You are currently browsing the category archive for the ‘solilokui’ category.

Minggu lalu, lewat tengah malam dua buah imel masuk ke inbox saya. Salah satu imel isinya begini:

Dear Johanes Heru,

The selection procedure for the Multimedia programme is now finished. We are pleased to inform you that you have been accepted to attend our course on ”Multimedia and online journalism” taking place in Berlin from February 02 to April 03, 2009.

Hahahahaha…seperti orang gila saya tertawa sendiri malam itu. Imel ini memang saya nanti-nantikan dengan hati berdebar. Otak saya perlu diupdate. Sudah terlalu lama otak ini membeku oleh rutinitas. Tak ada pula waktu luang barang sedikit untuk sekadar memuaskan diri dengan aneka buku yang sangat ingin saya baca.

So, guys, next year i will go to Berlin. My wife said, every night she found me sleeping with a smile on my face….:)

Iklan

Suatu siang, hampir setahun yang lalu

Mbonk : Selamat siang Romo…

Von Magnis : Siang…

Mbonk : Saya Mbonk, Romo, mantan murid Romo…bla…bla…(intinya minta recomendation letter for scholarship)

Von Magnis : Ok. Tidak soal. Tolong kamu bikin data identitas diri kamu terdiri dari Nama lengkap, tempat tanggal lahir, aktivitas selama di kampus, dan IPK. Juga foto kamu, supaya saya bisa ingat-ingat dirimu. Taruh saja di kotak saya.

Mbonk : Baik Romo, terima kasih banyak

Kotak saya. Ada yang unik dalam cara berkomunikasi antara mahasiswa dan para dosen di kampus saya. Jadi, pada setiap pintu ruang dosen menempelah sebuah kotak terbuka dari kayu. Segala bentuk komunikasi dilakukan melalui kotak itu. Surat, skripsi, daftar nilai, dan aneka tetek bengek urusan keluar masuk di kotak kayu itu.

Komunikasi tradisional itu masih dilestarikan hingga sekarang di zaman internet yang telah meluluhlantakkan batas ruang dan waktu.

Senin

Hari menjelang sore ketika saya kembali menginjakkan kaki di almamater tercinta. Bentuk kampus saya sudah berubah sejak saya tinggal hampir 10 tahun yang lalu. Ruangan-ruangan dosen juga sudah berpindah tempat.

“Ruangan Romo Magnis di mana ya Mbak?” tanya saya pada Mbak Nunuk, pegawai sekretariat.
“Ada perlu apa?”
“Mau menaruh surat. Saya janji menaruh surat ini di kotak Romo Magnis.”
“Sini, titip saya aja.”

Surat permohonan berpindah tangan. Dalam surat saya sebutkan bahwa saya akan datang ke kampus setiap hari Rabu hingga Jumat untuk mengecek kotak surat Romo. Saya pun bergegas pulang.


Selasa

Saya mendapat informasi Romo Magnis menjadi pembicara di sebuah hotel di Jakarta. Saya pun segera meluncur. Niat hati ingin setor muka dan menanyakan ke Romo apakah surat saya sudah dibacanya.

Hanya terpaut 10 menit, Romo sudah pergi meninggalkan hotel. Saya kecele. Ia memajukan jadwalnya sebagai pembicara dan bergegas pulang setelah itu karena harus menyiapkan diri untuk suatu urusan ke luar negeri.

Saya telepon kampus, khawatir Romo akan pergi dalam waktu yang lama. Saya terdesak tenggat waktu untuk segera menyerahkan seluruh berkas administratif ke pihak kedutaan negara sahabat.

Suara di seberang menginformasikan Romo pergi ke luar negeri sampai tanggal 9 November. Ah, masih aman. Masih ada waktu.

Rabu

Saya agak malas datang ke kampus untuk mengecek kotak surat di pintu Romo. Pikir saya, surat permohonan baru saya sampaikan hari Senin. Pastilah ia sibuk. Apalagi ia ada urusan ke luar negeri. Paling surat rekomendasi baru akan dibuatkan minggu depan.

Tapi toh saya pergi juga ke kampus, hanya untuk menepati janji moral karena saya telanjur mengatakan akan mengecek kotak surat setiap hari Rabu hingga Jumat.

“Romo Magnis ke luar negeri. Paling minggu depan baru jadi suratnya,” kata Mas Rumadi, petugas keamanan kampus. Senin kemarin kami sempat ngobrol dan saya ceritakan maksud kedatangan saya ke kampus.

“Iya Mas. Ngecek ajalah, siapa tahu dah jadi,” jawab saya.

Saya sempat kesasar naik ke lantai dua. Ternyata ruangan Romo di lantai satu di gedung baru di belakang kampus. Sudah banyak yang berubah di kampus ini. Kampus boleh berubah, ruangan-ruangan boleh berpindah tempat, tapi kotak-kotak kayu masih ada menempel di setiap pintu ruang dosen lengkap dengan klip di pinggirnya. Ruangan Romo Magnis terletak paling ujung di gedung pascasarjana. Entah kenapa lampu di di dalam gedung tidak dinyalakan sehingga koridor gelap.

Saya meraba-raba kotak kayu tanpa berharap menemukan surat untuk saya. Ada dua amplop. Satu amplop berwarna coklat ditujukan untuk Romo Magnis. Satu amplop lagi berwarna putih dengan tulisan tangan sulit terbaca di mukanya. Saya mencari-cari cahaya untuk membaca tulisan tangan itu.

Ajegile! Tulisan tangan itu adalah nama saya. Seketika dada saya berdebar. Bergegas saya keluar gedung mencari cahaya terang.

LETTER OF RECOMMENDATION
TO WHOM IT MAY CONCERN

……….He is a person of human and political interest, open minded and was, active in the anti-Soeharto student movement……

Romo Magnis wrote the letter by himself. Sejumlah orang yang saya mintai rekomendasi meminta saya untuk mengarangkan buat mereka. Tapi Von Magnis tidak. Tanpa telepon, tanpa imel, hanya kotak kayu, dan surat itu kini sudah ada di tangan saya. Pastur Jerman yang luar biasa!

Suatu hari Eyang Is, (neneknya isteriku), berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebetulan Fajar, sepupuku, juga sedang main ke rumah. Ia membawa pacarnya, Intan. Saat ngobrol-ngobrol, Fajar baru ngeh kalau Eyang Is tinggal di Semarang. Dia pun langsung nyeletuk sambil menunjuk Intan.

“Ini juga orang Semarang, Yang.”
“Semarangnya mana?” tanya Eyang.
“Erlangga, Yang.”
“Lho, kamu anaknya siapa?” Eyang terlihat surprise. Matanya membelalak.
“Saya cucunya, Eyang Tjip.”
“Ya ampuuunnn…kamu cucunya Pak Tjip toh!” Eyang geleng-geleng kepala.
“Lho, Eyang kenal Eyang Tjip?” Intan terlihat heran.
“Ya kenal. Rumah Eyang dulu di Erlangga, tapi sekarang sudah dijual. Eyang tinggal lama sekali di sana. Salam ya buat Pak Tjip. Bilang dari Eyang Ismail.”

Mas Gatot, suami kakak iparku ikut nimbrung.

“Aku dulu suka cari ikan di selokan depan rumah Eyangmu. Eyang putrimu galak kan?”
“Iya,” Intan cengar-cengir.

Dunia sempit sekali. Mas Gatot juga warga Erlangga. Aku terkenang peristiwa kecil ini saat baca tulisan Pak Tjip di Kompas. Tulisan bagus tentang mudik.

___________________

Indonesia Mudik

Satjipto Rahardjo

Mudik adalah tema yang tepat untuk menggambarkan hiruk pikuk Idul Fitri saat ini. Orang berebut tiket bus, kereta api, dan pesawat untuk kembali ke kampung halaman dan dilakukan dengan ”mati-matian”.

Magnet kampung halaman amat kuat sehingga sering mengabaikan akal sehat. Mangan ora mangan, anggere kumpul (biar tidak makan yang penting kumpul ngariyung).

Mudik mencari fitrah

Kampung halaman bagai magnet besar karena tidak sekadar kembali ke rumah, tetapi ke suasana mistis yang mengelilingi rumah atau kampung halaman. Di situ ada pemuasan kerinduan kepada masa lalu yang penuh tawa dan polos, sebuah daya tarik yang tak dapat dijelaskan dengan akal. Kampung menjadi simbol otentisitas kehidupan. Mudik adalah simbol pergerakan ”dari- masyarakat-ke-komunitas”. Jakarta itu masyarakat, tetapi Kebumen, Sragen, Tuban, Grobogan, dan Trenggalek adalah komunitas yang dirasakan lebih otentik, lebih kental daripada masyarakat.

Mudik Lebaran tahun ini sebaiknya menjadi inspirasi bagi bangsa tentang perlunya menemukan otentisitas kehidupannya. Banyak tanggal pada tahun 2008 berbicara tentang mudik atau kembali ke kampung. Kita mudik ke tahun 1908 saat organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan. Mudik ke tahun 1928 saat ”Sumpah Pemuda” (SP) dikumadangkan. Kembali ke BO dan SP untuk menemukan, mencium, dan menghirup kembali aroma berbangsa yang otentik dan segar. Kita ingin mudik karena banyak hal otentik yang sudah hilang dari kehidupan berbangsa. Kita ingin kembali ke ”sangkan paraning (asal muasal) Indonesia”.

Semua hari itu memalingkan hati ke belakang. Jika para Tofflerian (dari futurolog Alvin Toffler) berbicara tentang ”guncangan masa depan”, kita ingin mundur ke belakang karena kekuatan ”magnet masa lalu” itu.

Bangsa kita memiliki banyak kearifan dan filsafat lokal untuk mengekspresikan suasana mistis, seperti sangkan paraning dumadi (dari mana dan ke mana kehidupan manusia). Almarhum Prof Soemantri Hardjoprakoso, ahli ”psikiatri Jawa” dan seorang Jungian (dari Carl Gustav Jung), menggunakan kata oergreest, Suksma Kawekas, jiwa dan zat yang menjadi asal segalanya.

Mudik itu mencari fitrah, keaslian, sesudah kesasar dalam hidup. Dalam sindrom mudik, berdesak-desakan konsepsi yang berputar di sekitar otensitas atau keaslian itu. Saat manusia terlempar ke dunia dengan centang-perenangnya, mereka juga kehilangan kompas kehidupan. Maka, orang memburu kompas yang sudah hilang. Jung mengatakan, sesudah muncul ”kesadaran individual” dengan berbagai akibat yang menderitakan, orang merindukan ”kesadaran kolektif”, ke suasana damai.

Fitrah manusia

Indonesia menghadapi aneka krisis. Kita bingung, mau ke mana dan apa yang salah? Pada saat seperti itu, fenomena mudik menjadi sumber inspirasi.

Puasa sebulan menjadi momentum untuk tafakur atau berkontemplasi. Ujung tafakur membawa kita kembali kepada sangkan paraning dumadi/urip. Diterjemahkan secara lain, kita ingin hidup fitri, jujur, dan beramanah. Bagi manusia yang hidup dalam ”comberan dunia”, sangkan paran itu menjadi suatu oase penuh keindahan, kejujuran, dan kesalehan di tengah ”zaman edan” yang penuh kepalsuan dan keserakahan. Filsafat urip mung mampir ngombe (hidup hanya singgah untuk minum) sudah dirobek menjadi hidup untuk makan minum sekenyangnya dan menimbun kekayaan sebanyak mungkin dengan segala cara.

Kontemplasi yang jujur membawa kita kepada pengakuan, banyak orang Indonesia tidak hidup dan bekerja secara otentik dan beramanah. Mengapa harus korupsi jika hidup ini hanya sebentar? Mengapa harus menjadi kepala daerah jika otentisitas kita adalah ahli dalam menjahit atau bercocok tanam? Korupsi mengabaikan kejujuran dan keamanahan menjalankan pekerjaan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, dan kepala daerah dianggap lebih gemerlap daripada petani, guru, atau penjaga pintu kereta api. Akibatnya orang melecehkan pekerjaan guru, petani, penyapu jalan, dan lainnya. Pekerjaan asal dijalankan. Orang meninggalkan fitrahnya sebagai tukang jahit, petani, dan guru. Pekerjaan menjadi palsu.

Senyampang dalam suasana Idul Fitri, kita harus kembali kepada fitrah, otentisitas masing- masing. Kita bertindak otentik dan beramanah dalam pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sekecil apa pun dijalankan dengan penuh martabat (dignity). Mari menjadikan Indonesia mudik dan kembali menjadi bangsa yang penuh otentisitas.

Satjipto Rahardjo Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Banyak orang bertanya kenapa Mbonk? Panjang ceritanya. Aku enggan. Tapi, banyak orang tidak percaya kalau ceritanya panjang. Mereka terus memaksaku untuk bercerita. Dan, selalu terjadi, belum selesai ceritaku mereka sudah tertidur dengan iler di mulutnya.

Maka, daripada aku terus bercerita dan terus ditinggal tidur, baiklah aku tuliskan di sini. Sehingga, kalau ada lagi yang bertanya, aku tinggal bilang, “Buka saja bloggku.” Kalau nanti mereka tertidur di depan komputer itu sudah bukan lagi urusanku.

Baiklah, mari kita mulai cerita ini dengan mesin pencari paling top di kolong langit: google. Ketiklah kata “Mbonk” di google. Anda akan mendapatkan dua laman di urutan pertama dan kedua adalah blog ini dan sebuah blog di multiply (abaikan laman di luar dua itu). Masing-masing beralamat “Mbonk”. Dua blog itu milik orang yang berbeda. Blog ini milik Johanes Heru “Mbonk” Margianto, sementara pemilik multiply adalah Fransiskus Xaverius Sigit “Mbonk” Eko Widyananto.

Nah, apakah ada hubungannya antara “Mbonk” pemilik blog ini dan “Mbonk” multiply? Ada. Bahkan sangat erat.

Begini ceritanya…..

“Mbonk Sigit” menghabiskan tiga tahun pendidikan SMA-nya di sebuah sekolah berasrama di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Di asrama itu ada tradisi mengganti nama asli dengan nama julukan. Setiap orang mendapat nama julukan. Entah kenapa, komunitas tidak rela kita mengenakan nama panggilan indah yang diberikan orangtua.

Biasanya nama julukan diberikan karena bentuk tubuh atau perilaku orang itu. Ada teman yang mendapat julukan “Capung” karena kacamatanya tebal sekali sehingga matanya mirip capung. Ada yang dipanggil “Wawut” (wajah semrawut) karena wajahnya memang betul-betul kacau balau. Ada lagi yang mendapat anugerah nama “Cimot” karena tampang dan gerak-geriknya dianggap mirip dengan Cimot adiknya Cuplis. Nah, Sigit pun mendapat kehormatan menyandang nama “Mbonk” di asrama itu. Sigit sudah menjelaskan di blognya tentang kenapa dia mendapat “gelar” “Mbonk”

Tahun 1991 Sigit lulus dan hengkang dari asrama itu. Sementara, jalan hidup menuntunku masuk ke sana. Belum sebulan menjadi warga asrama, suatu siang dua orang kakak kelas menghampiriku. Wajahnya serius. Mereka mengamati anatomi tubuhku seperti mengamati jaringan klorofil di bawah miskroskop. Tak lama wajah mereka berseri-seri. Mereka seperti mendapatkan apa yang mereka cari. Tampangku yang lugu dengan kacamata minus bertengger di atas hidung divonis oleh mereka mirip dengan tampang “Mbonk Sigit”.

Dua orang itu lantas berseru-seru keliling asrama layaknya Archimedes menemukan rumus menghitung volume air. “Reinkarnasi! Reinkarnasi! Reinkarnasi!” Asrama geger. Semua penghuni asrama menelanjangi diriku dengan tatapan matanya. Vonis itupun lantas diamini. Aku cuma bisa bingung enggak mengerti. Siapa itu “Mbonk” yang julukannya aku wariskan.

Aku sendiri tidak kenal dengan “Mbonk Sigit” sebelumnya. Karena ketika aku masuk dia lulus. Jadi aku tidak bisa mengklarifikasi apakah vonis itu benar atau tidak. Tapi, kalaupun Anda tidak setuju dengan pandangan komunitas Anda tidak mungkin sanggup menolaknya. (Beberapa tahun kemudian aku akhirnya bertemu juga dengan “Mbonk Sigit”. Kalau boleh aku membela diri, sungguh vonis itu jauh dari benar, sejauh barat dari timur.)

Begitulah kemudian, semua penghuni asrama memanggilku “Mbonk”. Janggal dan asing mulanya kudengar orang memanggilku dengan nama itu. Namun, lambat laun aku mulai terbiasa. Nama “Heru” perlahan namun pasti lenyap dan mulai dilupakan teman-teman. Kalau orangtuaku berkunjung ke asrama untuk menjenguk anaknya tercinta dan mereka bilang ingin bertemu “Heru” pasti akan dijawab,”Maaf Pak, Bu, di sini enggak ada yang namanya Heru.” Mereka tidak sedang mengerjai orangtuaku, tapi memang mereka sudah lupa dengan identitas itu.

Lulus SMA aku berniat menanggalkan nama panggilan ini. Aku berjuang keras jungkir balik untuk menghidupkan kembali nama lahirku. Tapi, nasib tidak berpihak. Selepas SMA aku satu kampus dengan sejumlah teman asrama yang sudah telanjur mengenalku sebagai “Mbonk”. Setengah mati aku berusaha memperkenalkan diriku kepada teman-teman baru sebagai “Heru”. Tapi, teman-teman asrama satu kampus selalu mengatakan pada semua orang, “Bohong, namanya bukan Heru, Mbonk!.” Nah lu. Pusing kan…

Cerita ini belum berakhir. Kutukan belum selesai. Bahkan ketika masuk kerja pun aku tetap tidak diizinkan oleh “Sang Pemilik Hidup” untuk mengenakan nama “Heru”, identitas yang diberikan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuaku. Jadi, waktu hari pertama aku masuk kerja dan memperkenalkan diri sebagai “Heru”, takdir kehidupan langsung menolaknya.

“Wah, ada dua Heru di kantor ini. Ya sudah, kamu Heru-B ya, yang satu lagi Heru-A karena dia karyawan lama di sini,” kata Mas Ninok bossku waktu itu.

Alamakjan! Gila apa Heru-B. Kayak spesies yang baru ditemukan ajah.
“Ya sudah Mas, panggil saja saya Mbonk,” kataku tanpa gairah.

Untuk e-mail kantor pun aku tidak bisa pake identitas “Heru” karena sudah dipakai si Heru-A. Terus identitas e-mail apa donk? Herumargianto? Halah panjang amat. Johanesheru? Panjang juga dodol! Johanesherumargianto? Mati ajah luh.

“mbonk@kompas.com,” kataku lirih pada Murfi si tukang IT sambil menahan pedih di hati.

Cilakanya, aku menemukan jodohku di kantor ini. Wanita yang menjadi isteriku itu lantas memperkenalkan diriku sebagai “Mbonk” kepada keluarga besarnya. Lengkaplah sudah duniaku.

Hei….belum tidur kan….

Akhirnya, aku menerima “Mbonk” sebagai takdirku. Setelah ditelusuri ternyata tidak melenceng dari sejarah hidupku. “Mbonk Sigit” dalam paparanya “Kenapa Mesti Mbonk?” memberi pencerahan. Menurutnya, dalam bahasa Jawa “Mbonk” itu artinya jalan. Aku boleh berlega hati karena makna nama asliku memang demikian.

Orangtuaku tidak sembarang memberi nama anaknya. Maknanya historis. Empiris. Aku lahir pagi-pagi buta. Hari masih gelap. Belum sampai rumah sakit aku sudah mbrojol di jalan. Bapakku panik. Melolonglah ia sekencang-kencangnya, ”Tolooooonnnngggg….. tolooooongggg….”

Orang-orang sekampung bangun. Gempar. Mereka pikir ada maling. Mereka keluar rumah membawa parang, pacul, linggis, dan aneka senjata tajam. Pagi itu kampung dilanda huru-hara. Anak lelaki lahir di jalan dikira ada maling. Kenangan akan hari itu lantas dibadikan menjadi namaku.

Karena orangtuaku Jawa disematkanlah “Margi” pada namaku yang artinya “Jalan”. Karena aku anak lelaki ditambahkanlah “Anto”. Huru-hara hari itu lantas dikekalkan sebagai “Heru”. Karena aku lahir bertepatan dengan perayaan Santo Johanes Maria Vianney, maka jadilah nama orang suci dari Desa Ars di Paris sono sebagai nama baptisku.

Jadilah namaku Johanes Heru Margianto. Artinya, anak lelaki yang lahir di jalan pada pagi-pagi buta dan membuat hura-hara. Ia dibaptis dengan nama Johanes Maria Vianney. Harapannya, semoga teladan kesederhanaan pastur suci dari Ars itu selalu menerangi jalan anak lelaki yang lahir di hari gelap ini.

Hei…hei….bangun…hapus dulu iler di mulutmu itu…Kan sudah kubilang cerita ini panjang….

bening. ya bening sekali. jernih. lepas dan jatuh ke bawah. sulit sekali mencari kebeningan hati belakangan ini. semua orang bicara dalam kekeruhan akalbudi dan mau menang sendiri. seandainya hari pagi bisa dipesan dan kejernihan ini bisa ditanam setiap hari aku mau pesan satu, ups…yang banyak untuk kubagi pada semua orang yang merindukan hati nurani.

Posted by Picasa

“Kami menolak langkah-langkah adopsi yang dilakukan terhadap anak-anak korban gempa tsunami Aceh. Kami khawatir adopsi merupakan kegiatan pemurtadan secara terselubung.”

Jelas dan terang kalimat itu saya dengar meluncur kata demi kata dari seorang tokoh agama terkemuka. Saya mencatatnya lengkap kata demi kata. Darah saya mendidih!

Lekat saya tatap lelaki tua yang mulutnya mengucapkan kata-kata itu. Ingin sekali saya menamparnya. Betul! Ingin sekali saya menamparnya. Lelaki itu seusia kakek saya dan saya ingin sekali menamparnya.

Di sebelahnya duduk seorang perempuan berkerudung. Ketika saya meminta perempuan itu untuk menuliskan namanya pada notes saya, Ia tulis besar-besar gelar di depan namanya: Prof. Dr. ….. Darah saya makin menggelegak. Saya ingin menampar kedua orang itu. Paduan usia tua dan intelektualitas tidak menjamin orang menjadi dewasa dan bijaksana.

Saya setuju agar tidak dulu dilakukan adopsi terhadap anak-anak itu. Pula, saya setuju agar seyogyianya adopsi dilakukan oleh mereka yang memiliki kultur dan tradisi yang sama. Tapi, kenapa pernyataan permurtadan itu harus sebutkan sebagai konsumsi publik? Sebuah prasangka yang mengendap dalam kekerdilan menyeruak saat semua orang bersatu atas nama kemanusiaan.

Kenapa kita sulit sekali memandang manusia hanya sebagai manusia. Kenapa kita selalu memandang manusia dari atributnya sebagai kelompok ini dan itu. Sepertinya, identitas kelompok itu adalah sesuatu yang paling hakiki mengatasi kemanusiaan kita. Tidakkah bencana ini telah menyatukan seluruh kemanusiaan kita?

Tidak ada orang bule, tidak ada orang melayu. Tidak ada orang hitam, tidak ada orang putih. Tidak ada agama itu dan tidak ada agama ini. Bencana itu tidak saja meluluhlantakkan sebuah kota tapi juga meluluhlantakan seluruh sekat yang selama ini ada, tidak cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Tidakkah kita telah menyatu dalam satu air mata, air mata kita sebagai manusia. Lukamu saudaraku, dukamu saudaraku, adalah luka dan dukaku; luka dan duka kita; luka dan duka manusia. Belum robohkah juga tembok prasangka yang kerdil itu?

Matamu berlumur darah
karena kau tidak memiliki biji mata
Mulutmu berbusa
karena hatimu adalah air liur serigala
Ada bau busuk dari luka-luka bernanah
yang akut pada langit-langit mulutmu

Kau pikir ada surga
dalam kepalamu yang pecah oleh prasangka
Sesungguhnya, bumi menjadi keji
karena neraka kau lahirkan sendiri
dari rahimmu yang nista.

Selamat Tahun Baru 2005.Tahun baru beriring duka dan airmata, beriring lolong tangis kematian. Aku diam dan menatap langit. Ada gemericik kembang api memecah sekali-sekali. Langit menjadi terang dan kemudian gelap lagi. Samar tapi tegas aku melihat bayangan sayap-sayap kabut melukis dinding malam yang gelap. Sepasang malaikat muncul dari ujung semesta dan menari membentuk garis bintang-bintang. Setetes basah mengalir membentuk sungai pada wajahku. Airmata menjadi anggur pesta dalam alunan kecapi surga.

Jarum-jarum waktu yang berputar pada selempeng bundar bernama jam adalah ilusi. Kematian adalah juga ilusi. Matahari tidak pernah terbenam. Pula, tidak pernah matahari terbit atau lahir. Tidak ada malam. Tidak ada siang. Kita tengah berenang-renang dalam kekinian yang abadi. Sekarang. Di sini. Kekinian yang abadi. Tuhan Maha Besar. Allahu Akbar. Allabare. Alleluia. Pujilah nama Tuhan. Masihkah ada tahun baru ketika kamu tidak lagi memiliki waktu?

Maaf teman-teman, sekian bulan saya tidak mengurus ruang kecil saya di jagad maya ini. Saya tengah sibuk mengurus kepulangan Ing. Dia pergi lama dan jauh sekali, sehingga ada banyak hal yang harus saya siapkan menjelang kepulangannya. O, iya, kalian juga boleh memanggilnya Iwed. Saya senang memanggilnya Iw-iw. Sekarang dia sudah ada di rumah, di sini, di samping saya. Saya memintanya untuk tidak pergi lagi. Dia berjanji pada saya untuk tidak kemana-mana lagi. “Aku sangat merindukanmu. Dan, aku tidak ingin pergi lagi,” katanya seraya memeluk saya.

Begitulah, akhirnya saya serahkan sinar bulan yang saya curikan untuknya di malam-malam yang saya lewati seorang diri. Lama, saya simpan sinar itu di saku saya. Sekarang sinar bulan itu disimpan di saku bajunya, persis di sebelah jantungnya. Saya senang melihat sinar bulan itu acapkali berpendar di matanya. Ada rasa hangat yang menjalar di nadi saya tiap kali saya memandang mata itu.

Ing, kucurikan untukmu
sinar bulan tadi malam
jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin segera membangun rumah di tepi telaga seperti sering ia bercerita. Saya pernah berjanji mendirikan rumah untuknya di sana. Juga saya pernah berjanji menanam bunga kembang sepatu di depan rumah itu.

Kami ingin menetap selamanya di rumah itu, menikmati semburat jingga pada setiap senja (selain hujan, saya mulai menikmati senja sekarang), membayangkan anak cucu kami tumbuh dan besar di sana. Tidak ada lagi kekosongan pada tiap senja yang jingga. Tidak cuma ada gelap pada langit malam. Tidak cuma ada dingin pada hujan yang jatuh di atas tanah.

Ing, ingin kubangun untukmu sebuah rumah
di tepi telaga seperti sering engkau bercerita

Juga ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan kita menikmati senja dari beranda rumah itu

Semalam, di atas motor, saya berbicara begini pada langit gelap. “Pak Narso, saya ingin bertemu Bapak. Jika Bapak berkenan, hadirlah dalam sebuah kesempatan yang membuat saya tidak takut.” Saya membayangkan angin menyampaikan niat hati saya.

Kemudian malamnya saya bermimpi. Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang memutih menghampiri saya yang tengah duduk sendiri di sebuah taman. Saya belum pernah bertemu dengan orang tua ini. Saya hanya pernah melihat fotonya yang di gantung pada dinding kamar.

Dalam mimpi saya, orang tua ini mengenakan pakaian seperti jubah berwarna putih. Airmukanya segar. Seulas senyum yang damai disunggingkan ketika dia mengambil duduk di sebelah saya. Tanpa berbasa-basi saya katakan kepadanya betapa saya sangat mencintai puteri bungsunya. Dia hanya mengangguk, tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak saya sebelum sosoknya lenyap serupa kabut. Ketika saya bangun pagi hari, saya masih merasakan tangannya di pundak saya.

“Kalau kamu sedang suntuk, kamu boleh memakanku,” Iwed menawarkan tubuhnya untuk aku makan. Tadi siang, ia meminta ijin padaku, apakah dia boleh memakan tubuhku. “Aku lagi sebel, sayang. Aku ingin makan orang. Aku boleh memakan kuping kamu ya…” pintanya merajuk. Aku mengangguk. Dan, dengan lembut, ia memakan kupingku sebelah kanan.

“Tadi siang, aku memilih kupingmu untuk aku makan. Sekarang, kamu mau memakan bagian mana dari tubuhku?” dia bertanya.
“Aku mau memakan bibirmu.”
“Kenapa bibirku?”
“Dari seluruh bagian tubuhmu, aku paling suka dengan bibirmu.”
“Kenapa begitu?”
“Sebab bibirmu bagus. Warnanya merah muda, dan selalu terlihat basah.”
“Hihihihihi…” Iwed tertawa manja. Mukanya tersipu, merona kemerahan.
“Ini, makanlah bibirku. Tapi makannya pelan-pelan ya,” gadis cantik mungil di depanku itu kemudian memejamkan matanya. Bibirnya setengah terbuka menantiku untuk melumatnya. Aku merengkuh kepalanya dengan lembut, membawanya dalam pelukanku. Perlahan, kudekatkan bibirku ke bibirnya.

Belum lagi kusentuh bibirnya, ia membuka matanya.
“Sayang, kalau kamu memakan bibirku, aku nanti tidak punya bibir lagi. Aku hanya memakan satu kupingmu sehingga kamu masih memilikinya satu lagi,” katanya setengah berbisik.
“Kalau begitu, aku hanya akan memakan sebagian saja dari bibirmu. Aku hanya akan memakan bibir bawahmu sebelah kanan saja,” napasku memburu. Jantungku berdegup keras. Tak kutunggu ia memejamkan mata waktu kulumat bibir merah mudanya yang basah. Rasanya manis dan hangat. Aku lupa kalau aku berjanji hanya akan memakan bibir bawahnya sebelah kanan.