak. Mereka punya sejumlah seruan khusus yang ketika dilakukan bersama-sama membuat hati gembira. Ketika Tim Eisbaren berhasil menggetarkan jala lawan mereka punya seruan khusus. Ketika Tim Adler melakukan serangan mereka menggoda dengan suitan kencang. Mereka jadi pemandu sorak bagi ribuan penonton yang menyaksikan pertandingan malam itu. Bagian ini yang membuat suasana malam itu terasa hidup. Hati ini jadi ikut gembira.

Pertandingan hockey berlangsung 3×20 menit. Eisbaren Berlin membekuk tamunya 7-2. Pertandingan hockeynya seru, tapi sorak sorai penonton jauh lebih seru. Hampir tengah malam saya tiba di rumah..dan gerimis malam itu tidak lagi terasa dingin.

Film laris Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza mengundang isak tangis di CineStar Cubix Alexanderplatz, Berlin, Sabtu (14/2). Tidak hanya orang Indonesia di Berlin, sejumlah orang “bule” pun ikut tersentuh dan menitikkan air mata.

Laskar Pelangi, yang dialihbahasakan menjadi The Rainbow Troops, lolos seleksi dan tampil pada Festival Film International Berlin ke-59 atau Berlinale 2009. Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini diputar di sejumlah gedung bioskop di Berlin, Jerman.

Selain Laskar Pelangi, empat film Indonesia lainnya yang juga lolos masuk Berlinale 2009 adalah At Stake (Nia Dinata), yang bersama Laskar Pelangi bertarung di kategori Panorama (Audience Award), Generasi Biru (Garin Nugroho) di kategori film dokumenter, dan Trip to the Wound (Edwin) dan Musfir (BW Purba Negara) untuk kategori film pendek.

Udara musim dingin di Berlin tidak menyurutkan minat para penikmat film di kota ini. Departemen Luar Negeri di Jakarta, pekan ini mengungkapkan, perhatian masyarakat Jerman terhadap film-film Indonesia cukup menggembirakan, ditandai dengan tiket film-film Indonesia terjual habis tiga hari menjelang pemutaran dan masih banyak peminat film-film Indonesia yang tidak berkesempatan menonton.

Tidak hanya itu, menurut pernyataan tersebut, penyelenggara juga memberi perhatian khusus kepada film Indonesia, dengan memasang gambar Laskar Pelangi dan At Stake dalam sampul buku program Berlinale 2009, mewakili film-film Asia.

Warga Berlin memang penikmat film. Tempat-tempat penjualan tiket Berlinale selalu diwarnai antrean. Pemutaran film Laskar Pelangi pun mengundang antusiasme mereka. Warga negara Indonesia di Jerman yang selama ini hanya mendengar tentang fenomena cerita karya Andrea Hirata di Indonesia seperti mendapat berkah bisa menyaksikan Laskar Pelangi di Berlin. Mereka berduyun-duyun datang dari berbagai kota di Jerman seperti dari Hamburg, Dresden, dan Hanover.

“Saya selama ini cuma dengar-dengar aja sih soal Laskar Pelangi. Kayaknya heboh banget ya di Indonesia. Makanya, seneng banget film ini bisa tampil di Berlinale,” kata Ari, mahasiswa Fachhochschule fur Technik un Wirtschaft, Berlin. Ia sudah dua tahun tinggal di Berlin.

Teater 9 di gedung bioskop itu dipenuhi pengunjung baik warga negara Indonesia maupun masyarakat Berlin dan hanya menyisakan satu deret bangku kosong di bagian paling depan. Tidak ada satu orangpun beranjak dari tempat duduknya selama dua setengah jam film diputar.

Sejumlah adegan mampu membuat tawa pengunjung. Misalnya, saat Ikal jatuh cinta melihat buku-buku jari Aling di Toko Kelontong Sinar Harapan atau ketika Mahar sedang sibuk mencari ilham untuk festival dan bertingkah aneh di mata teman-temannya.

Separuh film berjalan, di antara tawa pengunjung, suara isakan mulai terdengar di sana-sini. “Aduh, ini film lucu tapi kok bikin sedih juga ya,” kata Mulianakusumah setengah berbisik di tengah pertunjukan. Ia tampak mengusap matanya. Mulianakusumah baru empat bulan tinggal di Jerman. Di Indonesia ia belum sempat menonton film ini.

Farah Marina, mahasiswi Fachhochschule fur Technik un Wirtschaft, Berlin, yang hampir tiga tahun tinggal di Berlin, mengaku ia juga sempat menitikkan air mata, terutama ketika adegan Lintang berhenti sekolah dan pamitan kepada teman-temannya. “Bukan cuma aku aja lho yang nangis, orang Jerman di sebelahku juga nangis kok. Filmnya bagus banget,” kata dia.

Sophie, salah seorang warga Berlin yang menonton Laskar Pelangi juga mengaku tersentuh. “Saya kagum dengan perjuangan anak-anak Laskar Pelangi, kagum dengan semangat mereka, dan itu semua sangat menyentuh,” ujarnya.

Ada yang menarik perhatian saya di loker apartemen ini. Ada tiga nama Indonesia tertera di sana. E Wulandari, Mulianakusumah, R. Soesman. Saya cuma membatin, ah pasti menyenangkan kalau bisa ketemu sama mereka. Orang-orang ini pasti kuliah di sini, pikir saya. Mereka tentunya tahu betul segala seluk beluk tinggal di kota ini. Tapi, gimana caranya ketemu mereka?

Apartemen ini terdiri dari empat lantai. Kalau saya tidak salah hitung, ada 72 kamar di apartemen ini. Namun, saya tidak tahu apakah semua kamar terisi. Beberapa nama Jerman tampak tertera di beberapa kamar apartemen. Tapi, kami tidak pernah melihat semua penghuninya.

Saya beberapa kali bertemu dengan beberapa orang Jerman penghuni apartemen ini saat hendak berangkat sekolah. Tapi ya sekadar melihat mereka pergi aja. Apartemen ini benar-benar fungsional sebagai tempat tinggal, bukan tempat bersosialisasi.

Pertama kali masuk ke sini rasanya gedung ini tidak berpenghuni. Gedung ini lorong-lorongnya selalu gelap. Kalau masuk apartemen silakan nyalakan lampu lorong yang nanti akan mati sendiri secara otomatis setelah beberapa menit. Masuk kamar, kunci pintu, urus dirimu sendiri. Selesai.

Saya tidak pernah mendengar ada suara orang berbicara kecuali suara teman-teman satu sekolah yang tinggal di sini. Apartemen ini sunyi. Sepi. Jadi gimana caranya ketemu orang-orang Indonesia itu?

Semesta selalu punya caranya sendiri bekerja mengatur peristiwa demi peristiwa hidup manusia. Itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Hampir pukul 6 sore dan langit sudah gelap saat saya dan beberapa teman tiba di Stasiun Hermanstrasse usai muter-muter di pusat kota Berlin. Kami berlari-lari kecil menuju halte bus karena bus jurusan ke apartemen kami sudah menunggu di sana.

Di bangku belakang bus saya melihat seorang lelaki bertampang sangat Indonesia. Ada dorongan gaib yang menuntun saya memilih duduk di bangku sebelah orang itu. Kami beradu pandang, tapi tidak berucap sepatah kata. Saya ingin menyapa tapi khawatir lelaki ini oang Malaysia. Itu yang terjadi saat di pesawat dalam penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Saya pikir bapak yang duduk di sebelah saya orang Indonesia, ternyata orang Malaysia.

Tapi, saya begitu penasaran dan memberanikan diri buka suara.

”Exuse me, are you from Indonesia?”

“Hahahaha…betul sekali!” lelaki itu spontan tertawa. ”Saya dari tadi dah mikir ini mukanya Indonesia banget, tapi gak berani menyapa karena takutnya dari Filipina.”

Ebusyet, muka saya yang sangat jawir ini dibilang mirip orang Filipina. Pedagang kebab orang Irak di Hermanplatz malam kemarin bilang muka saya arab sekali. Mirip orang dari Basra, Irak, katanya. Busyet dah!!!

Ahmad Irsan, demikian nama teman Indonesia di bus itu. Ia pegawai Departemen Keuangan yang juga sedang mengikuti training dari lembaga pemberi training yang sama dengan saya. Irsan mengikuti traning itu bersama tiga orang Indonesia lainnya yaitu Hena Mulianakusumah. Rony Soesman dan Eva Wulandari yang tinggalnya satu apartemen dengan saya. Hena dan Rony ada di bus yang sama hanya belainan kursi. Sementara, Eva sedang tidak bersama mereka sore itu. Irsan sendiri tinggal di apartemen sebelah.

Irsan dkk mengikuti program traning selama satu tahun. Mereka datang ke Jerman sejak Oktober dan tinggal berpindah-pindah. Sebelumnya mereka tinggal di Munich. Ngobrol sana-sini, Si Irsan ini ternyata rumahnya di Pondok Kopi, cuma sekitar empat kilometer dari rumah orangtua saya di Buaran. Bolehlah dibilang kami bertetangga, tapi gak pernah ketemu di Jakarta, ketemunya di Berlin…Alamakjan!!!

Kenapa orang Eropa postur badannya besar-besar? Karena makannya banyak. Atau premisnya terbalik, kenapa orang Eropa makannya banyak? Karena anatomi tubuhnya besar-besar. Gak tau deh mana yang benar. Yang pasti porsi makanan di sini besar banget.

Di Berlin Doner Kebab sama populernya dengan Warteg di Jakarta. Kebab adalah makanan timur tengah yang dibawa imigran Turki ke sini. Pada era perang dingin ketika Jerman terbelah dalam blog timur dan barat, ribuan orang Turki berbondong-bondong datang ke Jerman Barat. Kala itu Jerman Barat kekurangan tenaga kerja. Saat ini populasi orang Turki di Berlin sekitar 120 ribu dari 3,5 juta populasi warga kota Berlin atau sekitar 2,9 persen.

Kedatangan mereka ke negeri ini tentu saja dengan membawa berbagai kebiasaan hidup, diantaranya Kebab. Kebab adalah sejenis hamburger ala timur tengah. Dua lapis roti dengan aneka isi di tengahnya. Kebab lazimnya berisi irisan tipis daging ayam atau domba dan aneka sayuran.

Nah, Kebab ini adalah salah satu “penjajahan” kuliner Turki atas Berlin. Ada joke, Anda lebih mudah menemukan warung kebab di Berlin ketimbang warung yang menyediakan makanan tradisional Jerman.

Porsi kebab di sini buesar sekali. Saya gak tahu apakah porsi satu kebab di negeri asalnya sama besarnya dengan kebab di sini. Namun, saya juga menemukan warung makan Thailand menyajikan porsi makanan yang juga besar sekali. Lain waktu, saya juga makan siang di warung makan yang menyediakan menu makanan khas Jerman, sosis dan kentang yang ditumbuk halus seperti bubur. Porsinya sama besarnya.

Untuk saya, setiap porsi makanan di sini membuat perut saya begah. Saya lebih senang membawa makanan pulang karena bisa saya bagi dua untuk makan berikutnya. Kalau Anda makan tiga kali sehari dengan porsi orang Jerman, percayalah, Anda bisa boker lebih dari tiga kali sehari. I did it!

Sewaktu tiba di Bandara Tegel, Berlin, saya bingung gimana caranya ngambil troli. Troli-troli itu terkunci. Gimana cara ngelepasnya? Gengsi dan malu bertanya.….:) Beberapa hari kemudian barulah saya tahu bagaimana caranya melepas troli.

Kami belanja ke supermarket dan troli di sana sama persis dengan di bandara. Anda harus memasukkan koin 1 Euro ke dalam lubang grendel troli itu. Dengan kata lain, Anda harus deposit untuk menggunakan troli. Setelah selesai kembalikan troli pada tempatnya, grendel kembali troli dan 1 Euro anda akan keluar dari lubang grendel. Sangat efisien.

Untuk urusan troli pun sistemnya dirancang sedemikian rupa agar masing-masing orang bertanggungjawab terhadap troli yang digunakannya. Anda gak bisa meninggalkan troli di sembarang tempat. Silakan saja kalau Anda rela kehilangan 1 Euro. Dengan sistem ini tidak dibutuhkan troli boy.

Di Carrefour atau Giant di Indonesia ada petugas khusus yang mengumpulkan troli yang berceceran di mana-mana. Berapa cost yang harus dikeluarkan untuk menggaji sekian troli boy? Tapi, kalau sistem ini diterapkan di tanah air berarti Indonesia akan kehilangan satu lapangan pekerjaan…

Selain troli, di sini Anda juga harus bertanggungjawab terhadap belanjaan Anda sendiri. Di supermarket kantong plastik tidak gratis, kecuali di sejumlah toko kecil. Kalau Anda belanja di supermarket yang cukup besar Anda harus mengurus sendiri belanjaan Anda. Kasir cuma menghitung berapa harga belanjaan.

Tidak ada kantong plastik. Kalau Anda butuh kantong plastik ambil sendiri dan bayar di kasir lalu masukkan sendiri belanjaan Anda ke dalamnya. Yang paling baik bawa sendiri kantong belanjaan dari rumah, apakah tas dari kain atau kantong plastik besar yang Anda punya.

Untuk urusan plastik pemerintah di negeri ini punya komitmen konkret mengurangi polusi di perut bumi. Tidak cuma urusan kantong plastik, botol plastik pun diatur sedemikian rupa agar peredarannya bisa dikendalikan. Setiap minuman dalam botol plastik harga botolnya juga terhitung dalam harga minuman itu.

Setelah minuman habis, kalau Anda gak butuh botol itu, Anda bisa kembalikan ke kasir dan Anda dapat kembalian sekian sen. Jadi, kasir atau pemilik toko di sini juga sekalian jadi lapak botol plastik. Pemulung Indonesia bakal kehilangan mata pencarian di sini…

Di Berlin sebagian besar orang tinggal di apartemen. Mungkin cuma orang kaya yang punya rumah. Guesthouse kami pun sebuah apartemen di Selatan Berlin, sekitar 30 menit perjalanan menuju pusat kota (tanpa macet dan tanpa nunggu lama bis atau kereta).

Masing-masing dari kami menempati satu apartemen single, kira-kira 40 meter persegi luasnya. Di dalam apartemen dah tersedia komplit segala kebutuhan. Kamar mandi, tv, dan dapur kecil, lengkap dengan kompor, perlengkapan masak, piring gelas dan kawan-kawannya.

Pagi-pagi sekali bel kamar saya berdering. Joseph -kawan saya dari Uganda- berdiri di depan pintu dengan celana pendek.

”Hi Johanes, kamu punya setrika?” tanya Joseph
“Ada,” jawab saya.
“Pinjem donk!”
“OK.”

Gak sampe satu menit bel kamar saya kembali berdering. Si Joseph lagi di depan pintu. Setrika saya masih dipegangnya.

“Johanes, kamu masih simpen nomer pengelola apartemen?”
”Masih.”
“Liat donk,” Joseph masuk ke kamar saya.
“Johanes, tolong pinjem telepon kamu juga ya. Kunci saya ketinggalan di dalam,” wajah kawan dari Afrika ini tampak begitu cemas.

Hati-hati dengan kunci kamar. Jangan sekali-kali menutup pintu sementara kunci masih di dalam. Dari luar, pintu di apartemen ini hanya bisa dibuka dengan kunci. Jadi kalau kunci ketinggalan di dalam ya gak bisa masuk.

”Waduh apes banget sih gw,” Joseph menepuk jidatnya usai menelepon pengelola apartemen.
”Sorry Joseph, kali ini gw gak bisa bantu apa-apa,” saya mencoba bersimpati.
”It’s Ok Brother. It’s my fault,” Joseph mencoba tersenyum.
“Eh, ini setrikaannya. Gw gak jadi pinjem deh.”

Saya lalu bergegas mandi. Waktunya berangkat sekolah.

Waktu mau keluar apartemen saya bertemu Ririn di tangga.

”Mas, gile juga tuh Joseph. Pagi-pagi jogging,” ujar Ririn.
“Hah, jogging?!!!” tanya saya dengan penuh heran. Sedingin gini keluar apartemen jogging??!!
“Iya, gw ngeliat dia lari-lari di jalan. Kan kamar gw ngadep jalan,” tegas Ririn.

Di lantai bawah di depan pintu apartemen kami melihat Joseph di luar apartemen. Lelaki bergigi tanggal itu berlari-lari kecil. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan dada. Pintu dan dinding bawah apartemen ini dari kaca. Jadi kami bisa melihat keluar.

”Joseph, ngapain lo di luar? Gak kedinginan?!” tanya saya dengan sangat heran sambil membuka pintu.
”Ah, Johaneessss….terima kasih,” Joseph segera masuk ke dalam apartemen.
“Saya cemas sekali karena kunci saya ketinggalan di dalam kamar. Jadi saya keluar menunggu pengelola apartemen. Saya lupa kalau saya gak punya kunci jadi gak bisa masuk lagi. Ya udah saya jogging aja…dingin eeeuuuyyy,” jelas Joseph.

Pintu masuk apartemen juga sama sitemnya, bisa dibuka dari dalam tanpa kunci, tapi dari luar harus menggunakan kunci. Pagi itu dingin sekali. Baju saya lapis tiga plus jaket kulit. Meski memakai sarung tangan kulit yang dalamnya berbulu tangan saya tetap merasa kedinginan. Ini Si Joseph cuma pakai celana pendek dan kaosan. Gak heran, dia memang harus jogging selama “tersandera” di luar.

Pagi pertama di kota Berlin. Saya belum bisa bersahabat dengan musim dingin. CNN melaporkan suhu udara kota ini 1 derajat celsius. Rasanya saya bisa memahami kenapa jalan-jalan di kota ini terlihat sepi. Orang Jerman aja males keluar rumah, apalagi saya yang orang tropis dan baru kali pertama merasakan dingin seperti ini.

Pagi itu saya menunggu bis di halte yang jaraknya hanya 50 meter dari apartemen saya di Buckower Damm. Aktivitas di seberang jalan menarik perhatian saya. Sebuah truk tertutup berhenti di sana. Sopirnya turun dan menarik tuas yang terletak di sisi belakang truk. Pintu belakang truk membuka keluar, sisi atasnya turun ke bawah dan membentuk bidang datar. Kita bisa berdiri di atasnya.

Sopir itu kembali memainkan tuas dan bidang datar itu turun hingga menyentuh aspal jalan. Si sopir kemudian berjalan ke arah bak sampah besar beroda yang terletak di pinggir jalan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat truk berhenti. Ia mendorong bak sampah itu ke atas bidang datar yang notabene adalah pintu belakang truk. Tuas kembali di mainkan, bidang datar itu naik hingga sejajar dengan dasar truk. Ia melompat atas bidang datar dan mendorong bak sampah masuk ke dalam truk. Setelah itu ia turun lagi, memainkan tuas, dan pintu truk tertutup.

Sangat mengesankan. Petugas sampah di negeri ini bekerja sendiri. Di kompleks perumahan saya di Bekasi, saya melihat setidaknya ada empat orang petugas sampah dalam satu truk yang sangat bau. Satu orang sopir dan tiga orang lainnya keliling dengan keranjang rotan memunguti sampah di setiap bak sampah depan rumah. Sampahnya berceceran di jalan. Sangat tidak efisien. Tetap kotor. Bau pula.

Di sini sampah terkelola dengan baik. Selalu ada lima kotak sampah dengan empat atau lima warna di tempat penampungan sampah di sisi apartemen atau di pinggir jalan. Tiap warna memiliki arti. Bak sampah berwarna jingga untuk sampah-sampah organik yang bisa didaur ulang; biru untuk sampah kertas; kuning untuk sampah plastik; dan hijau untuk gelas. Nah, kalau bingung sampahmu masuk kategori mana ada warna khusus untuk mereka yang bingung, hitam.

Tapi di Indonesia, repot juga kalo semuanya serba efisien. Lha, trus pada kerja apa nanti orang-orang di tanah air…:p

Apa yang Anda bayangkan tentang Berlin? Kota tua yang cantik. Sebagian sejarah penting dunia dikendalikan dari kota ini. Karl Max lahir di sini dan gagasannya tentang tatanan masyarakat baru tanpa kelas mengubah wajah peradaban pada awal abad ke 19.

Adolf Hittler juga tinggal di sini. Ia memegang kendali pasukan jerman dalam Perang Dunia II. Pembantaian 6 juta orang Yahudi pun terjadi di kota ini. Berlin adalah kota sejarah. Dan catatan-catatan masa lalu itu diabadikan di kota ini. Ada 170 museum yang bisa mengantar kita kembali ke waktu lampau.

Kami tiba di Berlin sekitar pukul 9.30 waktu setempat. Kami bertemu dengan sejumlah teman yang juga datang pada waktu yang bersamaan. Tamara Almeyda, dari InWent –lembaga penyelenggara training-, menyambut kami dengan senyum. Tamara adalah satu-satunya orang yang saya lihat tersenyum di pagi yang beku itu.

Ini musim dingin. Wajah orang-orang di sini pun dingin. Tidak banyak orang bercakap –cakap. Bandara hiruk pikuk, tapi hanya ramai oleh suara derap kaki. Di luar butiran salju jatuh seperti gerimis. Bulir-bulir putih itu seperti es serut, tapi ia memiliki pola serupa ranting kecil. Ia jatuh di tangan dan luluh menjadi air. Splaasshh…angin dingin menampar wajah saya seperti lecutan cemeti. Selamat datang di Berlin.

Sebuah minibus kecil mengantar kami menuju apartemen. Supirnya orang jerman berbadan besar yang tidak bisa berbahasa Inggris. Wajahnya beku. Ia mengangkat semua kopor kami ke dalam mobil tanpa sepatah sapa.

Menyusuri jalan menuju apartemen tempat tinggal kami, saya merasa kota ini pun tidak memberikan senyumnya. Awan kelabu menggantung di langit. Pohon-pohon meranggas tanpa daun. Jalanan sepi.Gedung-gedung tua nan besar berdiri kokoh sepanjang jalan. Kota ini sungguh kelabu.

“Kota Berlin jauh dari menyenangkan di musim dingin,” Zohaib Zafar, kawan dari Pakistan memecah keheningan di dalam mobil.
”Kalau Anda datang pada musim semi atau panas Anda akan merasa lebih hidup di kota ini. Banyak orang di jalan. Pohon-pohon berbunga. Sudut-sudut kota terasa lebih hangat. Anda pasti akan menyukai Berlin,” jelas dia lagi. Zohaib cukup memahami Berlin, sebab ini kunjungan keduanya ke Jerman. Pada kunjungan sebelumnya ia datang di musim panas.

Ah, seketika saya teringat senyum Tamara. Senyum memang memberi kehangatan. Dan, kota ini tidak sedang tersenyum menyambut kami.