Penerbangan Jakarta-Berlin sangat membosankan. Untung ada Ririn, teman dari republika, yang juga ikut dalam program ini. Ada teman ngobrol dan diskusi waktu bingung di tempat asing.

KLM Royal Dutch, Boeing 747-400, yang membawa kami dari Jakarta lepas landas pukul 19.00 WIB, transit sebentar di Kuala Lumpur, dan 12 jam nonstop melayang di udara menuju Amsterdam. Di Bandara Schipol Amsterdam kami harus ganti pesawat, kali ini Foker 100. Penerbangan Amsterdam – Berlin sekitar 1,5 jam. Kami mendarat di Bandara Tegel, Berlin sekitar pukul 09.30 waktu setempat atau pukul 15.30 WIB. Jadi, total waktu perjalanan Jakarta-Berlin adalah 20,5 jam.

Kami disambut udara musim dingin di Amsterdam. Keluar dari pesawat, meski berjalan dalam garbarata, angin dingin langsung terasa menusuk tulang. Dingin. Dingin sekali. Kami seperti berada dalam freezer raksasa.

Schipol adalah bandara besar dan mirip pusat perbelanjaan. Kami mendarat sekitar pukul 5.30 waktu setempat. Suasana masih sepi. Toko-toko banyak yang tutup. Orang-orang yang kami jumpai berbicara dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Mereka berbicara seperti kumur-kumur. Bahasa Belanda. Tidak ada orang tersenyum. Suasana di schipol sedingin udara di luar.

Kami harus berjalan cukup jauh untuk mencari gate pesawat yang menuju Berlin. Untunglah, bandara ini sangat bersahabat. Papan petunjuk tersebar di mana-mana lengkap dengan perkiraan waktu berapa lama kami tiba di sana dengan jalan kaki.

Seharusnya saya gembira di pagi yang dingin itu. Seseorang menyapa saya dan Ririn dengan ramahnya saat kami antre untuk masuk pesawat. Tapi, sejumput cemas tiba-tiba menyelinap di hati saya.

“Helo, I am sorry. Are you participants of shortcourse held by InWent?” seorang pria kulit hitam menyapa saya dan Ririn. Ada yang janggal pada wajahnya. Gigi bagian tengahnya tanggal dan membuat mulutnya seperti memiliki jendela saat berbicara.

“Yes, we are?” jawab saya setengah terkejut.
“Aha. It’s nice to see you. I am Joseph Kafumbe from Uganda,” orang itu tertawa sambil menepuk-nepuk bahu saya.
“How could you know that we are the participants of that course?” tanya saya heran.
“From your passport. You are from Indonesia and wanna go to Berlin. Just guessing..hehehe..”

Tidak baik memang menilai orang dari kulit luarnya. Pria Afrika ini sungguh legam kulitnya. Kepalanya plontos dan bola matanya agak kemerahan. Saya hanya mengenal orang Afrika dari aneka cerita kriminal di media massa Jakarta. Cilakanya, sebelum berangkat ke Berlin seorang teman yang pernah mengikuti program yang sama mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan orang-orang kulit hitam.

Teman saya bercerita, seorang kawannya dari Afrika tiba-tiba menghilang setelah lima belas hari di Berlin. Kawan Afrika ini sempat memohon dipinjamkan uang. Untung kawan saya itu tidak memberinya pinjaman. Usut punya usut pria Afrika itu ternyata memalsukan identitasnya demi bisa masuk Eropa jadi imigran gelap.

Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa Joseph bukan dari golongan itu. Orang Indonesia yang putih bersih dengan tampilan perlente pun banyak yang jadi copet di Cawang….

Semesta bekerja secara diam-diam di belakang kehidupan kita. Ada gelombang-gelombang energi yang bergerak sedemikian cepat dan saling silang pada satu ruang kehidupan yang tidak bisa kita lihat. Energi semesta menjawab semua doa dan melempar saya ke satu kota di jantung Eropa, Berlin.

”22 kilo, Pak. Kelebihan dua kilo,” Danang, petugas boarding KLM Royal Dutch di Bandara Soekarno-Hatta mengingatkan sambil melirik koper saya di atas timbangan.. “Kalo mau bayar juga gak apa-apa, Rp 400 ribu per kilo,” katanya lagi.
“Cuman kelebihan dua kilo gak bisa cincai boss,” bujuk saya.
“Wah, gak bisa Pak,”
“Cincailaaahh….,”
Danang menggeleng.

Sialan! Koper saya bongkar ulang. Jaket kulit saya keluarkan.

“Masih 21,3 Pak. Kayaknya mesti dibongkar lagi deh isinya,” petugas bandara itu kembali tersenyum.

Shit! Senyumnya jauh dari menyenangkan. Kali ini indomie keluar 10 bungkus. Dua toples kering teri tempe dan kentang ikut keluar.

“Masih berat, Pak,” kata Danang lagi. Angka di timbangan menunjuk angka 20,7.
“Halah, gak nyampe 1 kilo lebihnya,” saya merajuk.
Danang cuma menggeleng, lagi-lagi sambil tersenyum.

Indomie keluar lagi 10 bungkus. Kali ini sepatu juga keluar. Saya mulai berkeringat. Bolakbalik mengangkat koper seberat 20 kg lebih membuat pendingin udara di bandara serasa tidak bekerja. Kali ini saya selamat, 19,7 kg. Koper berat itu masuk bagasi.

”O iya, Pak, koper yang di bawa ke pesawat juga ditimbang. Maksimal 10 kg,” Danang kembali tersenyum.

Sore yang naas. Dua tas yang saya bawa masuk pesawat total beratnya 12 kg. Lagi, kelebihan 2 kg. Saya mengucapkan selamat tinggal pada quaker oat 1 kg, kopi, gula pasir, sambal pecel.

“Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja di Berlin tanpa barang-barang itu,” sebuah suara entah dari mana menggema di batin saya.

Hey, saya menghardik suara itu, ini bukan soal saya akan baik-baik saja atau tidak. Saya tahu semua akan okay tanpa semua itu. Ini soal ngangkat koper berat bolak-balik. Capek tauk!!!!!

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Presiden Indonesia keempat. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri.

Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Tjipta menyebut dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia. Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Celakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarier di luar negeri.

Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu. “Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York. Kan sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana.

Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai Direksi Indosat. “Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan kepada saya? Dia lebih cocok di Indosat Gus,” kata Laksamana.

Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang, ”Enggak bisa itu orang!” “Lho, kenapa, Gus?” Laksamana terperanjat.
”Dia bawa lari istri orang.”

Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itu pun sudah ada di Indonesia. Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya.

”Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari istri orang?” tanya Laksamana.
”Demi Allah Pak! Saya masih dengan istri saya yang sekarang,” jawab orang itu.

Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Kariernya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi gara-gara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal 207).

Gus Dur menangis meraung-raung

Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini, ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1.

Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur kariernya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur.

Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap “memeras” sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam “bantuan”, tapi dengan imbalan yang sangat besar.

Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB.

Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana. Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis.

AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur. “Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?” ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara.

Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. “Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!” ujar Gus Dur (hal 225).

Sejak saat itu dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.

(Bersambung)

Heru Margianto
————
*Tulisan ini ditayangkan di kompas.com,
Rabu, 17 Desember 2008 | 12:03 WIB

MEGAWATI Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Namun, diamnya Megawati sering kali kelewatan. Ia tetap tak bersuara, bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”

Mengapa Megawati lebih banyak diam?

Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu.

Seusai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri. “Lama amat sih kamu ngobrol-nya. Apa saja sih yang dibahas?”

”Enggak ada Mas. Kami ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!” jawab sang menteri sambil tertawa lebar (hal 272).

Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan, seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama. Namun, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus-menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam buku itu, dalam sidang kabinet, Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya meski perdebatan sudah berada pada tingkat “panas”.

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa antipemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar-bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da’i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot.

Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri.

Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata-kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati. Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya (hal 276).

Pendendam

Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia Ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir. Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.

Tjipta menulis, “Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis,” (hal 303). Ini semua karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, “Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.” (hal 288).

Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi. Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati.

Pada 12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua Pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis.

Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun.

Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDI-P. “Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (SBY) saya enggak bisa karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal 289).

(Bersambung)

Heru Margianto

————
*Tulisan ini ditayangkan di kompas.com,
Rabu, 17 Desember 2008 | 11:58 WIB

Kawan saya Savic, pemilik toko buku online (khatulistiwa.net) jau-jauh hari sudah berpromosi tentang buku terakhir tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Maryamah Karpov. Dia tahu betul buku ini dinanti-nanti banyak orang. Hanya mereka yang tidak mengikuti serial kisah ini saja yang tidak peduli dengan terbitnya Maryamah Karpov. Pembaca penasaran bagaimana kelanjutan nasib Lintang, Aling, dan Arai.

Setelah sempat kehabisan buku di Gramedia Citraland pada hari pertama diluncurkan, 28 November kemarin, akhirnya saya mendapatkan Maryamah di Gramedia Matraman. Di sana stok serial terakhir ini melimpah. Saya memburunya dengan antusias. Ada gairah yang meletup-letup di hati saya untuk segera mengunyah lembar demi lembar kelanjutan kisah hidup Si Ikal.

Saya butuh waktu tiga hari untuk menuntaskan kisah setebal 504 halaman ini. Padahal, untuk Laskar Pelangi setebal 534 halaman saya melahapnya hanya dalam waktu satu hari. Membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor menerbitkan gairah dan inspirasi di benak saya. Sementara, membaca Maryamah Karpov gairah itu sontak hilang, padam.

Kalau Laskar Pelangi adalah pemantik yang menyulut api maka Maryamah Karpov adalah mobil pemadam kebakaran yang memadamkan kobaran api itu. Belum sampai setengah halaman saya sudah malas melanjutkan. Tapi, toh saya memaksakan diri juga untuk menyelesaikannya, semata-mata demi menggenapkan bacaan saja. Itulah kenapa saya butuh waktu tiga hari.

Maryamah Karpov dibuka dengan kisah Ikal yang menghadapi sidang tesis pada bulan ramadhan di tengah rasa lapar karena waktu puasa yang panjang di Eropa. Ikal lulus dan pulang kampung di Belitong. Maryamah Karpov adalah kumpulan mozaik-mozaik kecil kisah Ikal kembali tinggal di Belitong.

Meski judulnya Maryamah Karpov jangan bayangkan bahwa buku ini bertutur tentang Mak Maryamah yang sosoknya sempat disinggung di buku kedua, Sang Pemimpi. Maryamah Karpov sendiri, kalau saya tidak salah ingat, hanya disebut 2 atau tiga kali. Hanya dijelaskan satu kalimat saja bahwa Mak Maryamah yang penjual kue ini pandai main catur layaknya sang juara dunia Anatoli Karpov. Karena itulah dia dipanggil Maryamah Karpov. That’s all.

Lha, lalu apa hubungannya judul buku itu dengan Ikal, Lintang, Arai dan Aling? Maryamah Karpov sesungguhnya adalah representasi dari kultur melayu Belitong yang membingkai kisah Ikal yang sangat klise (baca: tema jadul ala HC Andersen bangetszzzzz) memburu Aling pujaan hatinya. Ingat kisah-kisah dongeng karangan HC Andersen tentang pangeran yang rela bertempur melawan naga demi mendapatkan sang putri? Persis seperti itulah kisah akhir tetralogi ini.

Jadi, dalam masyarakat melayu Belitong ada kebiasaan memberi nama julukan pada setiap orang. Asal muasal julukan itu bisa karena ciri-ciri fisiknya, profesinya, kebiasaanya, atau kejadian tertentu terkait orang itu. Muas, karena kulitnya gelap lalu dipanggil Muas Petang 30. Rustam dijuluki Rustam Simpan Pinjam karena bekerja di Koperasi Meskapai Timah. Sementara Munawir karena ia juru bicara Mesjid Al-Himkah yang selalu mengumumkan berita kematian dipanggil Munawir Berita Buruk. Begitulah, ada banyak tokoh dengan julukannya masing-masing.

Di Belitong, setelah menempuh pendidikan yang sangat tinggi di Eropa sono, yang diimpikannya sejak masa remajanya, yang dicapainya dengan darah dan air mata, yang kisah perjuangannya menginspirasi banyak orang, ia teronggok menjadi lelaki tak berguna yang terus terobsesi dengan seorang gadis Suku Ho Pho bernama Aling. Obsesi orang jatuh cinta itu sebenarnya sih sah-sah saja, namun jika berlebihan malah serupa penyakit gila nomer 69.

Mozaik-mozaik kehidupan Ikal di tengan masyarakat melayu di kampungnya di Belitong sebenarnya dikisahkan kocak dengan gaya khas Andrea. Namun, ketika cerita mulai bertutur tentang obsesi cinta, sosok Ikal tiba-tiba menjadi aneh bagi saya.

Selama 7 bulan ia berkutat membuat perahu. Lintang yang jenius membantunya membuat konstruksi perahu hanya dengan cara memejamkan mata dan menuliskannya di atas kertas tembakau. Ikal dengan heroiknya menyelam ke dasar sungai yang dalam untuk menemukan perahu negeri tiongkok yang terkubur ratusan tahun. Setelah itu ia berlayar mengarungi samudera ganas menembus topan badai sementara Kaum Sawang, nelayan paling berpengalaman pun tidak berani melaut. Tidak hanya itu saja, Ikal pun harus berhadapan dengan kaum bajak laut demi menemukan “Cinderela”-nya yang “hilang” selama belasan tahun.

Alkisah, setelah menempuh topan badai di tengah laut, dan menerabas keganasan kaum bajak laut, Ikal menemukan sosok Aling terbaring sakit di sebuah gubuk reot di pulau terpecil. Aling membalikkan badan dan berbisik, “Ikal….” Hahahahahahahahahaha……Andrea kebanyakan nonton pilm nih…..

Sebagai kisah yang menghibur di waktu senggang bolehlah buku ini dibaca. Anda akan berkenalan dengan kultur masyarakat melayu Belitong dan menikmati kelucuan di sana-sini. Tapi, kalau Anda mengharapkan mendapat inspirasi seperti halnya Laskar Pelangi Anda akan kecewa.

Minggu lalu, lewat tengah malam dua buah imel masuk ke inbox saya. Salah satu imel isinya begini:

Dear Johanes Heru,

The selection procedure for the Multimedia programme is now finished. We are pleased to inform you that you have been accepted to attend our course on ”Multimedia and online journalism” taking place in Berlin from February 02 to April 03, 2009.

Hahahahaha…seperti orang gila saya tertawa sendiri malam itu. Imel ini memang saya nanti-nantikan dengan hati berdebar. Otak saya perlu diupdate. Sudah terlalu lama otak ini membeku oleh rutinitas. Tak ada pula waktu luang barang sedikit untuk sekadar memuaskan diri dengan aneka buku yang sangat ingin saya baca.

So, guys, next year i will go to Berlin. My wife said, every night she found me sleeping with a smile on my face….:)

Suatu siang, hampir setahun yang lalu

Mbonk : Selamat siang Romo…

Von Magnis : Siang…

Mbonk : Saya Mbonk, Romo, mantan murid Romo…bla…bla…(intinya minta recomendation letter for scholarship)

Von Magnis : Ok. Tidak soal. Tolong kamu bikin data identitas diri kamu terdiri dari Nama lengkap, tempat tanggal lahir, aktivitas selama di kampus, dan IPK. Juga foto kamu, supaya saya bisa ingat-ingat dirimu. Taruh saja di kotak saya.

Mbonk : Baik Romo, terima kasih banyak

Kotak saya. Ada yang unik dalam cara berkomunikasi antara mahasiswa dan para dosen di kampus saya. Jadi, pada setiap pintu ruang dosen menempelah sebuah kotak terbuka dari kayu. Segala bentuk komunikasi dilakukan melalui kotak itu. Surat, skripsi, daftar nilai, dan aneka tetek bengek urusan keluar masuk di kotak kayu itu.

Komunikasi tradisional itu masih dilestarikan hingga sekarang di zaman internet yang telah meluluhlantakkan batas ruang dan waktu.

Senin

Hari menjelang sore ketika saya kembali menginjakkan kaki di almamater tercinta. Bentuk kampus saya sudah berubah sejak saya tinggal hampir 10 tahun yang lalu. Ruangan-ruangan dosen juga sudah berpindah tempat.

“Ruangan Romo Magnis di mana ya Mbak?” tanya saya pada Mbak Nunuk, pegawai sekretariat.
“Ada perlu apa?”
“Mau menaruh surat. Saya janji menaruh surat ini di kotak Romo Magnis.”
“Sini, titip saya aja.”

Surat permohonan berpindah tangan. Dalam surat saya sebutkan bahwa saya akan datang ke kampus setiap hari Rabu hingga Jumat untuk mengecek kotak surat Romo. Saya pun bergegas pulang.


Selasa

Saya mendapat informasi Romo Magnis menjadi pembicara di sebuah hotel di Jakarta. Saya pun segera meluncur. Niat hati ingin setor muka dan menanyakan ke Romo apakah surat saya sudah dibacanya.

Hanya terpaut 10 menit, Romo sudah pergi meninggalkan hotel. Saya kecele. Ia memajukan jadwalnya sebagai pembicara dan bergegas pulang setelah itu karena harus menyiapkan diri untuk suatu urusan ke luar negeri.

Saya telepon kampus, khawatir Romo akan pergi dalam waktu yang lama. Saya terdesak tenggat waktu untuk segera menyerahkan seluruh berkas administratif ke pihak kedutaan negara sahabat.

Suara di seberang menginformasikan Romo pergi ke luar negeri sampai tanggal 9 November. Ah, masih aman. Masih ada waktu.

Rabu

Saya agak malas datang ke kampus untuk mengecek kotak surat di pintu Romo. Pikir saya, surat permohonan baru saya sampaikan hari Senin. Pastilah ia sibuk. Apalagi ia ada urusan ke luar negeri. Paling surat rekomendasi baru akan dibuatkan minggu depan.

Tapi toh saya pergi juga ke kampus, hanya untuk menepati janji moral karena saya telanjur mengatakan akan mengecek kotak surat setiap hari Rabu hingga Jumat.

“Romo Magnis ke luar negeri. Paling minggu depan baru jadi suratnya,” kata Mas Rumadi, petugas keamanan kampus. Senin kemarin kami sempat ngobrol dan saya ceritakan maksud kedatangan saya ke kampus.

“Iya Mas. Ngecek ajalah, siapa tahu dah jadi,” jawab saya.

Saya sempat kesasar naik ke lantai dua. Ternyata ruangan Romo di lantai satu di gedung baru di belakang kampus. Sudah banyak yang berubah di kampus ini. Kampus boleh berubah, ruangan-ruangan boleh berpindah tempat, tapi kotak-kotak kayu masih ada menempel di setiap pintu ruang dosen lengkap dengan klip di pinggirnya. Ruangan Romo Magnis terletak paling ujung di gedung pascasarjana. Entah kenapa lampu di di dalam gedung tidak dinyalakan sehingga koridor gelap.

Saya meraba-raba kotak kayu tanpa berharap menemukan surat untuk saya. Ada dua amplop. Satu amplop berwarna coklat ditujukan untuk Romo Magnis. Satu amplop lagi berwarna putih dengan tulisan tangan sulit terbaca di mukanya. Saya mencari-cari cahaya untuk membaca tulisan tangan itu.

Ajegile! Tulisan tangan itu adalah nama saya. Seketika dada saya berdebar. Bergegas saya keluar gedung mencari cahaya terang.

LETTER OF RECOMMENDATION
TO WHOM IT MAY CONCERN

……….He is a person of human and political interest, open minded and was, active in the anti-Soeharto student movement……

Romo Magnis wrote the letter by himself. Sejumlah orang yang saya mintai rekomendasi meminta saya untuk mengarangkan buat mereka. Tapi Von Magnis tidak. Tanpa telepon, tanpa imel, hanya kotak kayu, dan surat itu kini sudah ada di tangan saya. Pastur Jerman yang luar biasa!

”Uang dengan cepat kehilangan maknanya sebagai sistem ukuran bagi produksi dan nilai di dunia nyata. Uang kini semakin tidak bersentuhan dengan realitas.

Hezel Henderson
Paradigms in Progress: Life Beyond Economics
Knowledge System, 1991.

Rabu, 8 Oktober Bursa Efek Indonesia menutup sementara perdagangannya. Katanya, Indeks Harga Saham Gabungan terpelanting sampai 10,38 persen. Aku enggak ngerti babarblas soal ekonomi. Enggak tahu juga apa makna angka 10,38 persen itu.

Kata orang, ini semua imbas dari krisis yang terjadi di Amerika. Di sana ribuan triliun uang telah berubah menjadi semen, bata dan cat. Repotnya, uang-uang itu berasal dari berbagai belahan dunia.

Sejumlah lembaga keuangan di sono yang bertanggunjawab terhadap uang yang dipinjamnya dari berbagai belahan dunia akhirnya bangkrut. Uang telah berubah menjadi batu. Maka, untuk memenuhi kebutuhan uang dicairkanlah investasi di sejumlah negara termasuk Indonesia. Repotnya, investor lokal panik dan ramai-ramai menjual sahamnya. Terjadilah angka 10,38 persen itu.

Cerita penutupan ini makin ramai, karena tidak hanya terjadi di Indonesia. Lantai bursa sejumlah negara lain juga menutup sementara perdagangannya. Itu semua gara-gara kredit macet perumahan di Amerika. Begitu kata orang-orang. Aku ya sok manggut-manggut saja seolah-olah mengerti.

Aku tidak takjub dengan peristiwa yang disebut sebagai sejarah bursa saham di Indonesia ini, karena aku tidak mengerti. Tapi, aku sangat takjub dengan jejaring sistem keuangan dunia. Dunia manusia membangun jejaringnya sendiri menyerupai tubuh dan kosmos. Tubuh itu jika si jempol kaki tertusuk duri, kepala ikut pening. Demikian juga kosmos. Kerusakan pada satu bagian merusak pula secara sistemik bagian lainnya. Tebanglah seluruh hutan di Jawa Barat, maka Jakarta akan terbenam oleh banjir.

Jejaring ekonomi ini pastilah bermula dari jejaring sederhan perdagangan antar pulau dengan sampan di zaman bahaeula dulu. Terkenang aku akan Columbus yang membuktikan bahwa dunia ini terukur. Terbayang pula ribuan perahu yang mengarungi samudera sesudahnya demi cita-cita kolonialisme. Perahu-perahu ini kemudian menghubungkan bagian demi bagian planet ini dalam jejaring perdagangan.

Dulu semuanya real. Pedagang cengkeh langsung mendapatkan uang dari pembelinya. Begitu pula, setiap pembeli pun harus membawa segepok uang kalau ingin belanja dalam jumlah banyak.

Dunia yang real adalah masa lalu.Zaman berubah demikian luar biasa membawa peradaban pada dunia virtual. Yang bermain hanya simbol. Pedagang dan pembeli hampir tidak pernah melihat uang yang menjadi alat tukar perdagangan ketika melakukan transaksi.

Untuk membeli sebungkus rokok seharga Rp 8 ribu Anda hanya perlu menggesek sebuah kartu dan memasukkan sejumlah nomor rahasia pada sebuah alat. Nilai uang Anda hanya deretan angka yang dapat Anda lihat melalui telepon seluler Anda dan Anda tidak perlu menggenggam deretan angka uang itu dalam wujudnya yang baheula di zaman Colombus.

Inilah dunia virtual. Virtual itu semu bagaikan fatamorgana. Tapi, ia juga nyata eksistensial. Dalam wujud baru realitas virtual ini lalu lintas uang pun melebur dalam cara-cara yang virtual pula melalui internet dan komunikasi satelit. Bayangkan, lalu lintas uang adalah lalu lintas angka-angka yang terjadi melalui serat optik dan gelombang-gelombang fisika yang mengapung di udara. Dan itu semua tidak kasatmata. Hebatnya lagi, semua itu bisa dikontrol dari kursi Anda di belakang meja tanpa perlu Anda pergi ke mana-mana.

Dalam era virtual ini, menggelembungkan uang dengan cara membeli anak sapi dan menunggunya besar untuk kemudian dijual adalah cara kuno. Sistem ekonomi virtual memungkinkan uang dikembangkan dengan cara spekulasi, permainan mata uang, permainan perbedaan tingkat suku bunga dan betuk-bentuk lain perdagangan mata uang. Semuanya dimungkinkan karena lalu lintas jaman virtual berlangsung begitu cepat lebih cepat dari kedipan mata. Dan, sekali lagi, Anda tidak pernah melihat uang. Anda hanya melihat simbol.

Dan, simbol-simbol yang hilir mudik di lantai bursa sekarang sedang menggegerkan dunia.

Suatu hari Eyang Is, (neneknya isteriku), berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebetulan Fajar, sepupuku, juga sedang main ke rumah. Ia membawa pacarnya, Intan. Saat ngobrol-ngobrol, Fajar baru ngeh kalau Eyang Is tinggal di Semarang. Dia pun langsung nyeletuk sambil menunjuk Intan.

“Ini juga orang Semarang, Yang.”
“Semarangnya mana?” tanya Eyang.
“Erlangga, Yang.”
“Lho, kamu anaknya siapa?” Eyang terlihat surprise. Matanya membelalak.
“Saya cucunya, Eyang Tjip.”
“Ya ampuuunnn…kamu cucunya Pak Tjip toh!” Eyang geleng-geleng kepala.
“Lho, Eyang kenal Eyang Tjip?” Intan terlihat heran.
“Ya kenal. Rumah Eyang dulu di Erlangga, tapi sekarang sudah dijual. Eyang tinggal lama sekali di sana. Salam ya buat Pak Tjip. Bilang dari Eyang Ismail.”

Mas Gatot, suami kakak iparku ikut nimbrung.

“Aku dulu suka cari ikan di selokan depan rumah Eyangmu. Eyang putrimu galak kan?”
“Iya,” Intan cengar-cengir.

Dunia sempit sekali. Mas Gatot juga warga Erlangga. Aku terkenang peristiwa kecil ini saat baca tulisan Pak Tjip di Kompas. Tulisan bagus tentang mudik.

___________________

Indonesia Mudik

Satjipto Rahardjo

Mudik adalah tema yang tepat untuk menggambarkan hiruk pikuk Idul Fitri saat ini. Orang berebut tiket bus, kereta api, dan pesawat untuk kembali ke kampung halaman dan dilakukan dengan ”mati-matian”.

Magnet kampung halaman amat kuat sehingga sering mengabaikan akal sehat. Mangan ora mangan, anggere kumpul (biar tidak makan yang penting kumpul ngariyung).

Mudik mencari fitrah

Kampung halaman bagai magnet besar karena tidak sekadar kembali ke rumah, tetapi ke suasana mistis yang mengelilingi rumah atau kampung halaman. Di situ ada pemuasan kerinduan kepada masa lalu yang penuh tawa dan polos, sebuah daya tarik yang tak dapat dijelaskan dengan akal. Kampung menjadi simbol otentisitas kehidupan. Mudik adalah simbol pergerakan ”dari- masyarakat-ke-komunitas”. Jakarta itu masyarakat, tetapi Kebumen, Sragen, Tuban, Grobogan, dan Trenggalek adalah komunitas yang dirasakan lebih otentik, lebih kental daripada masyarakat.

Mudik Lebaran tahun ini sebaiknya menjadi inspirasi bagi bangsa tentang perlunya menemukan otentisitas kehidupannya. Banyak tanggal pada tahun 2008 berbicara tentang mudik atau kembali ke kampung. Kita mudik ke tahun 1908 saat organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan. Mudik ke tahun 1928 saat ”Sumpah Pemuda” (SP) dikumadangkan. Kembali ke BO dan SP untuk menemukan, mencium, dan menghirup kembali aroma berbangsa yang otentik dan segar. Kita ingin mudik karena banyak hal otentik yang sudah hilang dari kehidupan berbangsa. Kita ingin kembali ke ”sangkan paraning (asal muasal) Indonesia”.

Semua hari itu memalingkan hati ke belakang. Jika para Tofflerian (dari futurolog Alvin Toffler) berbicara tentang ”guncangan masa depan”, kita ingin mundur ke belakang karena kekuatan ”magnet masa lalu” itu.

Bangsa kita memiliki banyak kearifan dan filsafat lokal untuk mengekspresikan suasana mistis, seperti sangkan paraning dumadi (dari mana dan ke mana kehidupan manusia). Almarhum Prof Soemantri Hardjoprakoso, ahli ”psikiatri Jawa” dan seorang Jungian (dari Carl Gustav Jung), menggunakan kata oergreest, Suksma Kawekas, jiwa dan zat yang menjadi asal segalanya.

Mudik itu mencari fitrah, keaslian, sesudah kesasar dalam hidup. Dalam sindrom mudik, berdesak-desakan konsepsi yang berputar di sekitar otensitas atau keaslian itu. Saat manusia terlempar ke dunia dengan centang-perenangnya, mereka juga kehilangan kompas kehidupan. Maka, orang memburu kompas yang sudah hilang. Jung mengatakan, sesudah muncul ”kesadaran individual” dengan berbagai akibat yang menderitakan, orang merindukan ”kesadaran kolektif”, ke suasana damai.

Fitrah manusia

Indonesia menghadapi aneka krisis. Kita bingung, mau ke mana dan apa yang salah? Pada saat seperti itu, fenomena mudik menjadi sumber inspirasi.

Puasa sebulan menjadi momentum untuk tafakur atau berkontemplasi. Ujung tafakur membawa kita kembali kepada sangkan paraning dumadi/urip. Diterjemahkan secara lain, kita ingin hidup fitri, jujur, dan beramanah. Bagi manusia yang hidup dalam ”comberan dunia”, sangkan paran itu menjadi suatu oase penuh keindahan, kejujuran, dan kesalehan di tengah ”zaman edan” yang penuh kepalsuan dan keserakahan. Filsafat urip mung mampir ngombe (hidup hanya singgah untuk minum) sudah dirobek menjadi hidup untuk makan minum sekenyangnya dan menimbun kekayaan sebanyak mungkin dengan segala cara.

Kontemplasi yang jujur membawa kita kepada pengakuan, banyak orang Indonesia tidak hidup dan bekerja secara otentik dan beramanah. Mengapa harus korupsi jika hidup ini hanya sebentar? Mengapa harus menjadi kepala daerah jika otentisitas kita adalah ahli dalam menjahit atau bercocok tanam? Korupsi mengabaikan kejujuran dan keamanahan menjalankan pekerjaan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, dan kepala daerah dianggap lebih gemerlap daripada petani, guru, atau penjaga pintu kereta api. Akibatnya orang melecehkan pekerjaan guru, petani, penyapu jalan, dan lainnya. Pekerjaan asal dijalankan. Orang meninggalkan fitrahnya sebagai tukang jahit, petani, dan guru. Pekerjaan menjadi palsu.

Senyampang dalam suasana Idul Fitri, kita harus kembali kepada fitrah, otentisitas masing- masing. Kita bertindak otentik dan beramanah dalam pekerjaan masing-masing. Pekerjaan sekecil apa pun dijalankan dengan penuh martabat (dignity). Mari menjadikan Indonesia mudik dan kembali menjadi bangsa yang penuh otentisitas.

Satjipto Rahardjo Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Banyak orang bertanya kenapa Mbonk? Panjang ceritanya. Aku enggan. Tapi, banyak orang tidak percaya kalau ceritanya panjang. Mereka terus memaksaku untuk bercerita. Dan, selalu terjadi, belum selesai ceritaku mereka sudah tertidur dengan iler di mulutnya.

Maka, daripada aku terus bercerita dan terus ditinggal tidur, baiklah aku tuliskan di sini. Sehingga, kalau ada lagi yang bertanya, aku tinggal bilang, “Buka saja bloggku.” Kalau nanti mereka tertidur di depan komputer itu sudah bukan lagi urusanku.

Baiklah, mari kita mulai cerita ini dengan mesin pencari paling top di kolong langit: google. Ketiklah kata “Mbonk” di google. Anda akan mendapatkan dua laman di urutan pertama dan kedua adalah blog ini dan sebuah blog di multiply (abaikan laman di luar dua itu). Masing-masing beralamat “Mbonk”. Dua blog itu milik orang yang berbeda. Blog ini milik Johanes Heru “Mbonk” Margianto, sementara pemilik multiply adalah Fransiskus Xaverius Sigit “Mbonk” Eko Widyananto.

Nah, apakah ada hubungannya antara “Mbonk” pemilik blog ini dan “Mbonk” multiply? Ada. Bahkan sangat erat.

Begini ceritanya…..

“Mbonk Sigit” menghabiskan tiga tahun pendidikan SMA-nya di sebuah sekolah berasrama di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Di asrama itu ada tradisi mengganti nama asli dengan nama julukan. Setiap orang mendapat nama julukan. Entah kenapa, komunitas tidak rela kita mengenakan nama panggilan indah yang diberikan orangtua.

Biasanya nama julukan diberikan karena bentuk tubuh atau perilaku orang itu. Ada teman yang mendapat julukan “Capung” karena kacamatanya tebal sekali sehingga matanya mirip capung. Ada yang dipanggil “Wawut” (wajah semrawut) karena wajahnya memang betul-betul kacau balau. Ada lagi yang mendapat anugerah nama “Cimot” karena tampang dan gerak-geriknya dianggap mirip dengan Cimot adiknya Cuplis. Nah, Sigit pun mendapat kehormatan menyandang nama “Mbonk” di asrama itu. Sigit sudah menjelaskan di blognya tentang kenapa dia mendapat “gelar” “Mbonk”

Tahun 1991 Sigit lulus dan hengkang dari asrama itu. Sementara, jalan hidup menuntunku masuk ke sana. Belum sebulan menjadi warga asrama, suatu siang dua orang kakak kelas menghampiriku. Wajahnya serius. Mereka mengamati anatomi tubuhku seperti mengamati jaringan klorofil di bawah miskroskop. Tak lama wajah mereka berseri-seri. Mereka seperti mendapatkan apa yang mereka cari. Tampangku yang lugu dengan kacamata minus bertengger di atas hidung divonis oleh mereka mirip dengan tampang “Mbonk Sigit”.

Dua orang itu lantas berseru-seru keliling asrama layaknya Archimedes menemukan rumus menghitung volume air. “Reinkarnasi! Reinkarnasi! Reinkarnasi!” Asrama geger. Semua penghuni asrama menelanjangi diriku dengan tatapan matanya. Vonis itupun lantas diamini. Aku cuma bisa bingung enggak mengerti. Siapa itu “Mbonk” yang julukannya aku wariskan.

Aku sendiri tidak kenal dengan “Mbonk Sigit” sebelumnya. Karena ketika aku masuk dia lulus. Jadi aku tidak bisa mengklarifikasi apakah vonis itu benar atau tidak. Tapi, kalaupun Anda tidak setuju dengan pandangan komunitas Anda tidak mungkin sanggup menolaknya. (Beberapa tahun kemudian aku akhirnya bertemu juga dengan “Mbonk Sigit”. Kalau boleh aku membela diri, sungguh vonis itu jauh dari benar, sejauh barat dari timur.)

Begitulah kemudian, semua penghuni asrama memanggilku “Mbonk”. Janggal dan asing mulanya kudengar orang memanggilku dengan nama itu. Namun, lambat laun aku mulai terbiasa. Nama “Heru” perlahan namun pasti lenyap dan mulai dilupakan teman-teman. Kalau orangtuaku berkunjung ke asrama untuk menjenguk anaknya tercinta dan mereka bilang ingin bertemu “Heru” pasti akan dijawab,”Maaf Pak, Bu, di sini enggak ada yang namanya Heru.” Mereka tidak sedang mengerjai orangtuaku, tapi memang mereka sudah lupa dengan identitas itu.

Lulus SMA aku berniat menanggalkan nama panggilan ini. Aku berjuang keras jungkir balik untuk menghidupkan kembali nama lahirku. Tapi, nasib tidak berpihak. Selepas SMA aku satu kampus dengan sejumlah teman asrama yang sudah telanjur mengenalku sebagai “Mbonk”. Setengah mati aku berusaha memperkenalkan diriku kepada teman-teman baru sebagai “Heru”. Tapi, teman-teman asrama satu kampus selalu mengatakan pada semua orang, “Bohong, namanya bukan Heru, Mbonk!.” Nah lu. Pusing kan…

Cerita ini belum berakhir. Kutukan belum selesai. Bahkan ketika masuk kerja pun aku tetap tidak diizinkan oleh “Sang Pemilik Hidup” untuk mengenakan nama “Heru”, identitas yang diberikan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuaku. Jadi, waktu hari pertama aku masuk kerja dan memperkenalkan diri sebagai “Heru”, takdir kehidupan langsung menolaknya.

“Wah, ada dua Heru di kantor ini. Ya sudah, kamu Heru-B ya, yang satu lagi Heru-A karena dia karyawan lama di sini,” kata Mas Ninok bossku waktu itu.

Alamakjan! Gila apa Heru-B. Kayak spesies yang baru ditemukan ajah.
“Ya sudah Mas, panggil saja saya Mbonk,” kataku tanpa gairah.

Untuk e-mail kantor pun aku tidak bisa pake identitas “Heru” karena sudah dipakai si Heru-A. Terus identitas e-mail apa donk? Herumargianto? Halah panjang amat. Johanesheru? Panjang juga dodol! Johanesherumargianto? Mati ajah luh.

“mbonk@kompas.com,” kataku lirih pada Murfi si tukang IT sambil menahan pedih di hati.

Cilakanya, aku menemukan jodohku di kantor ini. Wanita yang menjadi isteriku itu lantas memperkenalkan diriku sebagai “Mbonk” kepada keluarga besarnya. Lengkaplah sudah duniaku.

Hei….belum tidur kan….

Akhirnya, aku menerima “Mbonk” sebagai takdirku. Setelah ditelusuri ternyata tidak melenceng dari sejarah hidupku. “Mbonk Sigit” dalam paparanya “Kenapa Mesti Mbonk?” memberi pencerahan. Menurutnya, dalam bahasa Jawa “Mbonk” itu artinya jalan. Aku boleh berlega hati karena makna nama asliku memang demikian.

Orangtuaku tidak sembarang memberi nama anaknya. Maknanya historis. Empiris. Aku lahir pagi-pagi buta. Hari masih gelap. Belum sampai rumah sakit aku sudah mbrojol di jalan. Bapakku panik. Melolonglah ia sekencang-kencangnya, ”Tolooooonnnngggg….. tolooooongggg….”

Orang-orang sekampung bangun. Gempar. Mereka pikir ada maling. Mereka keluar rumah membawa parang, pacul, linggis, dan aneka senjata tajam. Pagi itu kampung dilanda huru-hara. Anak lelaki lahir di jalan dikira ada maling. Kenangan akan hari itu lantas dibadikan menjadi namaku.

Karena orangtuaku Jawa disematkanlah “Margi” pada namaku yang artinya “Jalan”. Karena aku anak lelaki ditambahkanlah “Anto”. Huru-hara hari itu lantas dikekalkan sebagai “Heru”. Karena aku lahir bertepatan dengan perayaan Santo Johanes Maria Vianney, maka jadilah nama orang suci dari Desa Ars di Paris sono sebagai nama baptisku.

Jadilah namaku Johanes Heru Margianto. Artinya, anak lelaki yang lahir di jalan pada pagi-pagi buta dan membuat hura-hara. Ia dibaptis dengan nama Johanes Maria Vianney. Harapannya, semoga teladan kesederhanaan pastur suci dari Ars itu selalu menerangi jalan anak lelaki yang lahir di hari gelap ini.

Hei…hei….bangun…hapus dulu iler di mulutmu itu…Kan sudah kubilang cerita ini panjang….